Malam Pertama di Myanmar

Perjalanan saya di Myanmar bermula di Yangon, mantan ibukota negara tersebut. Di sana, saya menghabiskan dua hari dan satu malam. Judulnya enggak ambigu, ‘kan?

Saya singgah lebih kurang enam jam di KLIA2. Semesta bersama para ilmuwan yang menciptakan wi-fi, sehingga saya bisa membunuh waktu (enggak enak, ya, kalau dialihbahasakan. :D) dengan menelepon seorang teman yang juga sedang ada di bandara itu. Tapi dia sudah masuk ke boarding room, sedangkan saya belum check-in karena jadwal terbang masih lama. Saya lalu menceritakan apa yang terjadi sebelum berangkat—tentang keputusan untuk tidak mengambil tawaran sekali seumur hidup. Yang di luar dugaan; ternyata membuat saya sedih bukan main. Heuu.

Dia mendengarkan dengan saksama. Itu saja sudah cukup, mengingat saya berada jauh dari rumah dan tidak berencana memberi tahu Ibu tentang keputusan ini.

Pagi hari—setelah sedikit tidur, cuci muka, dan sikat gigi, saya melewati pemeriksaan imigrasi bersama ratusan orang lainnya. Kejadian menyedihkan harus dibayar dengan kesenangan, hahaha. Let the sadness go away and enjoy this trip! Begitu mantra yang berulang kali saya ucapkan dalam hati.

Sesampainya di gate yang ditentukan, saya merasa sedang di bandara di Indonesia. Pertama, karena paras serta gaya mbak dan mas Myanmar mirip orang Indonesia. Kedua, karena banyak yang bawaannya banyak dan bawa kardus. Semacam orang Indonesia kalau mau mudik. Hihihi. Di pesawat juga kelakuannya hampir mirip: masih pada telepon atau foto-foto sebelum pesawat take-off. Menyinggung SARA enggak sih kalau saya cerita seperti itu? Enggak, kan, ya?! Enggak, kan, ya?!

Di pesawat, saya berniat untuk tidur, tapi enggak bisa. Tetap terjaga dan masih terbayang kejadian kemarin. Oh, no! Buat saya, hal-hal seperti itu pasti sulit dilupakan. Apalagi saya ingin sekali pekerjaan itu, tapi faktor eksternal yang tidak mendukung. Pasti si Pemred majalahnya ketawa, nih, kalau dia baca. Jadi, dua setengah jam perjalanan dari Sepang ke Yangon (baca: Yanggon), saya habiskan buat bengong. Benar-benar bengong sembari lihat ke luar jendela pesawat, semacam adegan film gitu, lah.

Apa yang harus dilakukan begitu sampai di Yangon?

Kalau ada bagasi, maka antre untuk ambil bagasinya. Krik krik.

Untuk mendapat izin masuk ke negeri dengan berjuta-juta pagoda ini, warga Indonesia hanya perlu mengisi selembar permohonan visa. Lembaran tersebut bisa didapat di bandara. Jadi, ada semacam meja tinggi di pojok ruang imigrasi. Biasanya, banyak orang berkumpul di situ untuk mengisi “surat izin” tersebut. Waktu itu, saya langsung ke loket imigrasi tanpa mengisi kertas itu. Untung mas yang jaga baik dan enggak jutek. Cuma diminta keluar antrean sebentar untuk mengisinya dan selesai—paspor dicap. Dengan visa on arrival itu, WNI diperbolehkan untuk berada di Myanmar selama 14 hari.

Selanjutnya, langsung ke loket penukaran uang. Di terminal internasional mereka, ada dua—kalau enggak salah—loket penukaran uang. Daaaan.. cuma menerima dolar yang bagus. Eh, maksudnya bisa mata uang lain, tapi yang masih dalam kondisi prima (duile) dan enggak lecek. Tapi, sebagai gantinya, mereka kasih kita kyat yang lecek. *nangis* Mau menukar dalam jumlah banyak sekalian juga enggak apa-apa. Sepanjang pengalaman saya, sih, kursnya tidak jauh beda dengan di bank atau di tengah kota. Kalau mau beli SIM card di bandara juga bisa. Loketnya ada di sebelah tempat penukaran uang.

Di luar gedung, sudah banyak taksi yang ngetem untuk antar kita ke tengah kota. Etapi, untuk memudahkan komunikasi, hampiri loket taksi yang berada di dalam gedung. Tinggal bilang nama penginapan yang dituju, nanti mbak dan mas yang jaga bakal menuliskan alamat yang dimaksud dalam aksara Myanmar dan memberi tahu tarifnya. Waktu itu, saya dikenai 8.000 kyat (hampir Rp90.000) untuk ke penginapan di daerah Bogyoke.

Dari situ, petualangan dimulai.

1
Bapak sopirnya kelihatan cimit.

Setir mobil-mobil di Myanmar ada di kiri, sama seperti Indonesia. Tapi jalur mobilnya berkebalikan dari Indonesia. Kenapa? Kenapa enggak? Zzz. Karena titah pemimpin. Dan di Yangon enggak ada motor. Kenapa? Kenapa nggak? Zzz. Karena titah pemimpin.

Oh, Yangon juga macet!

Bye!

Ke mana saja di Yangon? 

IMG_20161214_172642
Rumeuk.

Cuma keliling-keliling downtown dan ke pagoda. Karena cuma sebentar, saya harus melewatkan Inya Lake, danau yang dikelilingi taman dan berada tidak jauh dari bandara. Dan saya lebih penasaran dengan Shwedagon Pagoda karena, katanya, besar sekali.

20161021_142654
Makanan khas Yangon: KFC!

Myanmar pada Oktober seharusnya adalah Myanmar yang adem, tidak panas dan tanpa hujan. Tapi, percayalah kalau perubahan iklim itu nyata, saudara-saudara! Jadi, waktu saya berkunjung ke sana, Yangon masih kerap hujan. Bukan hujan yang deras, tapi gerimis yang hilang timbul. Kzl. Untungnya, saya bawa payung ke sana, padahal enggak pernah bawa kalau di Indonesia.

Setelah berkeliling di sekitar penginapan di bawah gerimis, saya jalan ke Shwedagon Pagoda. Jaraknya mungkin sekira dua kilometer dari Pasar Bogyoke yang ternama. Dan benar saja, bikin jaw dropping banget itu pagodanya. Besarrrrrrrrrr sekali. Tinggi dan luas sekaliiiiii. Kalau “antena”-nya dihitung, tingginya mencapai seratus meter. Di sekelilingnya, banyak pagoda-pagoda kecil beragam warna, ukuran, dan gaya. Turis harus bayar 8.000 kyat dan diberi stiker sebagai tanda masuk.

IMG_20161207_111444
Shwedagon
IMG_20161216_020329
Hellaw!

Sebagai pagoda terbesar dan terpopuler di Yangon, tempat ini ramai bukan main. Sampai malam, pengunjung masih datang dan pergi. Walaupun ramai, saya betah di situ; mungkin hampir lima jam di sana. Mulai dari duduk, jalan-jalan, foto-foto, memandangi patung Buddha,

Terus pulang ke penginapan lagi dan mengobrol dengan pelancong lain. Ini penting banget untuk berbagi informasi tentang daerah lainnya, karena Myanmar–walaupun sudah jauh lebih terbuka dan jadi tempat tujuan wisata–tapi enggak semua hal tentangnya sudah tercantum di internet. Misalnya, tentang penginapan. Lagipula, Yangon sudah sepi sejak pukul 9. Seorang perempuan Jerman harus berjalan dua kilometer untuk beli makanan berat setelah jam 9.30 malam.

Keesokan harinya, saya cuma ke Chinatown dan ke Pasar Bogyoke yang jadi sentra suvenir di Yangon. Lalu, ke terminal bus yang jaraknya sepuluh kilometer dari pusat kota untuk naik bus ke kota lain.

Jadi, bagaimana impresi pertama tentang Myanmar? Sulit! Saya tidak suka Yangon, kecuali Shwedagon. Berantakan banget! Semacam seluruh kota isinya Jatinegara dan Glodok semua, hahaha. Tapi, ‘kan enggak mungkin membenci Myanmar hanya karena berada di Yangon dalam waktu yang singkat. Hate is such a strong word though.

Daripada menggerutu di Yangon, selanjutnya saya pilih untuk pergi ke pantai pada hari ulang tahun. Yuhuuuuuuu. Jaraknya? 13 jam perjalanan menggunakan bus. *garuk-garuk kepala*

Jakarta, 1 Mei 2017

Advertisements

Bahas Bapak

Keduanya bicara tentang ayah dan anak.

Yang pertama disajikan lewat medium film. Judulnya Sabtu Bersama Bapak karya sutradara Monty Tiwa. Sebenarnya tayangan ini lebih dulu hadir lewat buku, tapi saya belum baca. Jadi, interaksi saya dengan karya ini, ya, melalui film. Kami—saya dan dua orang saudara—menontonnya saat orang-orang sibuk bertakbir menjelang Idul Fitri. Luar biasa banget, CGV Blitz masih buka sampai malam, meski besoknya hari raya agama mayoritas di Indonesia. Keprok.

sabtu-1
Sabtu Bersama Bapak (2016)

Film tersebut berkisah tentang dua orang anak yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Sebelum meninggal, sang ayah (Abimana Aryasatya) membuat video tentang petuah hidup untuk ditonton sang anak setiap Sabtu. Saat dewasa, Si anak pertama, Satya (Arifin Putra), tumbuh menjadi laki-laki yang penuh perhitungan, hidup sesuai rencana, dan superganteng. Diceritakan juga kalau ia bekerja jauh demi rumah demi lancarnya arus kas keluarga sesuai plan yang telah dibuat. Si bungsu, Cakra (Deva Mahenra), adalah persona yang penuh kehati-hatian, sederhana, dan sulit berinteraksi dengan perempuan yang disukai. Kariernya moncer, tetapi belum juga punya pasangan. Terus kenapa?

31142634-_uy971_ss971_
           Genduk (2016)

Kisah ayah yang kedua disampaikan lewat buku Genduk yang ditulis Sundari Mardjuki. Si Genduk atau Annisa Nooraini bisa dibilang belum pernah jumpa ayahnya. Sang ayah memang ada ketika dia lahir, tetapi tidak lama. Jadilah hingga duduk di bangku sekolah dasar, Genduk cuma bisa membayangkan sosok ayahnya dari cerita seorang kyai sepuh yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Bocah itu juga tidak pernah alpa menanyakan atau menyinggung tentang Pak’e kepada ibunya, seorang petani tembakau kecil yang diasingkan dari rumah dan dililit utang rentenir. Pertanyaan itu selalu hanya dijawab dengan diam atau bentakan.

Keduanya bicara tentang ayah dan anak. Tentang ayah yang absen dari kehidupan anak-anaknya sejak mereka kecil.

Saya bisa terhubung dengan perasaan Satya, Cakra, dan Genduk. Meskipun dibesarkan oleh superwoman yang penuh kasih dan perjuangan, kehilangan satu induk bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja. Semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan.

Wajar rasanya kalau Satya frustrasi dan marah-marah karena menganggap apa yang diajarkan sang ayah lewat video itu salah. Dan Cakra maju mundur mendekati perempuan yang bikin ia jatuh cinta. Atau Genduk nanya-nanya melulu kayak pembantu baru tentang ayahnya, padahal ia tahu ibunya sebal benar tentang bahasan tersebut. Bahkan ia nekat turun gunung untuk mencari kejelasan dan membuktikan instingnya, tanpa didahului riset dan pernah ke kota yang dituju.

Saya ingat benar, saya adalah anak ayah. Selain karena banyak yang bilang saya mirip dengan beliau (BLAH!), keadaannya bikin dia lebih banyak di rumah dan, mau tidak mau, mengurusi saya. Mulai dari membuat sarapan, mengepang rambut, mengantar dan menjemput sekolah atau les, serta menunggui bikin PR. Sarana belajar saya waktu kecil adalah ayah, bukan ibu. Justru Ibu hadir belakangan (dan sampai sekarang, sampai masa depan) setelah Bapak meninggal. Saking dekatnya saya dan Bapak, Ibu pernah marah karena kami pulang terlalu larut setelah saya latihan balet dan makan enak di restoran enak. Dia terabaikan. Dan beberapa tahun setelah kepergian Bapak, Ibu jujur bilang kalau saya jadi anak nakal begitu beliau meninggal. Hahaha.

Ada masanya saya terlupa atau melupakan keberadaan beliau. Tentu saja, sebab beliau hanya mampir sebentar. Selebihnya, lebih dari 20 tahun, dia absen.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa kehilangan beliau adalah salah satu persoalan penting dalam hidup. Lebih dari perkara biologis dan administratif. Karena semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja.

Ini tentu bukan sexist, tetapi nyatanya peran ayah dan ibu yang lengkap dalam keluarga punya peran masing-masing yang tidak tergantikan oleh satu sama lain. Hal itu tentu bersangkut-paut dengan persepsi ideal tentang ayah dan laki-laki serta ibu dan perempuan yang sudah mengakar di masyarakat dan tidak (belum) bisa diabaikan. Common sense.

Seperti juga hubungan anak dengan ibu, hubungan ayah dengan anak adalah hal yang distingtif. Terlebih buat mereka yang pernah cukup dekat atau punya jarak dengan mendiang. Terlebih buat yang mereka yang tunggal. Terlebih buat mereka yang memilih diam. Terlebih buat mereka yang kerap (tidak sengaja) terjebak dalam deep thoughts-nya. Terlebih buat mereka merasa.

Tapi tentu saja, situasi yang berbeda pada setiap orang dan keluarga bakal menjadikan hal yang berbeda juga, toh?

Dan dua tahun lalu, saya mengunjunginya untuk pertama kali dalam 19 tahun.

Jakarta, 23 September 2016

Main Hati

DSC02308
Bromo, September 2014

Mari bicara tentang hati dengan (tidak) hati-hati.

Sejak lama, saya menyadari bahwa saya tidak ahli perihal hati, cinta, dan turunan-turunannya. Jangankan dengan “siapa”, dengan “apa” saja selalu kandas. Contoh, dengan gawai. Ponsel yang lancar-lancar saja dipakai orang, belum tentu di tangan saya. Komputer jinjing, yang kata orang bandel dan bakal awet, kalau saya yang pakai, ya, setahun dua tahun juga sudah bakal bermasalah. Miris? Agak, sih, tapi jadi ada alasan untuk beli yang baru kalau uangnya ada. Tanaman dan hewan peliharaan pun tidak bertahan lama.

Baiklah.

Itu jadi salah satu alasan mengapa urusan hubungan tidak pernah masuk dalam hitungan saya, beda dengan uang, hahaha. Sayangnya, semakin bertambahnya umur, menjalani hari, dan ruwetnya otak, hal yang satu itu justru ambil porsi yang lumayan dan tidak pernah absen jadi bahasan di tiap perjumpaan. Kadang sekadar lalu, tapi tidak jarang memang diniatkan bertemu untuk bahas hal itu. Kadang bikin berbunga-bunga setengah mati, senyum-senyum tanpa sebab, atau malah lelah hati serta fisik.

Perlahan harus disadari dan dimafhumi—mau tidak mau dan suka tidak suka, memanglah hal yang satu itu jadi pokok dalam hidup saya, kamu, kami, dan orang-orang di sekitaran. Telan sajalah. Belum lagi, tidak pernah ada cara yang seratus atau 99 persen berhasil menangani perkara hati ini, harus trial and error selalu. Ribet, ah!

Senang, sedih,optimis, ragu, bingung, marah, kecewa, pasrah, sakit, sehat, patah, tumbuh, dan lain-lainnya sudah jelas jadi asupan yang tak terhindarkan. Bahkan ada kalanya, perkara yang satu itu bikin saya dan orang di sekitar saya jungkir balik, menolak bertemu dengan orang lain, lakukan apa saja yang dimampu, pergi jauh demi lebih kenal pasangan atau diri sendiri, hingga mengubah peta persahabatan. Apalah.

Dari semua pengalaman orang atau pribadi, satu pertanyaan yang sering muncul adalah harus ikuti kata hati atau lakukan yang benar?

Bandung, 9 Juli 2016

Ada Apa dengan Apa?

cinta-ucapkan-selamat-tinggal-pada-rangga-di-trailer-aadc-2-fkk
Ciyeeeee.. 😀

Tulisan ini dibuat sepulang menonton Ada Apa dengan Cinta? 2 Senin lalu. Sengaja baru diunggah sekarang karena Mbak Produser berharap yang sudah nonton duluan tidak terlalu membocorkan jalan cerita film tersebut. Hahaha.

Kisah Rangga dan Cinta yang dimulai empat belas tahun lalu kembali hadir di layar lebar. Rupanya mereka sempat bertemu sembilan tahun lalu di New York. Saat Cinta sedang liburan keluarga. Singkat cerita, mereka bertemu lagi tahun ini. Keadaan sudah berbeda, mereka menua. Lihat saja Rangga yang lelah, kantung matanya sepertinya tak bakal tersamarkan walaupun (semisal) ditutupi concealer berlapis-lapis pun. Cinta sudah siap menikah. Milly sedang hamil. Maura sudah beranak-pinak. Karmen baru saja selamat dari konflik asmara dan rehabilitasi. Plus, Alya sudah menjadi abu. Sekarang, ceritanya tidak berkutat pada lomba puisi dan majalah dinding yang akan terbit dan perkawanan yang dianggap tidak prinsipil. Masalah hati lebih punya urgensi, cuy!

Rangga tetap tinggal di New York, Cinta mengelola galeri di Jakarta. Tapi bukan di kedua kota itu kisah mereka kembali bermula, justru di Yogyakarta yang tidak terlalu Ibukota-sentris. Senang sekali melihat Kill The DJ, Papermoon, Candi Ratu Boko, Pasar Beringharjo, dan hotel-hotel cantik masa kini itu muncul di layar besar.

Bagaimana kisahnya? Lebih seru tonton sendiri. Banyak orang menganggap jika film kedua ini terlalu cheesy, tidak mendalam, Rangga terlalu sensitif, sikap geng Cinta tidak berubah, dan penyelesaiannya terlalu mudah. Kalau menurut saya, sih, tidak mengecewakan. Sebab, jujur saja, saya tidak berharap film ini akan bagus setelah melihat cuplikannya sejak bulan lalu. Bahkan akting yang kurang pas dan dialog yang terkesan dipaksakan cukup termaafkan. Generasi saya mungkin menantinya benar-benar karena kami “tumbuh” dengan itu. Rasanya seperti menonton Harry Potter yang dimulai saat kami beranjak remaja. Apple to apple enggak, sih? Enggak? Oke, abaikan.

Buat sebagian orang mungkin kisah Rangga dan Cinta ini ribet. Duile, perihal asmara doang bisa bikin merana (dalam hati) sembilan tahun. Mana mungkin beda pendapat dengan teman membuat nangis? Terus ciuman sama yang bukan pacar dan enggak berarti apa-apa? Perkawinan di depan mata pun bisa batal. Mengada-ada sekali, deh, film ini!

IH!

Kalau sekuel ini dibuat enam tahun lalu, pasti saya juga berpendapat begitu. Asli, sepertinya heboh banget kisah Cinta, Rangga, dan teman-temannya ini. Tapi film ini muncul tahun ini. Layaknya Cinta dan Rangga dan Milly dan Maura dan Karmen, kami juga berubah. Kami di sini merujuk pada saya, teman-teman, dan situasi di sekitar saya. *maksa*

Setelah makan sejumput asam garam kehidupan dan berproses dengannya, saya menyadari benar bahwa relasi memang bisa sedemikian rumit. Bahkan relasi pertemanan, yang bagi beberapa orang merupakan bentuk paling sederhana atas rasa sayang. Justru mungkin rasa itu sebenarnya yang jadi sumber kepelikan. Berlebihan? Enggak sama sekali, kalau menurut saya. Atau saya yang saja berlebihan? Bisa jadi, mengingat resolusi tahun ini adalah jadi drama queen. Haaks.

Tapi benar, deh, apa yang dialami orang-orang di layar perak itu memang pernah (atau sedang) terjadi pada saya dan orang-orang sekitar saya. Mungkin bentuknya tidak sama persis, tapi permasalahan-permasalahan selalu ada. Dalam bentuk XS, S, M, L, XL, bahkan XXXXXXL. Mau bukti? Beberapa dari kami sempat tergabung dalam geng patah hati dan pergi liburan bareng. Seorang teman bahkan berbesar hati mengejar cinta hingga ke Benua Eropa dan mengorbankan vakansi yang telah dirancang sejak berbulan-bulan sebelumnya. Lingkaran pertama pertemanan saya pun goyah karena ini itu. Cukup bikin nelangsa pokoknya. Pekerjaan bikin pening. Dan seterusnya. Kalau kata Yoo Si Jin di Descendants of the Sun, “Niatnya cuma jadi melodrama, tapi malah jadi blockbuster.” Nyambung, ih.

Tidak ada yang mengira bahwa di sela-sela rasa sayang dan cinta yang mengalir itu terselip bom-bom beraneka ukuran yang bisa meledak kapan saja karena pemicu yang bervariasi. Beberapa bisa dijinakkan, beberapa meledak. Yang tak berhasil dijinakkan, kadar eksplosinya juga beda-beda. Ada yang cuma bikin luka ringan yang sembuh dalam waktu seminggu atau dua minggu. Ada juga yang baru sembuh berbulan-bulan kemudian, bahkan bekasnya tidak hilang bertahun-tahun. Keberanian, logika, dan rasa pun kadang malah baru hadir belakangan, pada waktu yang tidak sepantasnya. Tidak diduga.

Ah, sudahlah. Mari bersulang saja untuk kehadiran film ini! Apalagi Mira Lesmana, Prima Rusdi, Riri Riza, dan staf AADC?2 lainnya sudah berusaha membuat karya ini sangat personal. Jauh dari politik yang tertera di halaman depan media massa nasional serta jadi penyebab Rangga bermigrasi menjauhi Si Cinta. Perkara ekonomi justru jadi alasan yang lebih masuk akal untuk menakar cinta dan hidup, hahaha. Rangga juga masih bikin GMZ. Dengan itu pula, mereka-saya-kamu-kami-kita mungkin jadi tersadar bahwa dewasa, bagi beberapa orang, adalah saatnya menjadi egois. Perasaan (atau perkara) sendiri lebih penting daripada apapun.

Meskipun untuk menafsirkan klausa “perasaan sendiri” itu butuh penjelasan yang lebih panjang lagi.

Endapkan dulu, cukup sekian ngalor-ngidul-nya.#sarekeun

Jakarta, 25 & 30 April 2016

 

Kalimat Bijak

DCIM101GOPROG1316849.
Gunung Pancar, Bogor, 2015

Waktu itu, ada blogger favorit yang menulis tentang nasihat terbaik yang pernah diterimanya. Kalimat bijak itu datang dari seorang sopir taksi. Di akhir tulisan, ia juga memuat beberapa nasihat terbaik yang pernah didapat teman-temannya. Bacanya bikin terharu. Hehe. Soalnya, sudah lama juga saya ingin mengumpulkan nasihat terbaik yang pernah didapat orang-orang di sekitar saya. Bahkan dalam beberapa wawancara dengan publik figur, saya selalu menyelipkan pertanyaan tentang itu. “Apa nasihat terbaik yang pernah kamu dapat dan dari siapa?” Tapi jangan tanya siapa dapat apa dari siapa sebab saya terlalu malas mentranskripsi obrolan-obrolan tersebut, hahaha.

Saya tak ingat pernah dapat nasihat yang sebegitu mengubah prinsip dan perilaku diri. Beberapa mungkin mengena dan bikin berpikir, tapi masuk kuping kanan, mengendap sebentar, lalu keluar lagi lewat kuping kanan. Dasar! Meski begitu, ada satu kutipan—yang entah sumbernya—yang terngiang-ngiang sampai sekarang. Baca di Tumblr, kalau tidak salah. Bunyinya, “Life is tough, but so are you.”

Entah sebaris kalimat itu bisa dibilang nasihat atau bukan, tapi efeknya lumayan. Saat ada hal-hal di luar kuasa saya yang bikin pening kepala atau mengunci diri dari dunia luar, saya sering tetiba teringat tulisan itu. Meski sebenarnya ‘kan masalah saya tidak pernah terlalu besar, masih banyak orang yang problemnya macam film The Avengersora uwis-uwis.

Sebagai seorang pleasure seeker, problem sekecil apapun bisa bikin saya stres. Nah, sebaris kalimat itu bisa bikin saya mikir, “Yaelah, baru diberi sejumput asam garam kehidupan masak sudah mau nyerah? Orang lain mungkin dikasihnya sesendok, beberapa bahkan sepanci. Sudahlah, enggak usah ambil pusing! Pasti bisa dihadapi, dilompati, atau dilupakan.” Alhasil, saya bisa semangat lagi. Semangat buka Youtube dan nonton video-video klip Bigbang. Haks.

Jadi, apa kalimat bijak favoritmu? Dapat dari siapa? Atau dari mana?

Jakarta, 25 April 2016

Boleh Tenang Sedikit?

blog
Peace of Mind (White Sand Dune, Mui Ne, Vietnam, 2015)

Belakangan, saya terlalu banyak berpikir. Ah, tapi siapa yang tidak? Justru, pikiran mereka mungkin jernih, sejernih air mineral dalam kemasan yang saya tenggak tadi siang. Yang terjadi pada saya kebalikannya. Pikiran runut dan bening itu tak pernah hadir, malah runyam, keruh, dan tidak konstruktif. Maka saya senang jika waktu tidur datang, meski baru bisa terlelap dua jam setelah punggung menyentuh kasur.

Siapa sumber untuk artikel besok? Maukah mereka bekerja sama untuk artikel itu? Bagaimana caranya untuk ke Korea menonton konser ulang tahun Big Bang? Kenapa, sih, T.O.P cakep banget dan otaknya ruwet sekali? Kira-kira sedekat apa personel grup itu satu sama lain? Oh ya, belum beli tiket konser Tame Impala! Kayaknya ke Bangkok seru juga, ya! Eh, tapi kan harus mulai nabung buat IELTS. Drop. Tunggu, tunggu, baju yang hitam ada di mana, ya? Jangan lupa nanti pagi beli tiket buat pulang. Terus tanya detail lamaran si teman! Eh, tapi memangnya diundang? Harus datang nggak, sih? Sudah punya eFin, jangan lupa besok lapor pajak. Kalau sudah punya sertifikat IELTS, jadi mau sekolah? Di mana? Atau mending short course dulu? Kira-kira lebih menarik belajar pariwisata atau digital media, ya? Sebenarnya, apa lagi dicari di tempat yang sekarang? Harus pindah kerja nggak, sih? Oh ya, belum beri kabar Ibu tentang ini dan itu! Cheers to the unsuccessful relationship! Tunggu-tunggu, perasaan tadi ingin nonton film. Apa, ya? Lupa judulnya. Lah, bukannya hari ini janji mau ketemu teman? Ya, besok lagi deh. Jam berapa ini? (Cek jam) Kok belum bisa tidur, sih? Jangan lupa besok nonton Youth over Flowers episode 3. Masih ada makanan apa, ya, di laci paling bawah? Ingat-ingat minum madu nanti pagi. Ih, nggak sabar, ya, ingin cepat pagi supaya bisa sarapan. Terus bagaimana caranya memulai kembali pembicaraan dengan si teman? Beli ponsel apa, ya? Mereka apa kabarnya, ya? Jadi, apa tiga kata di kartu pos yang dikirim Eleanor buat Park? I love you? Atau yang enough itu? Kenapa, sih, happy ending itu utopia? Karma itu benar ada nggak? Kenapa pria-pria di lingkaran gue brengsek semua? Ya, nggak semua, sih, tapi … Asyik, besok mau ketemu dia dan makan enak! Eh, senang banget, ya, hari ini deadline sudah selesai. Ingin makan junk food weekend ini. Kenapa jadi mikir terus? Konsentrasi, edit artikel. Eh, iya! Kenapa, sih, mereka berantem terus? Stop! Jangan lupa bayar kartu kredit. Kenapa pula itu Belgia dibom? Mudik nggak, ya, tahun ini? Woi! Kesetaraan di dunia itu nihil. Perbedaan itu mutlak, toh. Oh, how I miss Hong Kong and Vietnam. Makan Indomie goreng atau kuah? Kalau kuah, rasa kari ayam atau soto? Duh.

Dan terus berulang dengan tambahan di sana-sini, tanpa bisa dicegah. Tapi saya yakin, banyak juga yang seperti ini, ‘kan? Pasti.

Capek? Kadang-kadang. Pasti banyak yang lebih lelah dan melelahkan. Misalnya, mencegah pikiran-pikiran semacam itu muncul.

 Jakarta, 23 Maret 2016

 

Apa yang sulit?

IMG_20160109_054843105_HDR
Pagi di Jakarta, Januari 2016

Apa, sih, yang susah dari menulis? Memulai atau mengakhiri?

Padahal ide di kepala sudah bertumpuk dan minta dihamburkan. Jika sedetik saja lewat, mereka malah menguap tanpa jejak dan tak lagi lancar mengalir.

Ah. Apakah ketakutan akan kesalahan berbahasa yang menjadi muasalnya? Atau bolehkah jika mengutuk kedewasaan? Oh, mungkin ini pengaruh logika? Sebut saja, semua alasan benar!

Kau penulis, tapi tidak menulis. Lantas, apa bisa kau disebut begitu?

 Jakarta, Februari 2016