Merambah Mrauk-U

Perlu sehari semalam untuk mencapai Mrauk U dari Yangon. Tapi saya tidak menyesal memilih mantan ibukota kerajaan itu sebagai salah satu tujuan ketika traveling ke Myanmar tahun lalu. Malah–bisa jadi–ia adalah tempat yang paling berkesan dari enam area yang saya kunjungi di negeri itu. Jezuba!

mr2
Sunrise di Mrauk U

Berbulan-bulan lalu, pada suatu dini hari, saya sampai di Mrauk U, sebuah kota kecil di bagian barat Myanmar. Gelap dan sunyi; lampu jalan hanya ada satu atau dua. Persis di pedesaan Indonesia.

Sebelum memutuskan untuk ke Mrauk U, saya mencoba mencari penginapan yang ringan di kantong. Tapi, Mrauk U bukan Bagan atau Mandalay. Di sini, pariwisata belum menjadi tulang punggung perekonomian, meski sejarah yang diembannya tak kalah menarik dari dua kota tersebut. Hotel-hotel yang muncul di situs pemesanan tak banyak dan harganya tak sesuai bujet saya yang masih punya 10 hari lagi di Myanmar.

Alhasil, pada dini hari itu, saya cuma bisa bengong di muka restoran yang tutup sambil cari ide untuk bisa cepat istirahat. Aha! Yang pertama, diam di situ–duduk di tas yang dibawa–sampai matahari muncul sekira tiga jam lagi. Atau menyusuri jalan gelap dan menuju hotel terdekat yang ditunjukkan oleh peta di ponsel tanpa sinyal internet.

Kedua opsi tersebut gugur ketika ada tiga pengendara motor mendekat. Salah satunya bicara bahasa Inggris dan saya bilang tidak butuh ojek (di Myanmar, mereka menyebutnya mototaxi atau taxi) karena belum tahu mau menginap di mana. Tanpa diduga, dia bilang kalau ada tempat yang kosong di penginapan temannya. Setelah dia menyebut tarif “taksi”, saya setuju untuk menuju tempat yang direkomendasikan. Semesta berkati, saya bisa segera istirahat.

Kelelahan tidak membuat saya bisa langsung tidur. Kamar yang lembap jadi satu alasan, tapi ada alasan lain kenapa saya tidak segera terlelap: otak saya mendeteksi bunyi tembakan. Benar atau tidak? Sepertinya tidak benar, karena tidak ada kehebohan warga; area itu tetap sunyi dan gelap. Sepertinya, alam bawah sadar yang membuat saya dirundung panik.

mr5.jpg
Hitung ada berapa pagoda!

Mrauk U berada tidak jauh dari Maungdaw, di mana bentrok antara polisi dan Rohingya terjadi beberapa minggu sebelum saya tiba di sana. Tidak jauh dalam ukuran Myanmar bisa jadi sangat jauh karena infrastruktur jalanan antara kedua daerah tidak selalu beraspal dan segaris lurus. Kabar menyebutkan, kekacauan itu merambat ke mana-mana. Banyak warga yang dipindahkan ke Mrauk U dan menempati barak-barak pengungsian.

Tidak adil rasanya kalau menganggap Myanmar hanya punya pagoda. Dari perjalanan bus dan hiking yang saya lakukan, saya yakin kalau negeri ini juga punya alam yang indah. Hanya saja pagoda memang bisa ditemui di mana saja—termasuk di tempat-tempat yang tidak diperkirakan—dan akses masih terbatas serta dibatasi.

Tapi perjalanan saya ke Mrauk U memang diniatkan untuk melihat pagoda. Informasi yang saya dapat dari beragam artikel dan forum menyebutkan bahwa kawasan ini punya ribuan pagoda. Mirip dengan Bagan yang berada lebih di utara, tapi degan jenis pagoda yang berbeda. Di sini, kebanyakan pagoda berwarna abu-abu atau hitam karena terbuat dari batu. Bentuknya pun lebih banyak yang menyerupai lonceng. Dan…. semuanya tidak terkunci!

Dulunya, kawasan yang kini ditetapkan sebagai situs arkeologi ini adalah ibukota Kerajaan Mrauk U. Kerajaan tersebut menjadi yang terkuat dan penting di wilayah Rakhine. Lokasinya strategis menghubungkan kota pelabuhan Sittwe dan kota-kota lain di daratan Myanmar. Kesejahteraan membuat mereka ingat pada Yang Kuasa, ribuan kuil dan pagoda dibangun untuk menyampaikan rasa syukur.

Sejarah berubah ketika kerajaan ini ditaklukkan oleh satu kerajaan dari Burma. Pamornya semakin susut hingga kini. Mrauk U dilewati begitu saja oleh warga yang bepergian ke SIttwe yang lebih ramai dan ternama. Ia juga tidak ada di dalam daftar perjalanan para pelancong karena lokasinya melenceng dari Yangon-Bagan-Mandalay dan jaraknya jauh dari mana-mana.

mr3
Bocah-bocah yang antar saya ke bukit, Jezuba!

Tapi justru itu serunya!

Di sini, saya menghabiskan waktu berjam-jam melihat pagoda serta matahari terbit dan tenggelam dari atas bukit. Dijejeri pemuda lokal yang tanya segala macam, mulai dari nama sampai jodoh. Minum whisky murah khas Burma, yang rasanya lebih tidak enak daripada anggur Cap Orang Tua, bersama sesama pelancong dan agen tur. Naik bukit jam 5 pagi saat mata masih sepet. Mendengar pemandu tur yang menjelekkan keburukan Rohingya dan Islam. Menikmati segala kesunyian dan kesederhanaan. Dan, ya itu, mengatasi kepanikan yang tidak beralasan. Diantar ke sana kemari oleh abang ojek (abang yang sama dengan yang pertama kali saya tiba di Mrauk U) secara gratis! Dikelilingi oleh satu keluarga—nenek, ibu, anak, menantu, kakek—saat bertanya alamat.

Tapi setiap perjalanan pasti ada akhir (duile!). Saya harus melanjutkan perjalanan ke kota lain setelah tiga hari berada di Mrauk U. Malam hari sebelum pulang, saya membayar tiket bus yang telah dipesan sebelumnya.

mr1.jpg
Panas banget!

Setelah membayar, seorang tua memanggil. “Kamu betul orang Indonesia?” tanyanya yang saya jawab dengan anggukan kepala. Rupanya, temannya—si penjual tiket—yang bilang bercerita kalau ada anak Indonesia keluyuran sendirian di Mrauk U.

“You’re so brave,” dia melanjutkan. Saya bukan satu-satunya solo traveler di Mrauk U, tapi saya mengerti kenapa ia bilang begitu. Kami alu berbincang sedikit dan dia minta saya menceritakan tentang Mrauk U kepada orang lain. “Di sini aman, same as Bagan,” katanya. Ia mengatakannya setelah bertanya apa agama saya dan saya bilang kepadanya tentang kabar yang saya baca di internet.

Ya, semoga saja ada usia dan kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana dan berbincang lebih lama dengan si bapak.

Jakarta, Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam Pertama di Myanmar

Perjalanan saya di Myanmar bermula di Yangon, mantan ibukota negara tersebut. Di sana, saya menghabiskan dua hari dan satu malam. Judulnya enggak ambigu, ‘kan?

Saya singgah lebih kurang enam jam di KLIA2. Semesta bersama para ilmuwan yang menciptakan wi-fi, sehingga saya bisa membunuh waktu (enggak enak, ya, kalau dialihbahasakan. :D) dengan menelepon seorang teman yang juga sedang ada di bandara itu. Tapi dia sudah masuk ke boarding room, sedangkan saya belum check-in karena jadwal terbang masih lama. Saya lalu menceritakan apa yang terjadi sebelum berangkat—tentang keputusan untuk tidak mengambil tawaran sekali seumur hidup. Yang di luar dugaan; ternyata membuat saya sedih bukan main. Heuu.

Dia mendengarkan dengan saksama. Itu saja sudah cukup, mengingat saya berada jauh dari rumah dan tidak berencana memberi tahu Ibu tentang keputusan ini.

Pagi hari—setelah sedikit tidur, cuci muka, dan sikat gigi, saya melewati pemeriksaan imigrasi bersama ratusan orang lainnya. Kejadian menyedihkan harus dibayar dengan kesenangan, hahaha. Let the sadness go away and enjoy this trip! Begitu mantra yang berulang kali saya ucapkan dalam hati.

Sesampainya di gate yang ditentukan, saya merasa sedang di bandara di Indonesia. Pertama, karena paras serta gaya mbak dan mas Myanmar mirip orang Indonesia. Kedua, karena banyak yang bawaannya banyak dan bawa kardus. Semacam orang Indonesia kalau mau mudik. Hihihi. Di pesawat juga kelakuannya hampir mirip: masih pada telepon atau foto-foto sebelum pesawat take-off. Menyinggung SARA enggak sih kalau saya cerita seperti itu? Enggak, kan, ya?! Enggak, kan, ya?!

Di pesawat, saya berniat untuk tidur, tapi enggak bisa. Tetap terjaga dan masih terbayang kejadian kemarin. Oh, no! Buat saya, hal-hal seperti itu pasti sulit dilupakan. Apalagi saya ingin sekali pekerjaan itu, tapi faktor eksternal yang tidak mendukung. Pasti si Pemred majalahnya ketawa, nih, kalau dia baca. Jadi, dua setengah jam perjalanan dari Sepang ke Yangon (baca: Yanggon), saya habiskan buat bengong. Benar-benar bengong sembari lihat ke luar jendela pesawat, semacam adegan film gitu, lah.

Apa yang harus dilakukan begitu sampai di Yangon?

Kalau ada bagasi, maka antre untuk ambil bagasinya. Krik krik.

Untuk mendapat izin masuk ke negeri dengan berjuta-juta pagoda ini, warga Indonesia hanya perlu mengisi selembar permohonan visa. Lembaran tersebut bisa didapat di bandara. Jadi, ada semacam meja tinggi di pojok ruang imigrasi. Biasanya, banyak orang berkumpul di situ untuk mengisi “surat izin” tersebut. Waktu itu, saya langsung ke loket imigrasi tanpa mengisi kertas itu. Untung mas yang jaga baik dan enggak jutek. Cuma diminta keluar antrean sebentar untuk mengisinya dan selesai—paspor dicap. Dengan visa on arrival itu, WNI diperbolehkan untuk berada di Myanmar selama 14 hari.

Selanjutnya, langsung ke loket penukaran uang. Di terminal internasional mereka, ada dua—kalau enggak salah—loket penukaran uang. Daaaan.. cuma menerima dolar yang bagus. Eh, maksudnya bisa mata uang lain, tapi yang masih dalam kondisi prima (duile) dan enggak lecek. Tapi, sebagai gantinya, mereka kasih kita kyat yang lecek. *nangis* Mau menukar dalam jumlah banyak sekalian juga enggak apa-apa. Sepanjang pengalaman saya, sih, kursnya tidak jauh beda dengan di bank atau di tengah kota. Kalau mau beli SIM card di bandara juga bisa. Loketnya ada di sebelah tempat penukaran uang.

Di luar gedung, sudah banyak taksi yang ngetem untuk antar kita ke tengah kota. Etapi, untuk memudahkan komunikasi, hampiri loket taksi yang berada di dalam gedung. Tinggal bilang nama penginapan yang dituju, nanti mbak dan mas yang jaga bakal menuliskan alamat yang dimaksud dalam aksara Myanmar dan memberi tahu tarifnya. Waktu itu, saya dikenai 8.000 kyat (hampir Rp90.000) untuk ke penginapan di daerah Bogyoke.

Dari situ, petualangan dimulai.

1
Bapak sopirnya kelihatan cimit.

Setir mobil-mobil di Myanmar ada di kiri, sama seperti Indonesia. Tapi jalur mobilnya berkebalikan dari Indonesia. Kenapa? Kenapa enggak? Zzz. Karena titah pemimpin. Dan di Yangon enggak ada motor. Kenapa? Kenapa nggak? Zzz. Karena titah pemimpin.

Oh, Yangon juga macet!

Bye!

Ke mana saja di Yangon? 

IMG_20161214_172642
Rumeuk.

Cuma keliling-keliling downtown dan ke pagoda. Karena cuma sebentar, saya harus melewatkan Inya Lake, danau yang dikelilingi taman dan berada tidak jauh dari bandara. Dan saya lebih penasaran dengan Shwedagon Pagoda karena, katanya, besar sekali.

20161021_142654
Makanan khas Yangon: KFC!

Myanmar pada Oktober seharusnya adalah Myanmar yang adem, tidak panas dan tanpa hujan. Tapi, percayalah kalau perubahan iklim itu nyata, saudara-saudara! Jadi, waktu saya berkunjung ke sana, Yangon masih kerap hujan. Bukan hujan yang deras, tapi gerimis yang hilang timbul. Kzl. Untungnya, saya bawa payung ke sana, padahal enggak pernah bawa kalau di Indonesia.

Setelah berkeliling di sekitar penginapan di bawah gerimis, saya jalan ke Shwedagon Pagoda. Jaraknya mungkin sekira dua kilometer dari Pasar Bogyoke yang ternama. Dan benar saja, bikin jaw dropping banget itu pagodanya. Besarrrrrrrrrr sekali. Tinggi dan luas sekaliiiiii. Kalau “antena”-nya dihitung, tingginya mencapai seratus meter. Di sekelilingnya, banyak pagoda-pagoda kecil beragam warna, ukuran, dan gaya. Turis harus bayar 8.000 kyat dan diberi stiker sebagai tanda masuk.

IMG_20161207_111444
Shwedagon
IMG_20161216_020329
Hellaw!

Sebagai pagoda terbesar dan terpopuler di Yangon, tempat ini ramai bukan main. Sampai malam, pengunjung masih datang dan pergi. Walaupun ramai, saya betah di situ; mungkin hampir lima jam di sana. Mulai dari duduk, jalan-jalan, foto-foto, memandangi patung Buddha,

Terus pulang ke penginapan lagi dan mengobrol dengan pelancong lain. Ini penting banget untuk berbagi informasi tentang daerah lainnya, karena Myanmar–walaupun sudah jauh lebih terbuka dan jadi tempat tujuan wisata–tapi enggak semua hal tentangnya sudah tercantum di internet. Misalnya, tentang penginapan. Lagipula, Yangon sudah sepi sejak pukul 9. Seorang perempuan Jerman harus berjalan dua kilometer untuk beli makanan berat setelah jam 9.30 malam.

Keesokan harinya, saya cuma ke Chinatown dan ke Pasar Bogyoke yang jadi sentra suvenir di Yangon. Lalu, ke terminal bus yang jaraknya sepuluh kilometer dari pusat kota untuk naik bus ke kota lain.

Jadi, bagaimana impresi pertama tentang Myanmar? Sulit! Saya tidak suka Yangon, kecuali Shwedagon. Berantakan banget! Semacam seluruh kota isinya Jatinegara dan Glodok semua, hahaha. Tapi, ‘kan enggak mungkin membenci Myanmar hanya karena berada di Yangon dalam waktu yang singkat. Hate is such a strong word though.

Daripada menggerutu di Yangon, selanjutnya saya pilih untuk pergi ke pantai pada hari ulang tahun. Yuhuuuuuuu. Jaraknya? 13 jam perjalanan menggunakan bus. *garuk-garuk kepala*

Jakarta, 1 Mei 2017

#demiColdplay

Jadi bagaimana kelanjutan kisah perjalanan ke Myanmar?

Ah, tunggu dululah. Itu mungkin bisa jadi kisah yang panjang. Ini ada pengalaman yang lebih hangat: konser Coldplay! Aha. Pembaca kecewa? Ah, biarlah. Ya, itupun kalau ada yang mau teruskan membaca.

535
Can you spot them?

Menonton konser Coldplay agaknya sudah menjadi salah satu bucket list saya sejak SMP. Ya, perkenalan saya dengan band Inggris itu dimulai dengan menyalin lirik “Yellow” di organizer dan dihias-hias dengan tinta warna-warni waktu masih berseragam putih-biru. Ngaku aja, deh, kalau ada di antara kalian yang pernah begitu juga! Ahak.

Menonton konser Sigur Ros, Bon Iver, Bigbang, dan the xx memang termasuk dalam daftar saya. Ya, selain Radiohead, Adele, Beach House, dan lain-lainnya. Tapi menyaksikan Coldplay secara langsung adalah lebih dari itu. Mungkin bisa disejajarkan dengan impian saya pergi ke Islandia atau naik haji. Lalu dilaknat. :3

Jadi, ketika dengar Coldplay akan konser di Singapura, saya sudah meneguhkan hati akan menonton. Biarlah tabungan kembali terkuras, yang penting nonton! Hamdallah, ketika orang-orang teriak enggak bisa akses situs penjualan tiket, saya berhasil beli saat hari pertama penjualan dibuka untuk umum. Tiket pesawat, sih, lain cerita. HAHAHA.

 

***

H-1 keberangkatan, paspor saya baru jadi. Bego banget, sih, enggak ngecek kapan paspor lama habis masa berlaku? Tunggu, saudara! Ada drama lain yang terjadi di baliknya. Tapi sudahlah, yang itu lupakan. Yang jadi highlight justru setelah paspor jadi.

Urutannya begini: terlambat tiba di bandara → ketinggalan pesawat terpagi ke Kuala Lumpur → tunggu pesawat ke Batam yang harusnya berangkat jam 12.00 → keberangkatan tertunda satu jam (padahal bukan maskapai singa) → sampai di Batam jam 15.30 WIB → menyeberang ke Singapura dengan ferry jam 16.00 WIB → sampai di Singapura jam 18.00 karena sudah WIB + 1 jam → sekira 45 menit di Singapura bersama puluhan #jemaahColdplay lainnya → naik MRT 30 menit → sampai di depan Singapore National Stadium Gate 22 sekira jam 19.40.

Yang kocak, dari Bandara Hang Nadim, Batam, saya naik taksi dengan empat orang lainnya yang punya kisah sendiri-sendiri demi menonton konser ini. Ada pasangan yang seharusnya menonton tanggal 31 Maret, tapi dikabari kalau ada kerabat yang meninggal ketika sudah di boarding room. Alhasil mereka harus pulang. Tiket yang mereka punya lalu dijual dan nekat ke Singapura tanggal 1 April, meski belum punya tiket konser baru. Satu orang lainnya ditolak berangkat hari sebelumnya karena masa berlaku paspornya kurang dari enam bulan. Satu lainnya berasal dari Makassar dan harus berangkat sendiri karena temannya batal pergi demi mengerjakan side job. 

Sampai di stadion, saya lari-lari dengan tas ransel berisi baju untuk tiga hari di negara itu, dua orang teman sudah menunggu di sana dengan muka cemas. Kalau mereka tidak berhasil mendengar lagu pembuka, itu berarti saya akan dipersalahkan (atau merasa bersalah) karena tiket saya masih ada di tangan mereka. O, Yang Maha Baik, saya berhasil sampai tepat waktu dan masih bisa geser sana-sini untuk dapat tempat menonton yang lumayan nyaman, meski jauh dari panggung. Jam 20.15, konser dimulai.

We live in a beautiful world, really.

461
“Gelang” ini jadi salah satu variabel yang bikin konser menarik!

Lampu stadion dimatikan, intro berkumandang. Lalu suara Chris Martin mulai menggema. Sungguh pun semua kelelahan dari perjalanan menuju ke sana langsung sirna. Kaki gemetar dan mata berkaca-kaca. Oke, lebay! Oke, enggak. Memang begitu adanya. Semua hal-hal yang terjadi dua bulan, sebulan, hingga pagi yang lalu kembali terbayang. Bahkan hingga kejadian bertahun-tahun silam ketika musik Chris, Guy, Will, dan Jonny menjadi sahabat terbaik; yang diputar sejak bangun hingga menjelang tidur.

Akhirnya, saya ada di sana, mendengar geng Coldplay membawakan karya-karya mereka—yang banyak orang bilang mengalami degradasi sejak awal kemunculannya. Oh, whatever! 

Konser “A Head Full of Dream” di Singapura yang saya tonton memang bukan konser yang komunikatif, tapi entah kenapa, terasa akrab. Chris Martin tidak perlu bicara panjang lebar tentang lagu-lagu, album, atau–bahkan–tentang mereka. Mungkin justru lagu-lagu yang mereka sajikan tanpa jeda itu yang membuat konser terasa akrab, karena penonton–kami–kita–saya sudah sangat intim dengan itu semua. Terdengar halu, yah? Hahaha. Maksudnya, kebanyakan yang nonton di sana pasti sudah kenal dengan lagu Coldplay selama bertahun-tahun, minimal dari album Viva La Vida or Death and All His Friends atau Mylo Xyloto.

 

Sebelum penonton tuntas mencerap satu lagu yang disajikan, mereka sudah menyambungnya dengan lagu lain. Overwhelming? Yes, in a good way. Ketika intro lagu selanjutnya terdengar, saya sibuk lihat ke sekeliling untuk tahu warna dan pola seperti apa yang muncul di Xylo-bands di pergelangan tangan penonton.

Yellow – Every Teardrop Is a Waterfall – The Scientist – Always in My Head – Everglow – Clocks – Fix You – Heroes (milik David Bowie) – Viva La Vida – In My Place – Don’t Panic (Jonny and Will took over the mics) – A Sky Full of Stars – Up&Up – dan lagu-lagu lainnya berhasil bikin emosi saya campur aduk.

210
FIX YOU!

Masih seperti mimpi ketika saya bisa mendengar dan melihat mereka (meski hanya sebesar pulpen) dengan telinga dan mata kepala sendiri.

Ransel sudah saya tinggalkan di dekat tempat pengaturan suara sehingga saya bisa melonjak girang, bernyanyi sepuasnya, berusaha merekam momen dengan kamera dan memori, serta khidmat menundukkan kepala dengan iringan musik mereka. Ditambah pula dengan tayangan visual, confetti, bola-bola, Xylo-bands, dan tata suara yang cantik. Sensasinya luar biasa, pemirsaaaaaa! Dan satu lagi yang terpenting, saya bersama teman-teman terdekat (kami punya grup WhatsApp bernama #demiColdplay. :D). Kuterharu sungguh. Enggak bisa protes karena Everything’s Not Lost—lau favorit saya—enggak dinyanyikan.

 

400
Malam minggu terbaik!

Oke, tulisan ini belum bisa menggambarkan apa yang saya rasakan akhir pekan lalu. Mungkin hanya sepersepuluh… persen.

Rasanya, saya ingin lari dari area penonton, memanjat panggung, dan memeluk mereka satu-satu buat bilang “terima kasih”. Terima kasih untuk malam Minggu terbaik. Terima kasih telah membantu saya dan jutaan orang lainnya melewati masa sulit. Terima kasih telah membuat karya indah. Terima kasih telah memasukkan Asia Tenggara ke dalam agenda tur. Dan atas hal-hal lainnya.

Semoga ada kesempatan lagi untuk menonton mereka lagi di negeri asalnya. YAK, BM kali kau, manusia! Hahaha. Anyway, selamat buat Singapura yang mendapat tambahan devisa beberapa juta dolar dengan menyelenggarakan konser ini. AHA!

 

*P.S. Abang Chris Martin ternyata ganteng betul.

 

Kenapa Myanmar?

236.jpg
Myanmar, Oktober 2016

 

Sebulan sebelum keberangkatan.

Sebenarnya, yang ingin ke Myanmar itu sahabat saya. Kayaknya, dia sudah menyebut-nyebut ingin berkunjung ke negara itu sejak 2015, deh. Tapi belum kesampaian karena tidak menemukan waktu yang pas. Dari seringnya saya mendengar nama negara itu dia sebut, saya iseng cek tiket ke Myanmar dan beberapa negara Asia Tenggara untuk vakansi pas ulang  tahun. Ternyata yang termurah adalah harga tiket ke Yangon (note: dari KLIA 2—anak LCC banget. :D); hanya sekira Rp500 ribu. Ya, beli saja dulu, berangkatnya urusan belakangan. Macam banyak uang.

Inginnya, sih, ke Thailand untuk merayakan pergantian usia tahun lalu. Karena itu semacam negara tujuan sejuta umat, tapi saya belum pernah sama sekali ke sana. Padahal, katanya, harga-harga di sana murah dan enggak bakal bikin rekening jebol. Tapi, ya, kenapa tiket ke sana sekarang mahal? Sedih. Lalu, ide jenius muncul. Mari ke Thailand sepulang dari Myanmar. Harga tiket Yangon ke Bangkok pun lebih bersahabat daripada Kuala Lumpur ke Bangkok ataupun Jakarta ke Bangkok. Yeay!

Sejak sebulan sebelum berangkat, saya riset tentang Myanmar; Yangon dan teman-temannya. Tertarik? Tidak! Hahaha. Intinya, saya masih setengah hati mau ke Myanmar karena memang dari dulunya enggak terlalu ingin ke sana. But, anyway, I have a wish to visit all the ASEAN countries. So… Myanmar is definitely on the list. Belum lagi, sepanjang yang saya dengar dan baca, biaya hidup di sana cukup tinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam juga isu Rohingya sedang kembali mencuat. Makinlah negara itu tidak menarik. Tapi, sudahlah, yang terpenting ‘kan tidak di Indonesia ketika ulang tahun.

Selanjutnya, saya bikin daftar kota yang akan dikunjungi selama seminggu di sana. Makin banyak riset, makin banyak tempat yang masuk daftar. Hiks. Belum lagi mau ke Thailand dan Laos, ‘kan. Akhirnya, diputuskan kalau durasi vakansi kali ini diperpanjang menjadi dua minggu. Hore! Dapat cuti? Ternyata dapat!

Hari H. Kamis, 20 Oktober 2016

Hari itu, konsentrasi saya sudah terbelah. Semua bawaan sudah dipak rapi di backpack 40 liter yang dibawa sejak pagi ke kantor. Tapi saya belum tukar uang rupiah ke dolar (mata uang Myanmar enggak tersedia di Indonesia) dan masih harus menyelesaikan plus mengedit artikel sebelum berangkat nanti sore. Yang lebih parah, saya mesti memutuskan keberlanjutan saya di kantor media tempat bekerja waktu itu.

Stres.

Long story short, semuanya berhasil teratasi dengan baik, meskipun saya harus mengambil keputusan berat untuk meninggalkan tawaran menarik untuk jadi travel editor di salah satu majalah terbaik yang pernah saya baca. Lima menit setelah mengambil keputusan itu dan mengobrol sebentar dengan rekan kerja, saya berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan saya harus ada di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.30. Saya pergi dengan gundah. Risau. Galau.

Tapi mungkin itulah saat yang tepat. Sebulan setelah keberangkatan ini, saya bakal jobless dan belum tentu akan melakukan apa yang saya suka lagi. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat yang tepat untuk tetirah buat saya pada masa itu. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagaian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat tanpa yang hening buat saya yang sedang kacau.

Di tengah banyaknya ketidakjelasan—termasuk itinerary, yang jelas adalah saya akan terbang ke Kuala Lumpur, menunggu beberapa jam, sampai di Yangon keesokan paginya, berpindah ke Bagan untuk lihat beribu kuil dan puluhan balon udara melayang di sekitarnya, trekking di Inle Lake, dan ikut berkabung karena mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej. Sudah.

Tapi—ternyata—berkonsentrasi untuk liburan saja bisa sebegitu sulitnya waktu itu.

Jakarta, Maret 2017

Yang Pertama Selalu Berkesan

Waktu di Ga Ninh Bình sudah menunjukkan jam 8 malam ketika saya sampai di sana. Sial, kereta menuju Hanoi baru berangkat setengah jam yang lalu. Daaan.. kereta selanjutnya baru akan berangkat ketika hari berganti, menjelang jam 2 dini hari. Tapi, ya, apa boleh buat? Rasanya tidak mungkin mencari penginapan untuk bermalam waktu itu. Sebab penerbangan saya pulang ke Jakarta—lewat Kuala Lumpur—dijadwalkan pada pagi berikutnya, jam 9. Tidak mungkin terkejar kalau harus ke Ibu Kota dengan bis pertama pun.

Keinginan memang tidak selalu harus dipenuhi, apalagi yang muncul sekelebat. Sembari menunggu kereta dini hari, saya hanya bisa menertawai diri mengingat alasan berkunjung ke Ninh Binh. Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat saya memutar memori kunjungan ke Vietnam yang bermula tujuh hari sebelumnya. Yang pertama memang selalu berkesan.

***

5b
Pulang!

Dua setengah jam sebelumnya, Pak Taksi yang menjemput saya dari Trang An Landscape Complex (TALC) menurunkan saya di pinggir jalan utama. Dari situ, saya bisa mencegat bus untuk kembali ke Hanoi. Bus antarkota memang selalu lewat situ, tetapi hanya sampai jam 6 sore. Zzz. Saya pun keukeuh mencoba peruntungan karena waktu sudah mepet.

Hingga 6.30, tidak ada bus yang lewat. Kalaupun ada, tujuannya bukan ke Hanoi. Saya sebenarnya bakal santai-santai saja kalau besoknya tidak harus pulang ke Jakarta. Malah senang kalau bisa memperpanjang liburan.

Berbekal Maps yang offline, saya cari terminal bus sembari bertanya pada orang-orang yang ditemui. Masalahnya, kota ini adalah kota kecil yang belum terlalu terpapar pariwisata. Susah banget cari orang yang bisa berbahasa Inggris. Saya ke minimarket dan mencoba berkomunikasi dengan mbak penjaganya. Nihil. Dia tidak mengerti apa yang saya katakan, meski sudah berbekal Google Translate di komputer dia dan emotikon di ponsel saya. Beruntung seorang bocah yang sama-sama sedang jajan mengerti bahasa Inggris dan menyampaikan pertanyaan saya. Nihil. Sudah tidak ada bus katanya.

Saya ingat tadi siang melalui persimpangan besar dan di sana ada beberapa gerai penjual tiket bus. Sampai, tapi enggak ada kehidupan dan toko-tokonya sudah tutup semua. Alhasil, saya balik lagi ke arah TALC dengan gundah gulana. Mana gerimis pula! Lalu, mampir ke warung kaki lima dan mencoba tanya-tanya lagi. Mas penjaganya lihat jam dan menyilangkan tangan di depan dada. Sudah enggak bakal ada bus, maksudnya.

Ah, pasti ada, saya masih optimis. Saya tanya lokasi terminal dan jalan lagi ke arah yang ditunjukkannya. Jauh, cuy! Sudah jalan beberapa lama, enggak ketemu juga itu terminal. Akhirnya, saya cegat taksi dan menunjukkan gambar bus. Eh, masnya paham. *terharu* Tapi terminal bus memang sudah gelap, tidak ada kehidupan.

Balik lagi, deh. Rencana kali ini adalah ke arah pintu masuk TALC atau cari hotel dan tanya di situ. Sembari terus-terusan lihat Maps, saya lihat ada tanda stasiun. Berarti mungkin ada kereta yang menuju Ibu Kota. Hore! Dengan berbunga-bunga, saya mencoba mencari lokasi stasiun dan sampai di titik yang ditunjukkan. Tapi, kok, enggak ada, sih? Tanya bapak ojek, dia juga tidak tahu. Ya, sudah, saya jalan lagi. Sampai akhirnya bertemu orang yang baru turun bus dan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Eh tapi dia juga enggak tahu di mana posisi stasiun.

NAH, saat itulah kesedihan bertambah parah.

Ketika sedang berjalan, ada mas-mas akamsi yang mengikuti dan tanya-tanya. Makin lama, saya merasa terganggu. Akhirnya saya menyeberang untuk menghindarinya karena mau jawab dan tanya juga dia enggak ngerti.

Beberapa setelah menyeberang, dia datang lagi. Tanya-tanya lagi. Kali ini, pakai mencolek di bagian pinggang yang tertutup selendang. Saya makin kesal dan teriak “No!”. Saya lalu mempercepat langkah menuju sebuah toko sampai yakin benar dia hilang dari pandangan. Sebagai tamu di negara orang, saya masih mikir untuk tidak membalas perlakuannya dengan tindakan fisik.

Rasanya campur aduk, deh. Saya, yang awalnya cuma khawatir tidak bisa sampai Hanoi besok pagi, jadi panik dan takut kalau si mas-mas tadi datang lagi. Hujan pula. Sedihnya berlipat-lipat dan merasa tolol karena mengambil langkah impulsif hanya karena tidak jadi ke Halong Bay. Tapi, toh, penyesalan juga tidak berguna. Mau marah juga sama siapa? Si Mas Akamsi sudah hilang entah ke mana.

Setelah berjalan berkilo-kilo lagi, saya menyerah dan mencegat taksi. Saya mengucap Ga Ninh Bình sembari menunjukkan emotikon kereta dengan harapan dia tahu di mana stasiun berada (Ga dalam bahasa Vietnam berarti stasiun). PUJI TUHAN! Dia mengantarkan saya ke tempat yang tepat, bahagianya bukan main. Tapi ternyata…  kereta baru berangkat setengah jam sebelumnya.

6.jpg
Ga Ninh Binh

Jadilah saya menunggu berjam-jam di situ ditemani suara hujan yang makin menderas dan gemuruh bersahut-sahutan. Lampu stasiun pun sempat mati dan bapak penjaganya kehabisan solar untuk generator. Untungnya tidak lama dan beberapa traveler lain mulai datang untuk menunggu kereta ke selatan. Ketika kereta mereka sudah datang, kereta saya ke utara masih sejam kemudian. Nikmati saja, sembari berusaha ngobrol dengan bapak penjaga yang pulang hujan-hujanan beli solar. Ha. Ha. Ha.

Lalu baru check in ke kamar hotel jam 4 pagi dan jam 7 harus berangkat ke bandara. Yha.

Bandung, Desember 2016-Januari 2017

Vakansi Sendiri: Vietnam (5) – Ninh Bình

Sehari sebelumnya, saya kehabisan tiket kereta dari Hue ke Hanoi. Alhasil, satu-satunya cara untuk secepatnya mencapai Ibu Kota adalah dengan menaiki sleeper bus yang dijadwalkan tiba di tujuan jam 6 pagi. Sejam kemudian—seharusnya—saya sudah duduk santai di bus menuju Ha Long Bay. Sayangnya, rencana itu terlalu ideal. Enggak mungkin perjalanan hubungan saya sesempurna itu, hahaha.

Setelah menghabiskan malam di perjalanan, saya sampai di (pinggiran) Hanoi jam 6.30. Masih sempatlah harusnya buru-buru ke penginapan dan memaksakan diri ikut tur ke daerah wajib kunjung di Vietnam itu. Tapi entah di manalah pengemudi bus itu menurunkan penumpang, yang pasti bukan di pusat Kota Hanoi. Akhirnya, saya dan seorang pelancong dari Portugal memutuskan untuk berbagi taksi menuju penginapan kami masing-masing. Baru 500 meter, si sopir berbuat ulah. Kami harus berdebat tentang argo kuda yang terpasang di dashboard taksinya dan tawar-menawar ongkos ke tengah kota. Bubar sudah impian leha-leha di Ha Long Bay sebagai penutup liburan kali itu.

Baiklah, ganti ke plan B. Keliling Hanoi saja atau santai di penginapan dan packing tas. Tetot. Jalanan Hanoi sedang ditutup di sana-sini. Rupanya 2 September adalah peringatan kemerdekaan Negeri Paman Ho dari Prancis dan dirayakan dengan pawai selama beberapa jam. Saya dan Helena, mbak Portugis, cuma bisa ketawa menyadari keadaan tersebut dan memilih mengobrol di gerai kopi sembari menunggu jalan dibuka tiga jam kemudian. Ha. Ha. Ha.

Hampir jam 11, kami melintasi Danau Hoan Kiem yang superpenuh dengan pengunjung untuk mencapai penginapan. Tapi ‘kan belum bisa check in. Hmmm. Ide brilian—yang nantinya berubah nestapa—muncul. Mari mengunjungi Trang An di Ninh Binh. Seorang teman pernah bercerita tentang tempat itu, yang juga pernah dijadikan lokasi shooting reality show Running Man dari Korea.

Lanskap Trang An hampir mirip dengan Ha Long Bay. Bedanya, grotto dan limestone di situ berada di “darat”, di tengah persawahan dan tak jauh dari jalan raya, sedangkan di Ha Long ada di teluk yang menghadap laut.

Berbekal informasi dari mbak resepsionis hotel, saya menuju Terminal Giap Bat di Hanoi bagian selatan untuk naik bus ke Ninh Binh. Abang kondektur menurunkan saya di signage Trang An Landscape Complex (TALC) dan menunjukkan taksi-taksi yang bisa mengantarkan saya ke lokasi persisnya. Setelah tawar menawar dengan sopir taksi, saya diantar ke kawasan yang ternyata sudah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site dan akan dijemput jam 4.30 sore.

1
Ibu-ibu yang siap mengantar keliling Trang An

Ada beberapa rute yang ditawarkan untuk mengunjungi grotto dan limestone di situ  Pengunjung tinggal ke loket, pilih rute yang diinginkan, bayar tiket seharga 150.000 VND, lalu antre untuk naik ke perahu. Tiap tur akan berhenti di kuil-kuil dan berlangsung selama sekira dua jam.

Banyak hal yang bikin saya tercengang di Trang An. Jajaran limestone yang cuma berjarak—lebih kurang—lima kilometer dari jalanan utama, perempuan-perempuan pendayung perahu (berat, cuy!), dan kuil-kuil yang dibangun di puncak bukit batu. Niat gila! Kami saja yang sudah diberi kemudahan dengan tangga masih kepayahan untuk mencapai kuil-kuil tersebut, apalagi zaman dulu, deh. Terus ada beberapa grotto yang bakal dilewati untuk mencapai satu kuil ke kuil lainnya. Oh ya, kuil yang dipakai shooting Running Man itu tingginya bukan main. *pengsan*

2Serenity!

4b
Kuil-kuilnya masih digunakan untuk beribadah
3
Lewat gua di grotto
4c
Sayangnya enggak bisa berenang di situ

Teman seperahu saya dua dari Vietnam dan dua dari Laos. Iya, dua-duanya pasangan. Zzz. Untungnya, mereka santai-santai banget. Tiap berhenti bisa ngaso sampai 15 menit atau bahkan lebih. Jadi, saya bisa tetap lihat kuil-kuil yang ada di atas bukit, meski waktu tempuhnya cukup lama karena lumayan menanjak.

Waktu saya ke sana, tidak banyak pengunjung dari luar negeri. Mungkin karena banyak orang lebih memilih untuk mengunjungi Ha Long Bay daripada ke sini.

Yang kocak, banyak orang yang heboh ketika tahu saya dari Indonesia. Mereka manggut-manggut dan mengerti kenapa gaya busana saya berbeda, padahal muka Asia dan bukan bule. Karena mereka yang di utara, termasuk Ninh Binh, memang lebih “tertutup” daripada warga selatan. Sedangkan saya pakai tanktop yang ditutupi oleh syal besar, hahaha. *ngumpet di perahu*

Sepertinya, durasi tur perahu yang diberikan itu tidak cukup, padahal saya di sana sampai tempat wisata itu ditutup. Masih ingin bengong-bengong cantik sambil lihat grotto. Ah, ya sudahlah, yang penting berhasil mengobati kekecewaan karena tidak jadi ke Ha Long Bay dan nanti akan lihat kembang api di tengah kota Hanoi.

Tapi, rupanya, perjalanan saya di Ninh Binh belum selesai sampai di situ.

Jakarta, Desember 2016-Januari 2017

Vakansi Sendiri: Vietnam (4) – Huế

Huế berada di Vietnam bagian tengah dan hampir pasti dilalui jika berkendara dari Ho Chi Minh ke Hanoi lewat jalan darat. Pamornya memang belum sekencang kedua kota besar tersebut atau, bahkan, Hội An yang jadi favorit para pelancong Eropa. Tapi bagi para penyuka wisata sejarah, kawasan ini sangat layak dikunjungi. Sebab Huế pernah menjadi ibukota Vietnam puluhan hingga ratusan tahun lalu ketika masih berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh Dinasti Nguyễn.

Turun dari bus, saya disambut oleh sekawanan pengendara motor. Mereka menawarkan jasanya untuk mengantar para pelancong ke tempat-tempat bersejarah, mulai dari makam raja, kuil, serta istana. Sembari tersenyum, saya menolak tawaran mereka. Jual mahal, hahaha. Eh, bukan, sih, lebih tepatnya karena saya enggak tahu harga yang pas untuk menggunakan jasa mereka dan belum tahu mau ke mana.

Setelah Googling apa yang bisa saya lakukan di situ di kantor Sinh Tourist—perusahaan otobus yang membawa saya dari Hội An, saya memutuskan untuk mulai perjalanan. Berdasarkan yang saya baca, jarak dari kantor tersebut ke Imperial City “hanya” 5 kilometer. Inginnya, sih, saya jalan kaki saja . Sebab saya cuma akan berkunjung ke satu tempat dan melanjutkan perjalanan ke Hanoi pada sore hari demi mengejar tur ke Halong Bay keesokan paginya. Sounds perfect!

Tapi rencana berubah seketika saat ada seorang bapak ojek yang menghampiri. Dia membawa peta dan menunjukkan tempat-tempat yang bisa didatangi. Saya—yang enggak punya peta fisik dan daring—kalah poin. Ya, sudah. Kami bernegosiasi dengan bahasa kalbu kalkulator dan saya setuju membayar 150.000VND (kalau tidak salah) untuk jasanya mengantar ke tiga tempat. Sedetik kemudian, saya sudah duduk manis di motor bebek lawas Si Bapak untuk menuju tempat pertama: Tomb of Khải Định. Lokasinya ternyata di pinggiran kota, sekira sepuluh kilometer dari pusat kota. Karena tidak sampai di lokasi setelah sepuluh menit berkendara, saya sampai mengira akan diculik oleh Si Bapak.

Raja Khải Định memerintah dari 1916 sampai 1925 sebagai raja ke-12 dari Dinasti Nguyễn. Gosipnya, raja ini dianggap sebagai boneka penjajah karena terlalu dekat dengan Pemerintah Prancis. Seperti raja-raja lainnya, dia juga membangun rumah untuk jasadnya. Meski dibilang bukan yang terbesar, buat saya kompleks yang dipengaruhi gaya Eropa dan Asia ini sudah sangat luas. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus bayar 100.000VND dan menapaki tangga yang cukup curam.

1025
Para Penjaga

Sebelum mencapai bangunan utama, pengunjung akan disambut oleh patung-patung yang menyerupai penasihat dan pengawal raja. Dibandingkan suasana di mana raja bersemayam, saya merasa lokasi tersebut lebih angker, hahaha. Beranjak ke dalam, suasana angker menjelma jadi indah. Hampir seluruh dinding dalam bangunan dilapisi oleh keramik dan kaca patri yang cantik. Enggak mengherankan kalau pembangunannya mencapai sebelas tahun. Sebagai pencinta motif tradisional, saya malah sibuk mengagumi dinding daripada nonton film sejarah yang diputar di ruang depan. Drop.

1066
Kaisar Ke-12
1087
Di Depan Bangunan Utama

Setelah selesai, Si Bapak mengantar saya ke kuil. Sebenarnya saya ingin ke makam lain, tetapi lokasinya terpencar jauh dan bapak itu tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Jadi, saya menurut saja. Lagipula, entah kenapa, kuil selalu bisa memberi kedamaian yang selalu saya butuhkan. Bohong. Kuil yang kami tuju bernama Thiên Mụ, juga didirikan oleh Dinasti Nguyễn. Yang seru dari kuil ini justru bagian belakangnya, sepi bukan main.

1200
Pagoda Tujuh Tingkat

Oke, waktu semakin dekat dengan jadwal keberangkatan kereta. Saya segera menuju ke tempat terakhir: Istana! Karena kurang riset (lagi-lagi), saya agak kaget ketika harus membayar 150.000VND untuk masuk ke situ. Setelah berada di dalam, saya merasa sangat tidak keberatan bayar segitu mahalnya (kalau dikonversi ke rupiah, sekira Rp100.000 waktu itu). Citadel ini amat besar dan banyak yang bisa dilihat, meskipun banyak juga bangunan yang masih direstorasi. Ada ruang raja, lapangan, kuil, ruang pertemuan, kuil lagi, taman, perpustakaan, taman lagi, koridor yang cukup panjang, ruang pertunjukan, koridor lagi, taman lagi, penjelasan tentang sejarah kerajaan, dan lain-lain. Lebih kurang, saya menghabiskan tiga jam di sini dan belum merasa puas, hahaha. Pintu masuknya memang satu, tapi pintu keluarnya banyak banget. Si Bapak sampai menandai peta yang (akhirnya) saya dapat sebagai tempat penjemputan.

1238
Pintu Masuk Citadel

1267 Secuplik Taman Istana

1256
Menelusuri Jejak Nguyen

Sembari duduk dan mengurut kaki yang kelelahan, saya berkhayal babu bagaimana rasanya hidup sebagai anggota kerajaan. Jalan di koridor panjang bergerombol dengan dayang-dayang padahal cuma mau antar raja ke ruang rapat atau kamar tidur. Dan istirahat membaca dengan melihat pemandangan di sekitar perpustakaan. Bagus, deh, dekat selokan danau kecil. Bikin iri! Oh ya, ada satu bangunab di mana pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, semacam di Keraton. Lalu jadi bertanya-tanya, siapa raja Indonesia yang punya hubungan baik dengan kerajaan ini?

Oh, sungguhlah, kalau tidak mengejar kereta ke Hanoi, saya mau menghabiskan waktu di situ hingga diusir oleh penjaganya.

1244
Suka Sekali Lantainya!

Kala itu—dan masih sampai sekarang, saya berpikir keras mengapa Dinas Pariwisata Vietnam berani memberlakukan tiket masuk yang cukup tinggi untuk objek-objek wisata di Huế. Memang, sih, kota ini sudah dinyatakan sebagai situs bersejarah oleh UNESCO, tapi tetap saja itu termasuk mahal untuk ukuran pelancong dalam dan luar negeri. Apalagi Vietnam terkenal dengan biaya hidupnya yang supermurah. Saya membandingkan dengan Indonesia. Beberapa tahun silam, saya pernah melihat ada orang yang tidak mau bayar untuk masuk ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Padahal tiket masuknya tidak sampai Rp5.000. Hahaha, miris.

Tentang itu mungkin akan dibahas pada lain kesempatan.

Sebab pikiran itu terhenti oleh rasa deg-degan karena belum dapat tiket ke Hanoi (lagi-lagi). Dengan menunjukkan emotikon kereta di ponsel, saya minta diantar ke stasiun. Oke, kata Si Bapak. Eh, tahunya, dia malah mengantar saya ke tempat turun bis tadi. -____-“ Singkat cerita, dia menelepon temannya yang bisa berbahasa Inggris untuk bicara dengan saya dan kemudian mentranslasikan kepadanya dalam bahasa Vietnam. Berhasil. Kali ini, dia membawa saya ke stasiun kereta, yang ternyata tidak terlalu jauh dari Citadel di pinggir Sungai Hương (Perfume River). Sesampainya di sana, seorang pemandu wisata yang bisa berbahasa Inggris bilang kalau tiket kereta ke Hanoi sudah tidak dijual. Kalaupun penjualan masih dibuka, tiketnya sudah habis.

Sedih. Cảm ơn.1

Jakarta, Desember 2016

 

1 →Terima kasih dalam bahasa Vietnam