Yang Pertama Selalu Berkesan

Waktu di Ga Ninh Bình sudah menunjukkan jam 8 malam ketika saya sampai di sana. Sial, kereta menuju Hanoi baru berangkat setengah jam yang lalu. Daaan.. kereta selanjutnya baru akan berangkat ketika hari berganti, menjelang jam 2 dini hari. Tapi, ya, apa boleh buat? Rasanya tidak mungkin mencari penginapan untuk bermalam waktu itu. Sebab penerbangan saya pulang ke Jakarta—lewat Kuala Lumpur—dijadwalkan pada pagi berikutnya, jam 9. Tidak mungkin terkejar kalau harus ke Ibu Kota dengan bis pertama pun.

Keinginan memang tidak selalu harus dipenuhi, apalagi yang muncul sekelebat. Sembari menunggu kereta dini hari, saya hanya bisa menertawai diri mengingat alasan berkunjung ke Ninh Binh. Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat saya memutar memori kunjungan ke Vietnam yang bermula tujuh hari sebelumnya. Yang pertama memang selalu berkesan.

***

5b
Pulang!

Dua setengah jam sebelumnya, Pak Taksi yang menjemput saya dari Trang An Landscape Complex (TALC) menurunkan saya di pinggir jalan utama. Dari situ, saya bisa mencegat bus untuk kembali ke Hanoi. Bus antarkota memang selalu lewat situ, tetapi hanya sampai jam 6 sore. Zzz. Saya pun keukeuh mencoba peruntungan karena waktu sudah mepet.

Hingga 6.30, tidak ada bus yang lewat. Kalaupun ada, tujuannya bukan ke Hanoi. Saya sebenarnya bakal santai-santai saja kalau besoknya tidak harus pulang ke Jakarta. Malah senang kalau bisa memperpanjang liburan.

Berbekal Maps yang offline, saya cari terminal bus sembari bertanya pada orang-orang yang ditemui. Masalahnya, kota ini adalah kota kecil yang belum terlalu terpapar pariwisata. Susah banget cari orang yang bisa berbahasa Inggris. Saya ke minimarket dan mencoba berkomunikasi dengan mbak penjaganya. Nihil. Dia tidak mengerti apa yang saya katakan, meski sudah berbekal Google Translate di komputer dia dan emotikon di ponsel saya. Beruntung seorang bocah yang sama-sama sedang jajan mengerti bahasa Inggris dan menyampaikan pertanyaan saya. Nihil. Sudah tidak ada bus katanya.

Saya ingat tadi siang melalui persimpangan besar dan di sana ada beberapa gerai penjual tiket bus. Sampai, tapi enggak ada kehidupan dan toko-tokonya sudah tutup semua. Alhasil, saya balik lagi ke arah TALC dengan gundah gulana. Mana gerimis pula! Lalu, mampir ke warung kaki lima dan mencoba tanya-tanya lagi. Mas penjaganya lihat jam dan menyilangkan tangan di depan dada. Sudah enggak bakal ada bus, maksudnya.

Ah, pasti ada, saya masih optimis. Saya tanya lokasi terminal dan jalan lagi ke arah yang ditunjukkannya. Jauh, cuy! Sudah jalan beberapa lama, enggak ketemu juga itu terminal. Akhirnya, saya cegat taksi dan menunjukkan gambar bus. Eh, masnya paham. *terharu* Tapi terminal bus memang sudah gelap, tidak ada kehidupan.

Balik lagi, deh. Rencana kali ini adalah ke arah pintu masuk TALC atau cari hotel dan tanya di situ. Sembari terus-terusan lihat Maps, saya lihat ada tanda stasiun. Berarti mungkin ada kereta yang menuju Ibu Kota. Hore! Dengan berbunga-bunga, saya mencoba mencari lokasi stasiun dan sampai di titik yang ditunjukkan. Tapi, kok, enggak ada, sih? Tanya bapak ojek, dia juga tidak tahu. Ya, sudah, saya jalan lagi. Sampai akhirnya bertemu orang yang baru turun bus dan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Eh tapi dia juga enggak tahu di mana posisi stasiun.

NAH, saat itulah kesedihan bertambah parah.

Ketika sedang berjalan, ada mas-mas akamsi yang mengikuti dan tanya-tanya. Makin lama, saya merasa terganggu. Akhirnya saya menyeberang untuk menghindarinya karena mau jawab dan tanya juga dia enggak ngerti.

Beberapa setelah menyeberang, dia datang lagi. Tanya-tanya lagi. Kali ini, pakai mencolek di bagian pinggang yang tertutup selendang. Saya makin kesal dan teriak “No!”. Saya lalu mempercepat langkah menuju sebuah toko sampai yakin benar dia hilang dari pandangan. Sebagai tamu di negara orang, saya masih mikir untuk tidak membalas perlakuannya dengan tindakan fisik.

Rasanya campur aduk, deh. Saya, yang awalnya cuma khawatir tidak bisa sampai Hanoi besok pagi, jadi panik dan takut kalau si mas-mas tadi datang lagi. Hujan pula. Sedihnya berlipat-lipat dan merasa tolol karena mengambil langkah impulsif hanya karena tidak jadi ke Halong Bay. Tapi, toh, penyesalan juga tidak berguna. Mau marah juga sama siapa? Si Mas Akamsi sudah hilang entah ke mana.

Setelah berjalan berkilo-kilo lagi, saya menyerah dan mencegat taksi. Saya mengucap Ga Ninh Bình sembari menunjukkan emotikon kereta dengan harapan dia tahu di mana stasiun berada (Ga dalam bahasa Vietnam berarti stasiun). PUJI TUHAN! Dia mengantarkan saya ke tempat yang tepat, bahagianya bukan main. Tapi ternyata…  kereta baru berangkat setengah jam sebelumnya.

6.jpg
Ga Ninh Binh

Jadilah saya menunggu berjam-jam di situ ditemani suara hujan yang makin menderas dan gemuruh bersahut-sahutan. Lampu stasiun pun sempat mati dan bapak penjaganya kehabisan solar untuk generator. Untungnya tidak lama dan beberapa traveler lain mulai datang untuk menunggu kereta ke selatan. Ketika kereta mereka sudah datang, kereta saya ke utara masih sejam kemudian. Nikmati saja, sembari berusaha ngobrol dengan bapak penjaga yang pulang hujan-hujanan beli solar. Ha. Ha. Ha.

Lalu baru check in ke kamar hotel jam 4 pagi dan jam 7 harus berangkat ke bandara. Yha.

Bandung, Desember 2016-Januari 2017

Advertisements

Vakansi Sendiri: Vietnam (5) – Ninh Bình

Sehari sebelumnya, saya kehabisan tiket kereta dari Hue ke Hanoi. Alhasil, satu-satunya cara untuk secepatnya mencapai Ibu Kota adalah dengan menaiki sleeper bus yang dijadwalkan tiba di tujuan jam 6 pagi. Sejam kemudian—seharusnya—saya sudah duduk santai di bus menuju Ha Long Bay. Sayangnya, rencana itu terlalu ideal. Enggak mungkin perjalanan hubungan saya sesempurna itu, hahaha.

Setelah menghabiskan malam di perjalanan, saya sampai di (pinggiran) Hanoi jam 6.30. Masih sempatlah harusnya buru-buru ke penginapan dan memaksakan diri ikut tur ke daerah wajib kunjung di Vietnam itu. Tapi entah di manalah pengemudi bus itu menurunkan penumpang, yang pasti bukan di pusat Kota Hanoi. Akhirnya, saya dan seorang pelancong dari Portugal memutuskan untuk berbagi taksi menuju penginapan kami masing-masing. Baru 500 meter, si sopir berbuat ulah. Kami harus berdebat tentang argo kuda yang terpasang di dashboard taksinya dan tawar-menawar ongkos ke tengah kota. Bubar sudah impian leha-leha di Ha Long Bay sebagai penutup liburan kali itu.

Baiklah, ganti ke plan B. Keliling Hanoi saja atau santai di penginapan dan packing tas. Tetot. Jalanan Hanoi sedang ditutup di sana-sini. Rupanya 2 September adalah peringatan kemerdekaan Negeri Paman Ho dari Prancis dan dirayakan dengan pawai selama beberapa jam. Saya dan Helena, mbak Portugis, cuma bisa ketawa menyadari keadaan tersebut dan memilih mengobrol di gerai kopi sembari menunggu jalan dibuka tiga jam kemudian. Ha. Ha. Ha.

Hampir jam 11, kami melintasi Danau Hoan Kiem yang superpenuh dengan pengunjung untuk mencapai penginapan. Tapi ‘kan belum bisa check in. Hmmm. Ide brilian—yang nantinya berubah nestapa—muncul. Mari mengunjungi Trang An di Ninh Binh. Seorang teman pernah bercerita tentang tempat itu, yang juga pernah dijadikan lokasi shooting reality show Running Man dari Korea.

Lanskap Trang An hampir mirip dengan Ha Long Bay. Bedanya, grotto dan limestone di situ berada di “darat”, di tengah persawahan dan tak jauh dari jalan raya, sedangkan di Ha Long ada di teluk yang menghadap laut.

Berbekal informasi dari mbak resepsionis hotel, saya menuju Terminal Giap Bat di Hanoi bagian selatan untuk naik bus ke Ninh Binh. Abang kondektur menurunkan saya di signage Trang An Landscape Complex (TALC) dan menunjukkan taksi-taksi yang bisa mengantarkan saya ke lokasi persisnya. Setelah tawar menawar dengan sopir taksi, saya diantar ke kawasan yang ternyata sudah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site dan akan dijemput jam 4.30 sore.

1
Ibu-ibu yang siap mengantar keliling Trang An

Ada beberapa rute yang ditawarkan untuk mengunjungi grotto dan limestone di situ  Pengunjung tinggal ke loket, pilih rute yang diinginkan, bayar tiket seharga 150.000 VND, lalu antre untuk naik ke perahu. Tiap tur akan berhenti di kuil-kuil dan berlangsung selama sekira dua jam.

Banyak hal yang bikin saya tercengang di Trang An. Jajaran limestone yang cuma berjarak—lebih kurang—lima kilometer dari jalanan utama, perempuan-perempuan pendayung perahu (berat, cuy!), dan kuil-kuil yang dibangun di puncak bukit batu. Niat gila! Kami saja yang sudah diberi kemudahan dengan tangga masih kepayahan untuk mencapai kuil-kuil tersebut, apalagi zaman dulu, deh. Terus ada beberapa grotto yang bakal dilewati untuk mencapai satu kuil ke kuil lainnya. Oh ya, kuil yang dipakai shooting Running Man itu tingginya bukan main. *pengsan*

2Serenity!

4b
Kuil-kuilnya masih digunakan untuk beribadah
3
Lewat gua di grotto
4c
Sayangnya enggak bisa berenang di situ

Teman seperahu saya dua dari Vietnam dan dua dari Laos. Iya, dua-duanya pasangan. Zzz. Untungnya, mereka santai-santai banget. Tiap berhenti bisa ngaso sampai 15 menit atau bahkan lebih. Jadi, saya bisa tetap lihat kuil-kuil yang ada di atas bukit, meski waktu tempuhnya cukup lama karena lumayan menanjak.

Waktu saya ke sana, tidak banyak pengunjung dari luar negeri. Mungkin karena banyak orang lebih memilih untuk mengunjungi Ha Long Bay daripada ke sini.

Yang kocak, banyak orang yang heboh ketika tahu saya dari Indonesia. Mereka manggut-manggut dan mengerti kenapa gaya busana saya berbeda, padahal muka Asia dan bukan bule. Karena mereka yang di utara, termasuk Ninh Binh, memang lebih “tertutup” daripada warga selatan. Sedangkan saya pakai tanktop yang ditutupi oleh syal besar, hahaha. *ngumpet di perahu*

Sepertinya, durasi tur perahu yang diberikan itu tidak cukup, padahal saya di sana sampai tempat wisata itu ditutup. Masih ingin bengong-bengong cantik sambil lihat grotto. Ah, ya sudahlah, yang penting berhasil mengobati kekecewaan karena tidak jadi ke Ha Long Bay dan nanti akan lihat kembang api di tengah kota Hanoi.

Tapi, rupanya, perjalanan saya di Ninh Binh belum selesai sampai di situ.

Jakarta, Desember 2016-Januari 2017

Vakansi Sendiri: Vietnam (4) – Huế

Huế berada di Vietnam bagian tengah dan hampir pasti dilalui jika berkendara dari Ho Chi Minh ke Hanoi lewat jalan darat. Pamornya memang belum sekencang kedua kota besar tersebut atau, bahkan, Hội An yang jadi favorit para pelancong Eropa. Tapi bagi para penyuka wisata sejarah, kawasan ini sangat layak dikunjungi. Sebab Huế pernah menjadi ibukota Vietnam puluhan hingga ratusan tahun lalu ketika masih berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh Dinasti Nguyễn.

Turun dari bus, saya disambut oleh sekawanan pengendara motor. Mereka menawarkan jasanya untuk mengantar para pelancong ke tempat-tempat bersejarah, mulai dari makam raja, kuil, serta istana. Sembari tersenyum, saya menolak tawaran mereka. Jual mahal, hahaha. Eh, bukan, sih, lebih tepatnya karena saya enggak tahu harga yang pas untuk menggunakan jasa mereka dan belum tahu mau ke mana.

Setelah Googling apa yang bisa saya lakukan di situ di kantor Sinh Tourist—perusahaan otobus yang membawa saya dari Hội An, saya memutuskan untuk mulai perjalanan. Berdasarkan yang saya baca, jarak dari kantor tersebut ke Imperial City “hanya” 5 kilometer. Inginnya, sih, saya jalan kaki saja . Sebab saya cuma akan berkunjung ke satu tempat dan melanjutkan perjalanan ke Hanoi pada sore hari demi mengejar tur ke Halong Bay keesokan paginya. Sounds perfect!

Tapi rencana berubah seketika saat ada seorang bapak ojek yang menghampiri. Dia membawa peta dan menunjukkan tempat-tempat yang bisa didatangi. Saya—yang enggak punya peta fisik dan daring—kalah poin. Ya, sudah. Kami bernegosiasi dengan bahasa kalbu kalkulator dan saya setuju membayar 150.000VND (kalau tidak salah) untuk jasanya mengantar ke tiga tempat. Sedetik kemudian, saya sudah duduk manis di motor bebek lawas Si Bapak untuk menuju tempat pertama: Tomb of Khải Định. Lokasinya ternyata di pinggiran kota, sekira sepuluh kilometer dari pusat kota. Karena tidak sampai di lokasi setelah sepuluh menit berkendara, saya sampai mengira akan diculik oleh Si Bapak.

Raja Khải Định memerintah dari 1916 sampai 1925 sebagai raja ke-12 dari Dinasti Nguyễn. Gosipnya, raja ini dianggap sebagai boneka penjajah karena terlalu dekat dengan Pemerintah Prancis. Seperti raja-raja lainnya, dia juga membangun rumah untuk jasadnya. Meski dibilang bukan yang terbesar, buat saya kompleks yang dipengaruhi gaya Eropa dan Asia ini sudah sangat luas. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus bayar 100.000VND dan menapaki tangga yang cukup curam.

1025
Para Penjaga

Sebelum mencapai bangunan utama, pengunjung akan disambut oleh patung-patung yang menyerupai penasihat dan pengawal raja. Dibandingkan suasana di mana raja bersemayam, saya merasa lokasi tersebut lebih angker, hahaha. Beranjak ke dalam, suasana angker menjelma jadi indah. Hampir seluruh dinding dalam bangunan dilapisi oleh keramik dan kaca patri yang cantik. Enggak mengherankan kalau pembangunannya mencapai sebelas tahun. Sebagai pencinta motif tradisional, saya malah sibuk mengagumi dinding daripada nonton film sejarah yang diputar di ruang depan. Drop.

1066
Kaisar Ke-12
1087
Di Depan Bangunan Utama

Setelah selesai, Si Bapak mengantar saya ke kuil. Sebenarnya saya ingin ke makam lain, tetapi lokasinya terpencar jauh dan bapak itu tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Jadi, saya menurut saja. Lagipula, entah kenapa, kuil selalu bisa memberi kedamaian yang selalu saya butuhkan. Bohong. Kuil yang kami tuju bernama Thiên Mụ, juga didirikan oleh Dinasti Nguyễn. Yang seru dari kuil ini justru bagian belakangnya, sepi bukan main.

1200
Pagoda Tujuh Tingkat

Oke, waktu semakin dekat dengan jadwal keberangkatan kereta. Saya segera menuju ke tempat terakhir: Istana! Karena kurang riset (lagi-lagi), saya agak kaget ketika harus membayar 150.000VND untuk masuk ke situ. Setelah berada di dalam, saya merasa sangat tidak keberatan bayar segitu mahalnya (kalau dikonversi ke rupiah, sekira Rp100.000 waktu itu). Citadel ini amat besar dan banyak yang bisa dilihat, meskipun banyak juga bangunan yang masih direstorasi. Ada ruang raja, lapangan, kuil, ruang pertemuan, kuil lagi, taman, perpustakaan, taman lagi, koridor yang cukup panjang, ruang pertunjukan, koridor lagi, taman lagi, penjelasan tentang sejarah kerajaan, dan lain-lain. Lebih kurang, saya menghabiskan tiga jam di sini dan belum merasa puas, hahaha. Pintu masuknya memang satu, tapi pintu keluarnya banyak banget. Si Bapak sampai menandai peta yang (akhirnya) saya dapat sebagai tempat penjemputan.

1238
Pintu Masuk Citadel

1267 Secuplik Taman Istana

1256
Menelusuri Jejak Nguyen

Sembari duduk dan mengurut kaki yang kelelahan, saya berkhayal babu bagaimana rasanya hidup sebagai anggota kerajaan. Jalan di koridor panjang bergerombol dengan dayang-dayang padahal cuma mau antar raja ke ruang rapat atau kamar tidur. Dan istirahat membaca dengan melihat pemandangan di sekitar perpustakaan. Bagus, deh, dekat selokan danau kecil. Bikin iri! Oh ya, ada satu bangunab di mana pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, semacam di Keraton. Lalu jadi bertanya-tanya, siapa raja Indonesia yang punya hubungan baik dengan kerajaan ini?

Oh, sungguhlah, kalau tidak mengejar kereta ke Hanoi, saya mau menghabiskan waktu di situ hingga diusir oleh penjaganya.

1244
Suka Sekali Lantainya!

Kala itu—dan masih sampai sekarang, saya berpikir keras mengapa Dinas Pariwisata Vietnam berani memberlakukan tiket masuk yang cukup tinggi untuk objek-objek wisata di Huế. Memang, sih, kota ini sudah dinyatakan sebagai situs bersejarah oleh UNESCO, tapi tetap saja itu termasuk mahal untuk ukuran pelancong dalam dan luar negeri. Apalagi Vietnam terkenal dengan biaya hidupnya yang supermurah. Saya membandingkan dengan Indonesia. Beberapa tahun silam, saya pernah melihat ada orang yang tidak mau bayar untuk masuk ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Padahal tiket masuknya tidak sampai Rp5.000. Hahaha, miris.

Tentang itu mungkin akan dibahas pada lain kesempatan.

Sebab pikiran itu terhenti oleh rasa deg-degan karena belum dapat tiket ke Hanoi (lagi-lagi). Dengan menunjukkan emotikon kereta di ponsel, saya minta diantar ke stasiun. Oke, kata Si Bapak. Eh, tahunya, dia malah mengantar saya ke tempat turun bis tadi. -____-“ Singkat cerita, dia menelepon temannya yang bisa berbahasa Inggris untuk bicara dengan saya dan kemudian mentranslasikan kepadanya dalam bahasa Vietnam. Berhasil. Kali ini, dia membawa saya ke stasiun kereta, yang ternyata tidak terlalu jauh dari Citadel di pinggir Sungai Hương (Perfume River). Sesampainya di sana, seorang pemandu wisata yang bisa berbahasa Inggris bilang kalau tiket kereta ke Hanoi sudah tidak dijual. Kalaupun penjualan masih dibuka, tiketnya sudah habis.

Sedih. Cảm ơn.1

Jakarta, Desember 2016

 

1 →Terima kasih dalam bahasa Vietnam

 

Vakansi Sendiri: Vietnam (3) – Da Lat

stat.jpg
Sambutan Hangat

Setiap orang punya cara melancong yang berbeda. Di perjalanan menuju Bromo, saya bertemu sepasang sahabat yang merencanakan perjalanan mereka secara detail di barisan Excel dan mencetaknya sebagai panduan. Sebagian lainnya merasa cukup dengan rencana perjalanan kasar.  Lain lagi dengan yang tipe lain yang bahkan tiket pulang saja belum dibeli hingga hari kepulangan ke negara atau kota asal. Ya, itu saya, hahaha. Sulit sekali rasanya mau membuat hidup sedikit lebih terencana.

Kebiasaan (buruk) itu pula yang bikin saya terdampar di Da Lat saat bertandang ke Vietnam lebih dari setahun silam.

*

Dari Mũi Né, saya menumpang bis tanggung untuk ke Da Lat. Rencananya, saya hanya akan menghabiskan sesiangan di kota tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Huế sore hari dengan bis atau kereta. Tapi plan itu gagal karena pemilik kafe tempat saya makan siang memberi tahu jika bis ke Huế sudah berangkat dan tidak ada rute kereta antarkota yang melintasi Da Lat. Setelah merutuki diri karena kurang jeli melakukan riset, saya memutuskan untuk meminta peta darinya dan menunjukkan tempat-tempat yang layak dikunjungi sore itu.

Setelah mendapat hostel untuk bermalam, saya dijemput Stephen dengan motornya untuk berkeliling Da Lat. Dengan motor kawak, Stephen membawa saya ke beberapa tempat wisata yang kerap dikunjungi turis. Seperti Kuil Trúc Lâm dan Air Terjun Datanla. Sepanjang perjalanan, bapak tua itu menjelaskan tentang perubahan kota ini dari waktu ke waktu, termasuk posisinya saat perang pecah di Negeri Paman Ho. “Setelah ini, saya antar ke Crazy House, tapi kamu tidak usah masuk dan bayar tiket. Tidak terlalu bagus,” ujarnya meyakinkan. Saya mengangguk sembari sibuk memotret kota tersebut dari ketinggian.

688
Perkebunan sayur, buah, dan bunga
842
Hunian

Da Lat ternama karena udaranya yang dingin dan suasananya yang tenang. Jauh berbeda dari Ho Chi Minh yang ramai kendaraan dan bising. Mungkin itu pula yang bikin para Prancis betah dan menjadikannya sebagai kota tetirah. “Vous parlez Francais?” tanya saya iseng. “Oui, bien sure,” itu saja yang saya tangkap dari kalimat berbahasa Prancis-nya yang panjang dan cergas. Memori saya akan bahasa Prancis memang nol besar, meski pernah mengenyam kursus selama tiga tahun. Payah.

742
Kuil Truc Lam

Dan sejak itu, saya jatuh cinta pada Da Lat. Bangunannya indah, temperaturnya bersahabat, dan lanskapnya mengingatkan saya pada Bandung, kota kelahiran tercinta.

Hujan semakin deras ketika saya selesai menukar uang di sebuah toko emas tak jauh dari penginapan. “Saya turunkan kamu di sini tidak apa-apa?” tanyanya sopan. Saya iyakan karena lebih dekat dan cepat menyeberang jalan daripada harus berputar dengan berkendara. Setelah pembayaran selesai, saya minta izin untuk memotretnya. “Makan yang banyak! Kamu terlalu kurus,” nasihat pak tua itu. Saya tertawa mengiyakan dan menyeberang jalan dengan hati ringan.

799.jpg
Pak Stephen

Keinginan untuk memperpanjang kunjungan di Da Lat menguat. Sebab masih ada canyoning yang belum dijajal. Tapi waktu saya pendek sekali. Alhasil, hari kedua saya hanya jalan-jalan tak tentu arah. Mendatangi bekas istana yang sudah beralih fungsi, menyusuri gang kecil, dan mengagumi interior Stasiun Da Lat yang kini hanya melayani kereta wisata.

Suka sekali.

Jakarta, November 2016

Vakansi Sendiri: Vietnam (2)

Kalau ditanya, kawasan mana yang paling saya sukai waktu vakansi ke Vietnam? Saya bakal jawab Mũi Né dan Da Lat. Bukan nggak punya hati buat yang lain, tapi mungkin karena saya menghabiskan waktu lebih banyak di dua kota itu.

4381

Selamat datang di Mui Ne

Saya ingat benar, waktu itu sudah lewat dari jam 12 dan masuk tanggal 29 Agustus 2015. Sopir bis open tour yang saya tumpangi terus-terusan tanya nama penginapan yang saya singgahi. Berbekal jaringan internet nirkabel yang ada di bis, saya cari nama hotel sekenanya. Memang belum pesan? Belum, dong, hahaha!

Jadi, perjalanan ke Mũi Né ini adalah plan kedua. Rencana awalnya, saya akan menghabiskan tiga hari di Kota Ho Chi Minh supaya punya cukup waktu untuk mengunjungi Terowongan Cu Chi dan Kuil Cao Dai. Tapi saya ragu, sepertinya tidak rela kalau mesti menginap semalam lagi di Saigon, apalagi dengan waktu liburan yang terbatas. Plus, hari pertama di situ, saya mengantar Asuka—perempuan Jepang yang juga jalan-jalan sendiri—untuk beli tiket bis open tour. Dia mantap benar cuma mau berkunjung ke lima kota, termasuk Saigon dan Hanoi. Saya jadi berpikir ulang tentang opsi pertama.

Setelah sesiangan berkeliling di kota paling besar di Tanah Viet itu, saya beli bir dulu, ngaso sambil nanya satu dua penginapan yang mungkin kosong. Sayangnya, semua yang saya incar sudah penuh. Ya sudah, pertanda harus pindah kota. Anaknya semiotik banget memang, percaya pertanda! Jadilah langsung saja pesan bis ke kota pantai yang jaraknya lima jam perjalanan dari situ. Sudah nggak mempertimbangkan bis mana yang bagus dan yang terpercaya, yang penting bisa pindah kota.

Di perjalanan, saya mencoba menghubungi beberapa hostel (miskin!) lewat email dengan pertimbangan tidak semua tempat punya fasilitas check-in 24 jam. Tapi nihil. Saya, sih, tenang-tenang saja. Kalau nggak dapat hostel, tinggal nongkrong di gerai yang buka sehari semalam. Rupanya, malah bapak sopir yang tanya-tanya melulu yang bikin saya jadi panik. Saat dia menurunkan barang di tempat transit bisnya di Mũi Né, saya ambil tas, bilang terima kasih, lalu kabur, hahaha.

“Sorry, have you reserved a room around here?” begitu kalimat pembuka saya pada seorang wanita berkacamata yang juga turun dari bis. Dia menggendong ransel yang tidak terlalu besar, tapi siapa tahu dia juga pejalan yang kemalaman—seperti saya. Niatnya, kalau dia sudah pesan, saya mau menginap di tempat yang sama.

“No, I will stay in my friend’s house.”

“Do you mind if I walk with you? Or do you know a hostel which still opens at this time?”

“Sure. I know one, not far from here. You can check it later.”

Kami mengobrol sambil jalan ke arah hostel dan dia bilang pernah tinggal dua bulan di Jakarta saat tahu saya berasal dari Indonesia. Penasaran, dong!

“Which part of Jakarta?”

“Ciputat.”

Dia bilang, dia sudah punya firasat bakal mengobrol dengan saya sejak di bis. Mungkin karena lihat muka saya yang kebingungan dan sibuk dengan ponsel cari penginapan, hahaha. Baru lima menit jalan, dia menunjukkan hostel yang dia maksud dan mempersilakan saya tanya-tanya sementara dia mau ke minimarket dulu. Di depan penginapan, dua perempuan backpackers terlihat mengantuk sambil menunggu dijemput bis.

Dan semesta berkati perjalanan ini, saya dapat satu tempat tidur di Mũi Né Backpackers Village. Saat sedang memberikan paspor kepada penjaga hostel, perempuan Ciputat itu lewat. Segeralah saya lari dan mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil melambaikan tangan. Dia bilang, semoga saya bisa menikmati perjalanan ini. Manis sekali. Di perjalanan kembali ke meja penerimaan, saya ingat belum tahu namanya. Sedih sekali.

Sebelum tidur, saya dengarkan “Sementara” milik Float dan “Three Little Birds”-nya Bob Marley sembari ditemani sayup-sayup suara ombak. Lega dan bahagia luar biasa karena ternyata masalah teratasi dengan baik. Padahal sebelumnya, saya mengutuki diri sendiri karena kurang perencanaan dan tiba-tiba kangen rumah (sepuluh detik).

4001
Selamat datang di Mui Ne

Kenapa, sih, keukeuh ingin ke Mũi Né? Nggak tahu. Saya ‘kan pergi tanpa perencanaan matang, hahaha. Waktu di Jakarta, cuma tahu kalau itu adalah kota pantai dan punya banyak gumuk pasir.

Pagi hari, saya langsung ke bo ke buat sarapan, nggak peduli muka bantal dan mata bengap kurang tidur. Setelah itu, jalan-jalan tak tentu arah di sepanjang pinggir jalan arteri daerah itu dan cipak-cipuk di pantai belakang hostel sambil menunggu jip yang bakal mengantar ke gumuk itu. Hampir sore, jip datang. Saya pergi bareng tujuh turis lain.

Berdasarkan informasi, perjalanan ke gumuk pertama memakan waktu 45 menit. Tapi belum selama waktu yang ditentukan, kami sudah disuruh turun. Rupanya, ada perhentian pertama, yaitu Fairy Stream. Tiket masuknya 5000 VND. Lanskap itu terdiri dari aliran air (karena menurut saya kurang cocok kalau disebut sungai) dengan bukit bebatuan di kanan kirinya. Pengunjung disarankan untuk lepas sepatu ketika menyusuri sungai. Jadi, anggap saja refleksi dan lulur kaki karena di dasar aliran itu ada tanah dari bukit pasir.

500
Ini yang disebut Fairy Stream

Selanjutnya, sand dunes. Ada dua yang saya kunjungi, yaitu gumuk putih dan merah. Paling suka yang putih, pasirnya halus sekali dan utopis, hahaha. Namanya bukit pasir, pasti panas. Banget! Persinggahan itu masih meninggalkan kegosongan di dahi dan pundak saya sampai sekarang, tiga bulan setelahnya. Yang kedua adalah yang warna merah (oranye!). Yang bikin takjub, sih, karena tidak jauh dari situ ada pantai. Agak mengherankan memang lanskap kota ini.

554.JPG

564
Ini dia White Sand Dune
646
Tutup sesi jalan-jalan di Red Sand Dune

Malam kedua, saya pindah menginap karena hostel tadi malam penuh. Kali ini, saya justru menginap di bukit. Setelah berenang di bawah sinar purnama, saya makan malam di restoran yang berada penginapan versi lebih mahal dari Mũi Né Hills Budget Hotel yang saya tinggali. Tapi harga makanannya tetap murah! Pho dihargai 30.000 VND dan Bia Saigon dijual mulai harga 10.000 VND. Di situ, ngobrol sampai larut dengan sang manajer restoran yang orang Belanda dan Keith, traveler dari Afrika Selatan, yang baru mengunjungi Bali. Sebenarnya masih ingin tambah satu gelas gin & tonic (50000 VND segelas besar), tapi harus bangun setengah 6 pagi  untuk naik bis ke kota selanjutnya.

Jakarta, November 2015