#demiColdplay

Jadi bagaimana kelanjutan kisah perjalanan ke Myanmar?

Ah, tunggu dululah. Itu mungkin bisa jadi kisah yang panjang. Ini ada pengalaman yang lebih hangat: konser Coldplay! Aha. Pembaca kecewa? Ah, biarlah. Ya, itupun kalau ada yang mau teruskan membaca.

535
Can you spot them?

Menonton konser Coldplay agaknya sudah menjadi salah satu bucket list saya sejak SMP. Ya, perkenalan saya dengan band Inggris itu dimulai dengan menyalin lirik “Yellow” di organizer dan dihias-hias dengan tinta warna-warni waktu masih berseragam putih-biru. Ngaku aja, deh, kalau ada di antara kalian yang pernah begitu juga! Ahak.

Menonton konser Sigur Ros, Bon Iver, Bigbang, dan the xx memang termasuk dalam daftar saya. Ya, selain Radiohead, Adele, Beach House, dan lain-lainnya. Tapi menyaksikan Coldplay secara langsung adalah lebih dari itu. Mungkin bisa disejajarkan dengan impian saya pergi ke Islandia atau naik haji. Lalu dilaknat. :3

Jadi, ketika dengar Coldplay akan konser di Singapura, saya sudah meneguhkan hati akan menonton. Biarlah tabungan kembali terkuras, yang penting nonton! Hamdallah, ketika orang-orang teriak enggak bisa akses situs penjualan tiket, saya berhasil beli saat hari pertama penjualan dibuka untuk umum. Tiket pesawat, sih, lain cerita. HAHAHA.

 

***

H-1 keberangkatan, paspor saya baru jadi. Bego banget, sih, enggak ngecek kapan paspor lama habis masa berlaku? Tunggu, saudara! Ada drama lain yang terjadi di baliknya. Tapi sudahlah, yang itu lupakan. Yang jadi highlight justru setelah paspor jadi.

Urutannya begini: terlambat tiba di bandara → ketinggalan pesawat terpagi ke Kuala Lumpur → tunggu pesawat ke Batam yang harusnya berangkat jam 12.00 → keberangkatan tertunda satu jam (padahal bukan maskapai singa) → sampai di Batam jam 15.30 WIB → menyeberang ke Singapura dengan ferry jam 16.00 WIB → sampai di Singapura jam 18.00 karena sudah WIB + 1 jam → sekira 45 menit di Singapura bersama puluhan #jemaahColdplay lainnya → naik MRT 30 menit → sampai di depan Singapore National Stadium Gate 22 sekira jam 19.40.

Yang kocak, dari Bandara Hang Nadim, Batam, saya naik taksi dengan empat orang lainnya yang punya kisah sendiri-sendiri demi menonton konser ini. Ada pasangan yang seharusnya menonton tanggal 31 Maret, tapi dikabari kalau ada kerabat yang meninggal ketika sudah di boarding room. Alhasil mereka harus pulang. Tiket yang mereka punya lalu dijual dan nekat ke Singapura tanggal 1 April, meski belum punya tiket konser baru. Satu orang lainnya ditolak berangkat hari sebelumnya karena masa berlaku paspornya kurang dari enam bulan. Satu lainnya berasal dari Makassar dan harus berangkat sendiri karena temannya batal pergi demi mengerjakan side job. 

Sampai di stadion, saya lari-lari dengan tas ransel berisi baju untuk tiga hari di negara itu, dua orang teman sudah menunggu di sana dengan muka cemas. Kalau mereka tidak berhasil mendengar lagu pembuka, itu berarti saya akan dipersalahkan (atau merasa bersalah) karena tiket saya masih ada di tangan mereka. O, Yang Maha Baik, saya berhasil sampai tepat waktu dan masih bisa geser sana-sini untuk dapat tempat menonton yang lumayan nyaman, meski jauh dari panggung. Jam 20.15, konser dimulai.

We live in a beautiful world, really.

461
“Gelang” ini jadi salah satu variabel yang bikin konser menarik!

Lampu stadion dimatikan, intro berkumandang. Lalu suara Chris Martin mulai menggema. Sungguh pun semua kelelahan dari perjalanan menuju ke sana langsung sirna. Kaki gemetar dan mata berkaca-kaca. Oke, lebay! Oke, enggak. Memang begitu adanya. Semua hal-hal yang terjadi dua bulan, sebulan, hingga pagi yang lalu kembali terbayang. Bahkan hingga kejadian bertahun-tahun silam ketika musik Chris, Guy, Will, dan Jonny menjadi sahabat terbaik; yang diputar sejak bangun hingga menjelang tidur.

Akhirnya, saya ada di sana, mendengar geng Coldplay membawakan karya-karya mereka—yang banyak orang bilang mengalami degradasi sejak awal kemunculannya. Oh, whatever! 

Konser “A Head Full of Dream” di Singapura yang saya tonton memang bukan konser yang komunikatif, tapi entah kenapa, terasa akrab. Chris Martin tidak perlu bicara panjang lebar tentang lagu-lagu, album, atau–bahkan–tentang mereka. Mungkin justru lagu-lagu yang mereka sajikan tanpa jeda itu yang membuat konser terasa akrab, karena penonton–kami–kita–saya sudah sangat intim dengan itu semua. Terdengar halu, yah? Hahaha. Maksudnya, kebanyakan yang nonton di sana pasti sudah kenal dengan lagu Coldplay selama bertahun-tahun, minimal dari album Viva La Vida or Death and All His Friends atau Mylo Xyloto.

 

Sebelum penonton tuntas mencerap satu lagu yang disajikan, mereka sudah menyambungnya dengan lagu lain. Overwhelming? Yes, in a good way. Ketika intro lagu selanjutnya terdengar, saya sibuk lihat ke sekeliling untuk tahu warna dan pola seperti apa yang muncul di Xylo-bands di pergelangan tangan penonton.

Yellow – Every Teardrop Is a Waterfall – The Scientist – Always in My Head – Everglow – Clocks – Fix You – Heroes (milik David Bowie) – Viva La Vida – In My Place – Don’t Panic (Jonny and Will took over the mics) – A Sky Full of Stars – Up&Up – dan lagu-lagu lainnya berhasil bikin emosi saya campur aduk.

210
FIX YOU!

Masih seperti mimpi ketika saya bisa mendengar dan melihat mereka (meski hanya sebesar pulpen) dengan telinga dan mata kepala sendiri.

Ransel sudah saya tinggalkan di dekat tempat pengaturan suara sehingga saya bisa melonjak girang, bernyanyi sepuasnya, berusaha merekam momen dengan kamera dan memori, serta khidmat menundukkan kepala dengan iringan musik mereka. Ditambah pula dengan tayangan visual, confetti, bola-bola, Xylo-bands, dan tata suara yang cantik. Sensasinya luar biasa, pemirsaaaaaa! Dan satu lagi yang terpenting, saya bersama teman-teman terdekat (kami punya grup WhatsApp bernama #demiColdplay. :D). Kuterharu sungguh. Enggak bisa protes karena Everything’s Not Lost—lau favorit saya—enggak dinyanyikan.

 

400
Malam minggu terbaik!

Oke, tulisan ini belum bisa menggambarkan apa yang saya rasakan akhir pekan lalu. Mungkin hanya sepersepuluh… persen.

Rasanya, saya ingin lari dari area penonton, memanjat panggung, dan memeluk mereka satu-satu buat bilang “terima kasih”. Terima kasih untuk malam Minggu terbaik. Terima kasih telah membantu saya dan jutaan orang lainnya melewati masa sulit. Terima kasih telah membuat karya indah. Terima kasih telah memasukkan Asia Tenggara ke dalam agenda tur. Dan atas hal-hal lainnya.

Semoga ada kesempatan lagi untuk menonton mereka lagi di negeri asalnya. YAK, BM kali kau, manusia! Hahaha. Anyway, selamat buat Singapura yang mendapat tambahan devisa beberapa juta dolar dengan menyelenggarakan konser ini. AHA!

 

*P.S. Abang Chris Martin ternyata ganteng betul.

 

Kilas Konser

tame impala 1
Buram!

Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang musik banget. Kalah jauh kalau dibandingkan orang-orang yang bersedia mengeluarkan uang banyak untuk hobi bermusiknya atau nonton konser-konser impian, mencurahkan hidup untuk musik, atau “sekadar” ngulik musisi idola, dan mencari lagu-lagu baru untuk didengar. Tapi saya enggak bisa enggak mendengar lagu, musik, irama, atau apapun itu. Percaya atau tidak, daftar putar di iTunes saya pun hampir tidak pernah ganti selama beberapa tahun terakhir. Selera musik juga standar, hahaha. Dengar musik baru, sih, iya, tapi yang lama-lama selalu di hati. Ketahuan kalau anaknya susah move on.  Salah satu kebiasaan buruk saya juga berkaitan dengan musik: tidak matikan laptop semalaman demi ada backsound lagu-lagu favorit saat tidur. *Dihajar environmentalist*

Walaupun amatir dalam urusan musik, tapi datang ke konser—apalagi yang menampilkan musisi idola—adalah kesenangan tersendiri. Semacam pengalaman religius lah. Energi yang muncul di ajang seperti itu menggairahkan sekali, mungkin mirip sama orgasme. Perpaduan ingar-bingar musik, tayangan visual, bincang dan aksi panggung si musisi, plus reaksi penonton menghasilkan spirit yang enggak bakal didapat dari sekadar melihat dan mendengar mereka di pemutar musik, Youtube, atau siaran langsung di televisi. Berbeza sekali. Jadi, wajar kalau saya geregetan setengah mati saat mendengar ada band favorit yang akan datang ke Indonesia. Inginnya, sih, ditonton semua, tapi harus sadar dompet diri.

Dari beberapa konser yang pernah ditonton, termasuk festival, ada beberapa yang amat berkesan buat saya. Salah tiganya adalah penampilan Sigur Ros di Fort Canning, Singapura, November 2012; Bon Iver di Star Theatre, Singapura, Februari 2016; dan Tame Impala di Jakarta semalam. Yang pertama karena hujan dan pengalaman nonton konser di luar negeri pertama. Yang kedua karena tata suaranya bagus kebangetan.

Konser yang ketiga menyenangkan karena… baru ditonton tadi malam. Yaelah! Oke, serius. Walaupun saya cuma tahu (lebih kurang) sepuluh lagu dari dua album terdahulunya, tapi penampilan Tame Impala kemarin berkesan karena konsernya simpel dan tayangan visual yang menghipnotis. Warna dan pattern-nya juara! Intinya, karya visual yang ditembak ke layar putih itu berpadu apik dengan lagu-lagu mereka yang psychedelic. Mungkin kalau tipsy bakal berkali lipat bagusnya, hihihi. Plus, lagu-lagu di album Currents (2015) ini semacam soundtrack kehidupan beberapa waktu belakangan. Jarak, keputusan, perbedaan, perpisahan, pembaruan, dan sebagainya bercampur sempurna di karya itu plus di hidup saya. Beberapa lagu di album baru band Australia ini memang lebih terdengar ceria dari album-album mereka terdahulu, sih. Tapi itu hanya kedok, saudara-saudara! Isinya tetap bikin ingin iris nadi, hahaha. But I had fun last night! We’re drenched in sweat, Kevin, in a good way.

tame impala 2
Bahagia!

Oh, terima kasih kepada seorang teman yang menjual tiket murah dan bikin saya jadi nonton konser ini. 😀

Jakarta, 1 Mei 2016