Yang Pertama Selalu Berkesan

Waktu di Ga Ninh Bình sudah menunjukkan jam 8 malam ketika saya sampai di sana. Sial, kereta menuju Hanoi baru berangkat setengah jam yang lalu. Daaan.. kereta selanjutnya baru akan berangkat ketika hari berganti, menjelang jam 2 dini hari. Tapi, ya, apa boleh buat? Rasanya tidak mungkin mencari penginapan untuk bermalam waktu itu. Sebab penerbangan saya pulang ke Jakarta—lewat Kuala Lumpur—dijadwalkan pada pagi berikutnya, jam 9. Tidak mungkin terkejar kalau harus ke Ibu Kota dengan bis pertama pun.

Keinginan memang tidak selalu harus dipenuhi, apalagi yang muncul sekelebat. Sembari menunggu kereta dini hari, saya hanya bisa menertawai diri mengingat alasan berkunjung ke Ninh Binh. Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat saya memutar memori kunjungan ke Vietnam yang bermula tujuh hari sebelumnya. Yang pertama memang selalu berkesan.

***

5b
Pulang!

Dua setengah jam sebelumnya, Pak Taksi yang menjemput saya dari Trang An Landscape Complex (TALC) menurunkan saya di pinggir jalan utama. Dari situ, saya bisa mencegat bus untuk kembali ke Hanoi. Bus antarkota memang selalu lewat situ, tetapi hanya sampai jam 6 sore. Zzz. Saya pun keukeuh mencoba peruntungan karena waktu sudah mepet.

Hingga 6.30, tidak ada bus yang lewat. Kalaupun ada, tujuannya bukan ke Hanoi. Saya sebenarnya bakal santai-santai saja kalau besoknya tidak harus pulang ke Jakarta. Malah senang kalau bisa memperpanjang liburan.

Berbekal Maps yang offline, saya cari terminal bus sembari bertanya pada orang-orang yang ditemui. Masalahnya, kota ini adalah kota kecil yang belum terlalu terpapar pariwisata. Susah banget cari orang yang bisa berbahasa Inggris. Saya ke minimarket dan mencoba berkomunikasi dengan mbak penjaganya. Nihil. Dia tidak mengerti apa yang saya katakan, meski sudah berbekal Google Translate di komputer dia dan emotikon di ponsel saya. Beruntung seorang bocah yang sama-sama sedang jajan mengerti bahasa Inggris dan menyampaikan pertanyaan saya. Nihil. Sudah tidak ada bus katanya.

Saya ingat tadi siang melalui persimpangan besar dan di sana ada beberapa gerai penjual tiket bus. Sampai, tapi enggak ada kehidupan dan toko-tokonya sudah tutup semua. Alhasil, saya balik lagi ke arah TALC dengan gundah gulana. Mana gerimis pula! Lalu, mampir ke warung kaki lima dan mencoba tanya-tanya lagi. Mas penjaganya lihat jam dan menyilangkan tangan di depan dada. Sudah enggak bakal ada bus, maksudnya.

Ah, pasti ada, saya masih optimis. Saya tanya lokasi terminal dan jalan lagi ke arah yang ditunjukkannya. Jauh, cuy! Sudah jalan beberapa lama, enggak ketemu juga itu terminal. Akhirnya, saya cegat taksi dan menunjukkan gambar bus. Eh, masnya paham. *terharu* Tapi terminal bus memang sudah gelap, tidak ada kehidupan.

Balik lagi, deh. Rencana kali ini adalah ke arah pintu masuk TALC atau cari hotel dan tanya di situ. Sembari terus-terusan lihat Maps, saya lihat ada tanda stasiun. Berarti mungkin ada kereta yang menuju Ibu Kota. Hore! Dengan berbunga-bunga, saya mencoba mencari lokasi stasiun dan sampai di titik yang ditunjukkan. Tapi, kok, enggak ada, sih? Tanya bapak ojek, dia juga tidak tahu. Ya, sudah, saya jalan lagi. Sampai akhirnya bertemu orang yang baru turun bus dan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Eh tapi dia juga enggak tahu di mana posisi stasiun.

NAH, saat itulah kesedihan bertambah parah.

Ketika sedang berjalan, ada mas-mas akamsi yang mengikuti dan tanya-tanya. Makin lama, saya merasa terganggu. Akhirnya saya menyeberang untuk menghindarinya karena mau jawab dan tanya juga dia enggak ngerti.

Beberapa setelah menyeberang, dia datang lagi. Tanya-tanya lagi. Kali ini, pakai mencolek di bagian pinggang yang tertutup selendang. Saya makin kesal dan teriak “No!”. Saya lalu mempercepat langkah menuju sebuah toko sampai yakin benar dia hilang dari pandangan. Sebagai tamu di negara orang, saya masih mikir untuk tidak membalas perlakuannya dengan tindakan fisik.

Rasanya campur aduk, deh. Saya, yang awalnya cuma khawatir tidak bisa sampai Hanoi besok pagi, jadi panik dan takut kalau si mas-mas tadi datang lagi. Hujan pula. Sedihnya berlipat-lipat dan merasa tolol karena mengambil langkah impulsif hanya karena tidak jadi ke Halong Bay. Tapi, toh, penyesalan juga tidak berguna. Mau marah juga sama siapa? Si Mas Akamsi sudah hilang entah ke mana.

Setelah berjalan berkilo-kilo lagi, saya menyerah dan mencegat taksi. Saya mengucap Ga Ninh Bình sembari menunjukkan emotikon kereta dengan harapan dia tahu di mana stasiun berada (Ga dalam bahasa Vietnam berarti stasiun). PUJI TUHAN! Dia mengantarkan saya ke tempat yang tepat, bahagianya bukan main. Tapi ternyata…  kereta baru berangkat setengah jam sebelumnya.

6.jpg
Ga Ninh Binh

Jadilah saya menunggu berjam-jam di situ ditemani suara hujan yang makin menderas dan gemuruh bersahut-sahutan. Lampu stasiun pun sempat mati dan bapak penjaganya kehabisan solar untuk generator. Untungnya tidak lama dan beberapa traveler lain mulai datang untuk menunggu kereta ke selatan. Ketika kereta mereka sudah datang, kereta saya ke utara masih sejam kemudian. Nikmati saja, sembari berusaha ngobrol dengan bapak penjaga yang pulang hujan-hujanan beli solar. Ha. Ha. Ha.

Lalu baru check in ke kamar hotel jam 4 pagi dan jam 7 harus berangkat ke bandara. Yha.

Bandung, Desember 2016-Januari 2017