Mau ke Myanmar? Baca Dulu! (2)

bapak
Hello again!

Ternyata tulisan tentang hal-hal yang harus diketahui sebelum ke Myanmar ini beranak pinak. Jadi dibagi dua saja, deh–yang sebelumnya ada di sini. Marilah segera lanjutkan agar segera selesai dan kamu bisa segera tutup tab-nya. 😀

beetle nut
Itu masnya lagi bikin sirih buat dikunyah

1. Noda Merah di Pinggir Jalan
Bukan, bukan darah karena konflik! Tapi karena noda ludah dari orang yang mengunyah beetle nut. Hihihi. Seperti sebagian kecil warga Indonesia, penduduk Myanmar juga punya kebiasaan menyirih. Saya enggak tahu, sih, jenis sirih yang dimamah sama dengan di sini atau tidak. Yang pasti, penjual sirih ada di mana-mana. Pengunyah sirih tidak melulu laki-laki, perempuan juga ada. Untuk mengidentifikasinya, lihat saja geligi mereka yang menguning dan menghitam.

Untuk perkara ini, Pemerintah Myanmar telah mengeluarkan himbauan agar masyarakatnya tidak meneruskan kebiasaan menyirih. Pasalnya, aktivitas ini memang bikin gigi kuat, tapi punya dampak negatif lain pada kesehatan. Misalnya, menyebabkan kanker atau rentan penularan penyakit. Sebab pengunyah sirih lebih sering meludah dan seringkali, tidak mengenal tempat. Termasuk di pinggir jalan.

Aturan tinggal aturan. Masyarakat Burma tetap mengonsumsi beetle nut yang telah dipotong-potong, diberi “saus”, dan dibungkus oleh daun. Tertarik mencoba? Teman saya yang menjajalnya ini bilang kalau rasa “kudapan” tersebut seperti pasta gigi.

2. Bisa Minum Gratis
Keberadaan para biksu yang hilir mudik di setiap penjuru Burma mungkin jadi awal mula ketersediaan air minum gratis di negeri ini. Banyak tempat, seperti kuil dan restoran, menyediakan air putih gratis di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Jadi, kamu tidak perlu khawatir bakal kehausan saat sedang jalan-jalan, tapi tidak berbekal minuman.

Biasanya, air bening ditempatkan di tempayan yang terbuat dari tanah liat. Di sampingnya, sudah pasti ada gelas. Jamaknya, sih, semua orang minum dari gelas yang sama. Tidak usah pertanyakan tentang kebersihannya, silakan tenggak saja kalau haus. Hehehe. Untuk itu, sebaiknya kita bawa botol minum sendiri dan baru diisi ulang jika habis.

Biasanya, air bening ditempatkan di tempayan yang terbuat dari tanah liat. Di sampingnya, sudah pasti ada gelas. Jamaknya, sih, semua orang minum dari gelas yang sama. Tidak usah pertanyakan tentang kebersihannya, silakan tenggak saja kalau haus. Hehehe. Untuk itu, sebaiknya kita bawa botol minum sendiri dan baru diisi ulang jika habis.

side dish
Ini dia side dish khas Burma

3. Juga Banyak Side Dish Gratis! 
Hampir di setiap restoran, nasi dan lauk (biasanya ayam atau telur bumbu kari) dihargai 2000 kyat. Tapi yang disajikan di meja kita tidak hanya dua jenis makanan itu saja. Biasanya ada semangkuk sayur yang mirip sayur asem, tumisan, dan lalap mentah ataupun matang. Semacam kimchi kalau di Korea. Kalau lapar dan suka, silakan habiskan saja. Gratis! Minta nambah juga boleh, kecuali kalau belinya di warung semacam warteg kalau di Indonesia. Beda aturannya lagi itu.

4. Cek Peraturan dan Forum Traveler
Sebelum berangkat ke Myanmar, ada baiknya untuk mengecek situs pariwisata mereka untuk tahu aturan-aturan terkini atau perizinan yang kamu butuhkan untuk bertandang ke wilayah tertentu. Seperti juga ibukota dan bendera yang mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, peraturan untuk warga asing yang masuk ke sana juga mungkin mengalami penyesuaian. Fluid banget!

Selain itu, cek forum traveler. Memang, sih, kita tidak bisa seratus persen percaya kata orang lain. Tapi forum yang aktif bisa memberi insight tentang kawasan tertentu. Misalnya, salah satu tempat yang saya kunjungi berada di state yang mengalami konflik Rohingya tahun lalu. Sebelum berangkat, ada berita jika konflik kembali mencuat di kawasan itu dan kerusuhan menyebar hingga ke sejumlah daerah di sekitarnya. Tapi para pelancong bilang kalau daerah tersebut aman untuk dikunjungi. Cuss, deh, berangkat! Dan, terbukti memang aman.

Kuncinya, cari informasi terbaru. Untuk urusan Myanmar, kita enggak bisa mengandalkan informasi tahun 2015 untuk dijadikan acuan tahun ini atau tahun depan. Perubahan mereka bisa cukup ekstrem dari waktu ke waktu.

5. Bayar Tiket Masuk
Menjelajahi Mrauk U, Bagan, Mandalay, dan Inle Lake itu layaknya menjelajahi Dufan. Untuk bisa berkeliling dengan nyaman di empat tempat itu, sebaiknya pelancong membeli tiket masuk ke kawasan tertentu yang berlaku untuk sejumlah hari. Misalnya, tiket untuk masuk Bagan Archaelogical Zone adalah 25.000 kyat (hampir Rp250.000) dan berlaku selama lima hari. Harga tiket untuk Mandalay beda lagi. Kalau tidak salah 10.000 kyat untuk seminggu.

Harus banget beli? Sebenarnya, sih, enggak. Karena pengecekannya juga dilakukan secara acak. Di Bagan, misalnya. Selama tiga hari di Bagan, saya cuma sekali mengalami pengecekan. Beberapa wisatawan juga menolak membeli tiket masuk karena, menurut mereka, uang tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan junta militer. Entahlah.

Waktu di Mandalay, saya tidak bayar tiket. Karena tidak mengunjungi tempat yang ada penjualan tiketnya, cuma sehari di kota itu, dan sudah bayar tiket masuk kuil di Mandalay Hill. Hehehe.

jalan
Jalanan dari Ngapali ke Mrauk U

6. Siapkan Fisik!
Karena infrastruktur yang belum maksimal, perjalanan dari kota yang satu ke kota lainnya di Myanmar, terutama di luar poros Yangon-Bagan-Mandalay), cukup melelahkan. Pelancong harus siap berkendara berbelas-belas jam untuk mencapai tempat yang ditujunya, kecuali kamu punya uang berlebih untuk naik pesawat dari satu titik ke titik lainnya. Mahal banget lah!

Karena infrastruktur yang belum maksimal, perjalanan dari kota yang satu ke kota lainnya di Myanmar, terutama di luar poros Yangon-Bagan-Mandalay), cukup melelahkan. Pelancong harus siap berkendara berbelas-belas jam untuk mencapai tempat yang ditujunya, kecuali kamu punya uang berlebih untuk naik pesawat dari satu titik ke titik lainnya. Mahal banget lah!

Misalnya, perjalanan dari Yangon ke Mrauk U yang hanya 700 km ditempuh dalam waktu sehari semalam jika menggunakan bus. Pasalnya, selain jalannya belum sepenuhnya mulus, ada kalanya penumpang diminta turun sejenak untuk menyeberangi jembatan dan cek identitas. Ehehe. Untuk mengatasinya, saya pilih untuk menuju Ngapali—yang berada di antara Yangon dan Mrauk U—dan menikmati pantai sejenak sebelum kembali meneruskan perjalanan. Bisa juga naik pesawat dari Yangon ke Sittwe—kota pelabuhan dekat Mrauk U. Tapi dari situ masih harus naik bus atau perahu selama beberapa jam. Ya, sama saja lama.

Jadi, jangan percaya kalau Google Maps bilang jarak Yangon dan Bagan yang 600 km itu bisa ditempuh dalam waktu enam jam. Nyatanya, butuh waktu embilan hingga sepuluh jam paling cepat kalau naik bus! Jadi, enggak heran kalau banyak perusahaan bus yang menyediakan kelas VIP untuk perjalanan dengan durasi lama. Eh, mending naik kereta, dong? Enggak, sih. Kereta di sana superlambat dan—percayalah—masih lebih nyaman gerbong ekonomi di Indonesia.

Ah, di Indonesia juga infrastrukturnya belum bagus, kok! Ya iya, sih. Karena sama-sama negara berkembang; kondisinya hampir mirip. Tapi ‘kan posting-an ini lagi bahas tentang Myanmar. Ahak! Udah, ah!

Mau ke Myanmar? Baca dulu!

Kapan, ya, kisah perjalanan ke Myanmar ini kelar ditulis? Hahaha. Abaikan saja jika bosan, wahai pembaca yang budiman!

Myanmar is not everyone’s cup of tea, for sure. Waktu saya ke Vietnam sendirian tahun lalu, teman-teman banyak yang bilang “Ih, seru, ya!” atau “Di Vietnam ke mana aja?”. Sedangkan waktu ke Myanmar, respons yang sering saya dapat adalah “Ngapain, sih, ke Myanmar?” atau “Emang ada apa aja di Myanmar?” Hmm..

Kali ini, saya mau nulis tentang beberapa hal yang wajib kamu tahu sebelum berkunjung ke Negeri Aung San Suu Kyi. Siapa tahuuuu memang atau jadi ingin ke sana, ‘kan?

bagan
Sunset di Bagan

1. Tujuan Wisata Utama: Pagoda + Kuil
Enggak heranlah kalau pagoda dan kuil berada di peringkat teratas tujuan wisata di Myanmar. Pasalnya, mayoritas penduduk negara itu menganut agama Buddha yang menggunakan kedua bangunan tersebut sebagai tempat beribadah.

Sepertinya, jumlah masjid, musala, dan surau di Indonesia—yang berpenduduk mayoritas Muslim—pun masih kalah jauh dengan jumlah pagoda dan candi di Burma. Bayangkan, kawasan Old Bagan yang luasnya 104 kilometer persegi saja punya lebih 10.000 bangunan keagamaan. Mulai dari yang terdiri dari stupa, biara, kuil berukuran kecil, hingga kuil yang berukuran sangat besar sekali. Harus diakui kalau Bagan itu menyenangkan dan cantik.

 

trekking
Menuju Danau Inle

 

2. Wajib Coba Trekking
Sepanjang yang saya tahu, ada tiga tempat yang dikenal sebagai tempat trekking di Myanmar. Hsipaw di bagian utara, Kalaw di bagian tengah, serta Hpa-An yang terletak agak ke selatan. Oh oke, selain itu, saya ingat masih ada Keng Tung dan Putao di kawasan utara. Tapi, berdasarkan riset tahun lalu, keduanya membutuhkan izin khusus, biayanya lebih mahal, dan waktu lama. Hiks.

Dari sekian banyak jalur trekking, saya memilih yang paling mainstream, yaitu rute Kalaw-Inle Lake. Ada dua durasi yang bisa dipilih, yaitu tiga hari dua malam atau dua hari satu malam. Karena waktu yang mepet, saya memutuskan untuk pilih yang kedua. Seru enggak? Biasa aja, sih. HAHAHA, Tapi, ya, penting banget buat tahu sisi lain masyarakat Burma dan mengenal traveler dari negara lain. Cliché, but true. Aktivitas ini semacam pelajaran budaya yang enggak bakal didapat dari hanya membaca atau mendengar.

Kalau bisa diulang, saya mungkin akan pilih durasi yang lebih panjang dan trek yang lain. Berdasarkan cerita dari traveler lain, rute Hsipaw dan Hpa-An lebih menarik karena less touristy.

 

 

 

thant
Abang ojek

3. Warganya superbaik
Poin ketiga ini juga clichĂ©, but true. Sebagai orang Indonesia, kita pasti sudah sering mendengar tentang keramahtamahan masyarakat Nusantara yang ternama. Di Myanmar, saya merasakan keramahtamahan yang lebih-lebih. Pelancong-pelancong lain yang saya temui pun sependapat kalau tingkat kebaikan orang Myanmar ini luar biasa—bahkan keterlaluan dan hampir absurd. Hahaha.

Waktu di Yangon, saya ribet pegang payung dan kamera karena ingin foto bangunan, tapi sedang gerimis. Lalu, ada perempuan yang sedang lewat mencolek pundak saya dan menawarkan untuk memegangi payung agar saya lebih leluasa memotret. Wow!

Kali lain, saya ketemu abang taksi (baca: ojek) di Mrauk U, yang tidak mau dibayar ketika dia mengantar saya ke penginapan dan menuju bukit untuk melihat sunrise. Dini hari sebelumnya, dia mencarikan saya kamar kosong di penginapan milik temannya karena belum buat reservasi di mana pun.

Oh, tapi saya percaya, sih, sebenarnya kebaikan bisa ditemukan di mana saja. Bukan cuma di Myanmar, yang masyarakatnya disebut-sebut masih autentik karena negaranya baru “terbuka” dan belum terlalu terpapar oleh budaya lain.

Satu hal yang bikin saya takjub tentang kebaikan mereka mungkin ada hubungannya dengan represi terhadap Rohingya dan suku-suku lain di sana. Saya masih enggak habis pikir kenapa masyarakat yang begitu baik punya perkara kesukuan yang tak kunjung selesai. 😩

bagan 2
Paling nyaman, sih, pakai kaus dan celana longgar

4. Patuhi Aturan Berpakaian
Kita memang tidak akan disuruh ganti baju kalau mengenakan pakaian yang seksi di Myanmar. Tapi justru karena itu, sebaiknya gunakan baju yang sedikit “tertutup” ketika berada di negara ini. Mau pakai longyi seperti warga lokal juga boleh.

 

Hampir semua pagoda dan kuil—yang jadi objek wisata utama—masih digunakan sebagai tempat beribadah. Di depan pintu masuk bangunan semacam itu, biasanya ada plang yang berisi aturan berbusana; enggak boleh pakai celana pendek, baju bertali tipis, dan alas kaki untuk menghargai tempat suci dan warga yang sedang sembahyang.

Waktu saya trekking, pengelola tur juga meminta agar peserta tidak memakai celana pendek. Hal itu dilakukan untuk menghargai warga di desa-desa yang kita lalui. Sesuai pepatah lah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebagai pendatang, sudah sewajarnya kita menghormati tempat yang didatangi, toh.

Plus, karena bakal sering lepas alas kaki saat mengunjungi candi, sebaiknya pakai sandal ketika melancong di sini. Kecuali saat trekking, pastinya.

Udah, cuma empat saja, nih? No, enggak dong. Masih berlanjut ke sini!

 

Bandung, 1 Juli 2017

 

 

Merambah Mrauk-U

Perlu sehari semalam untuk mencapai Mrauk U dari Yangon. Tapi saya tidak menyesal memilih mantan ibukota kerajaan itu sebagai salah satu tujuan ketika traveling ke Myanmar tahun lalu. Malah–bisa jadi–ia adalah tempat yang paling berkesan dari enam area yang saya kunjungi di negeri itu. Jezuba!

mr2
Sunrise di Mrauk U

Berbulan-bulan lalu, pada suatu dini hari, saya sampai di Mrauk U, sebuah kota kecil di bagian barat Myanmar. Gelap dan sunyi; lampu jalan hanya ada satu atau dua. Persis di pedesaan Indonesia.

Sebelum memutuskan untuk ke Mrauk U, saya mencoba mencari penginapan yang ringan di kantong. Tapi, Mrauk U bukan Bagan atau Mandalay. Di sini, pariwisata belum menjadi tulang punggung perekonomian, meski sejarah yang diembannya tak kalah menarik dari dua kota tersebut. Hotel-hotel yang muncul di situs pemesanan tak banyak dan harganya tak sesuai bujet saya yang masih punya 10 hari lagi di Myanmar.

Alhasil, pada dini hari itu, saya cuma bisa bengong di muka restoran yang tutup sambil cari ide untuk bisa cepat istirahat. Aha! Yang pertama, diam di situ–duduk di tas yang dibawa–sampai matahari muncul sekira tiga jam lagi. Atau menyusuri jalan gelap dan menuju hotel terdekat yang ditunjukkan oleh peta di ponsel tanpa sinyal internet.

Kedua opsi tersebut gugur ketika ada tiga pengendara motor mendekat. Salah satunya bicara bahasa Inggris dan saya bilang tidak butuh ojek (di Myanmar, mereka menyebutnya mototaxi atau taxi) karena belum tahu mau menginap di mana. Tanpa diduga, dia bilang kalau ada tempat yang kosong di penginapan temannya. Setelah dia menyebut tarif “taksi”, saya setuju untuk menuju tempat yang direkomendasikan. Semesta berkati, saya bisa segera istirahat.

Kelelahan tidak membuat saya bisa langsung tidur. Kamar yang lembap jadi satu alasan, tapi ada alasan lain kenapa saya tidak segera terlelap: otak saya mendeteksi bunyi tembakan. Benar atau tidak? Sepertinya tidak benar, karena tidak ada kehebohan warga; area itu tetap sunyi dan gelap. Sepertinya, alam bawah sadar yang membuat saya dirundung panik.

mr5.jpg
Hitung ada berapa pagoda!

Mrauk U berada tidak jauh dari Maungdaw, di mana bentrok antara polisi dan Rohingya terjadi beberapa minggu sebelum saya tiba di sana. Tidak jauh dalam ukuran Myanmar bisa jadi sangat jauh karena infrastruktur jalanan antara kedua daerah tidak selalu beraspal dan segaris lurus. Kabar menyebutkan, kekacauan itu merambat ke mana-mana. Banyak warga yang dipindahkan ke Mrauk U dan menempati barak-barak pengungsian.

Tidak adil rasanya kalau menganggap Myanmar hanya punya pagoda. Dari perjalanan bus dan hiking yang saya lakukan, saya yakin kalau negeri ini juga punya alam yang indah. Hanya saja pagoda memang bisa ditemui di mana saja—termasuk di tempat-tempat yang tidak diperkirakan—dan akses masih terbatas serta dibatasi.

Tapi perjalanan saya ke Mrauk U memang diniatkan untuk melihat pagoda. Informasi yang saya dapat dari beragam artikel dan forum menyebutkan bahwa kawasan ini punya ribuan pagoda. Mirip dengan Bagan yang berada lebih di utara, tapi degan jenis pagoda yang berbeda. Di sini, kebanyakan pagoda berwarna abu-abu atau hitam karena terbuat dari batu. Bentuknya pun lebih banyak yang menyerupai lonceng. Dan
. semuanya tidak terkunci!

Dulunya, kawasan yang kini ditetapkan sebagai situs arkeologi ini adalah ibukota Kerajaan Mrauk U. Kerajaan tersebut menjadi yang terkuat dan penting di wilayah Rakhine. Lokasinya strategis menghubungkan kota pelabuhan Sittwe dan kota-kota lain di daratan Myanmar. Kesejahteraan membuat mereka ingat pada Yang Kuasa, ribuan kuil dan pagoda dibangun untuk menyampaikan rasa syukur.

Sejarah berubah ketika kerajaan ini ditaklukkan oleh satu kerajaan dari Burma. Pamornya semakin susut hingga kini. Mrauk U dilewati begitu saja oleh warga yang bepergian ke SIttwe yang lebih ramai dan ternama. Ia juga tidak ada di dalam daftar perjalanan para pelancong karena lokasinya melenceng dari Yangon-Bagan-Mandalay dan jaraknya jauh dari mana-mana.

mr3
Bocah-bocah yang antar saya ke bukit, Jezuba!

Tapi justru itu serunya!

Di sini, saya menghabiskan waktu berjam-jam melihat pagoda serta matahari terbit dan tenggelam dari atas bukit. Dijejeri pemuda lokal yang tanya segala macam, mulai dari nama sampai jodoh. Minum whisky murah khas Burma, yang rasanya lebih tidak enak daripada anggur Cap Orang Tua, bersama sesama pelancong dan agen tur. Naik bukit jam 5 pagi saat mata masih sepet. Mendengar pemandu tur yang menjelekkan keburukan Rohingya dan Islam. Menikmati segala kesunyian dan kesederhanaan. Dan, ya itu, mengatasi kepanikan yang tidak beralasan. Diantar ke sana kemari oleh abang ojek (abang yang sama dengan yang pertama kali saya tiba di Mrauk U) secara gratis! Dikelilingi oleh satu keluarga—nenek, ibu, anak, menantu, kakek—saat bertanya alamat.

Tapi setiap perjalanan pasti ada akhir (duile!). Saya harus melanjutkan perjalanan ke kota lain setelah tiga hari berada di Mrauk U. Malam hari sebelum pulang, saya membayar tiket bus yang telah dipesan sebelumnya.

mr1.jpg
Panas banget!

Setelah membayar, seorang tua memanggil. “Kamu betul orang Indonesia?” tanyanya yang saya jawab dengan anggukan kepala. Rupanya, temannya—si penjual tiket—yang bilang bercerita kalau ada anak Indonesia keluyuran sendirian di Mrauk U.

“You’re so brave,” dia melanjutkan. Saya bukan satu-satunya solo traveler di Mrauk U, tapi saya mengerti kenapa ia bilang begitu. Kami alu berbincang sedikit dan dia minta saya menceritakan tentang Mrauk U kepada orang lain. “Di sini aman, same as Bagan,” katanya. Ia mengatakannya setelah bertanya apa agama saya dan saya bilang kepadanya tentang kabar yang saya baca di internet.

Ya, semoga saja ada usia dan kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana dan berbincang lebih lama dengan si bapak.

Jakarta, Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Malam Pertama di Myanmar

Perjalanan saya di Myanmar bermula di Yangon, mantan ibukota negara tersebut. Di sana, saya menghabiskan dua hari dan satu malam. Judulnya enggak ambigu, ‘kan?

Saya singgah lebih kurang enam jam di KLIA2. Semesta bersama para ilmuwan yang menciptakan wi-fi, sehingga saya bisa membunuh waktu (enggak enak, ya, kalau dialihbahasakan. :D) dengan menelepon seorang teman yang juga sedang ada di bandara itu. Tapi dia sudah masuk ke boarding room, sedangkan saya belum check-in karena jadwal terbang masih lama. Saya lalu menceritakan apa yang terjadi sebelum berangkat—tentang keputusan untuk tidak mengambil tawaran sekali seumur hidup. Yang di luar dugaan; ternyata membuat saya sedih bukan main. Heuu.

Dia mendengarkan dengan saksama. Itu saja sudah cukup, mengingat saya berada jauh dari rumah dan tidak berencana memberi tahu Ibu tentang keputusan ini.

Pagi hari—setelah sedikit tidur, cuci muka, dan sikat gigi, saya melewati pemeriksaan imigrasi bersama ratusan orang lainnya. Kejadian menyedihkan harus dibayar dengan kesenangan, hahaha. Let the sadness go away and enjoy this trip! Begitu mantra yang berulang kali saya ucapkan dalam hati.

Sesampainya di gate yang ditentukan, saya merasa sedang di bandara di Indonesia. Pertama, karena paras serta gaya mbak dan mas Myanmar mirip orang Indonesia. Kedua, karena banyak yang bawaannya banyak dan bawa kardus. Semacam orang Indonesia kalau mau mudik. Hihihi. Di pesawat juga kelakuannya hampir mirip: masih pada telepon atau foto-foto sebelum pesawat take-off. Menyinggung SARA enggak sih kalau saya cerita seperti itu? Enggak, kan, ya?! Enggak, kan, ya?!

Di pesawat, saya berniat untuk tidur, tapi enggak bisa. Tetap terjaga dan masih terbayang kejadian kemarin. Oh, no! Buat saya, hal-hal seperti itu pasti sulit dilupakan. Apalagi saya ingin sekali pekerjaan itu, tapi faktor eksternal yang tidak mendukung. Pasti si Pemred majalahnya ketawa, nih, kalau dia baca. Jadi, dua setengah jam perjalanan dari Sepang ke Yangon (baca: Yanggon), saya habiskan buat bengong. Benar-benar bengong sembari lihat ke luar jendela pesawat, semacam adegan film gitu, lah.

Apa yang harus dilakukan begitu sampai di Yangon?

Kalau ada bagasi, maka antre untuk ambil bagasinya. Krik krik.

Untuk mendapat izin masuk ke negeri dengan berjuta-juta pagoda ini, warga Indonesia hanya perlu mengisi selembar permohonan visa. Lembaran tersebut bisa didapat di bandara. Jadi, ada semacam meja tinggi di pojok ruang imigrasi. Biasanya, banyak orang berkumpul di situ untuk mengisi “surat izin” tersebut. Waktu itu, saya langsung ke loket imigrasi tanpa mengisi kertas itu. Untung mas yang jaga baik dan enggak jutek. Cuma diminta keluar antrean sebentar untuk mengisinya dan selesai—paspor dicap. Dengan visa on arrival itu, WNI diperbolehkan untuk berada di Myanmar selama 14 hari.

Selanjutnya, langsung ke loket penukaran uang. Di terminal internasional mereka, ada dua—kalau enggak salah—loket penukaran uang. Daaaan.. cuma menerima dolar yang bagus. Eh, maksudnya bisa mata uang lain, tapi yang masih dalam kondisi prima (duile) dan enggak lecek. Tapi, sebagai gantinya, mereka kasih kita kyat yang lecek. *nangis* Mau menukar dalam jumlah banyak sekalian juga enggak apa-apa. Sepanjang pengalaman saya, sih, kursnya tidak jauh beda dengan di bank atau di tengah kota. Kalau mau beli SIM card di bandara juga bisa. Loketnya ada di sebelah tempat penukaran uang.

Di luar gedung, sudah banyak taksi yang ngetem untuk antar kita ke tengah kota. Etapi, untuk memudahkan komunikasi, hampiri loket taksi yang berada di dalam gedung. Tinggal bilang nama penginapan yang dituju, nanti mbak dan mas yang jaga bakal menuliskan alamat yang dimaksud dalam aksara Myanmar dan memberi tahu tarifnya. Waktu itu, saya dikenai 8.000 kyat (hampir Rp90.000) untuk ke penginapan di daerah Bogyoke.

Dari situ, petualangan dimulai.

1
Bapak sopirnya kelihatan cimit.

Setir mobil-mobil di Myanmar ada di kiri, sama seperti Indonesia. Tapi jalur mobilnya berkebalikan dari Indonesia. Kenapa? Kenapa enggak? Zzz. Karena titah pemimpin. Dan di Yangon enggak ada motor. Kenapa? Kenapa nggak? Zzz. Karena titah pemimpin.

Oh, Yangon juga macet!

Bye!

Ke mana saja di Yangon? 

IMG_20161214_172642
Rumeuk.

Cuma keliling-keliling downtown dan ke pagoda. Karena cuma sebentar, saya harus melewatkan Inya Lake, danau yang dikelilingi taman dan berada tidak jauh dari bandara. Dan saya lebih penasaran dengan Shwedagon Pagoda karena, katanya, besar sekali.

20161021_142654
Makanan khas Yangon: KFC!

Myanmar pada Oktober seharusnya adalah Myanmar yang adem, tidak panas dan tanpa hujan. Tapi, percayalah kalau perubahan iklim itu nyata, saudara-saudara! Jadi, waktu saya berkunjung ke sana, Yangon masih kerap hujan. Bukan hujan yang deras, tapi gerimis yang hilang timbul. Kzl. Untungnya, saya bawa payung ke sana, padahal enggak pernah bawa kalau di Indonesia.

Setelah berkeliling di sekitar penginapan di bawah gerimis, saya jalan ke Shwedagon Pagoda. Jaraknya mungkin sekira dua kilometer dari Pasar Bogyoke yang ternama. Dan benar saja, bikin jaw dropping banget itu pagodanya. Besarrrrrrrrrr sekali. Tinggi dan luas sekaliiiiii. Kalau “antena”-nya dihitung, tingginya mencapai seratus meter. Di sekelilingnya, banyak pagoda-pagoda kecil beragam warna, ukuran, dan gaya. Turis harus bayar 8.000 kyat dan diberi stiker sebagai tanda masuk.

IMG_20161207_111444
Shwedagon
IMG_20161216_020329
Hellaw!

Sebagai pagoda terbesar dan terpopuler di Yangon, tempat ini ramai bukan main. Sampai malam, pengunjung masih datang dan pergi. Walaupun ramai, saya betah di situ; mungkin hampir lima jam di sana. Mulai dari duduk, jalan-jalan, foto-foto, memandangi patung Buddha,

Terus pulang ke penginapan lagi dan mengobrol dengan pelancong lain. Ini penting banget untuk berbagi informasi tentang daerah lainnya, karena Myanmar–walaupun sudah jauh lebih terbuka dan jadi tempat tujuan wisata–tapi enggak semua hal tentangnya sudah tercantum di internet. Misalnya, tentang penginapan. Lagipula, Yangon sudah sepi sejak pukul 9. Seorang perempuan Jerman harus berjalan dua kilometer untuk beli makanan berat setelah jam 9.30 malam.

Keesokan harinya, saya cuma ke Chinatown dan ke Pasar Bogyoke yang jadi sentra suvenir di Yangon. Lalu, ke terminal bus yang jaraknya sepuluh kilometer dari pusat kota untuk naik bus ke kota lain.

Jadi, bagaimana impresi pertama tentang Myanmar? Sulit! Saya tidak suka Yangon, kecuali Shwedagon. Berantakan banget! Semacam seluruh kota isinya Jatinegara dan Glodok semua, hahaha. Tapi, ‘kan enggak mungkin membenci Myanmar hanya karena berada di Yangon dalam waktu yang singkat. Hate is such a strong word though.

Daripada menggerutu di Yangon, selanjutnya saya pilih untuk pergi ke pantai pada hari ulang tahun. Yuhuuuuuuu. Jaraknya? 13 jam perjalanan menggunakan bus. *garuk-garuk kepala*

Jakarta, 1 Mei 2017

Kenapa Myanmar?

236.jpg
Myanmar, Oktober 2016

 

Sebulan sebelum keberangkatan.

Sebenarnya, yang ingin ke Myanmar itu sahabat saya. Kayaknya, dia sudah menyebut-nyebut ingin berkunjung ke negara itu sejak 2015, deh. Tapi belum kesampaian karena tidak menemukan waktu yang pas. Dari seringnya saya mendengar nama negara itu dia sebut, saya iseng cek tiket ke Myanmar dan beberapa negara Asia Tenggara untuk vakansi pas ulang  tahun. Ternyata yang termurah adalah harga tiket ke Yangon (note: dari KLIA 2—anak LCC banget. :D); hanya sekira Rp500 ribu. Ya, beli saja dulu, berangkatnya urusan belakangan. Macam banyak uang.

Inginnya, sih, ke Thailand untuk merayakan pergantian usia tahun lalu. Karena itu semacam negara tujuan sejuta umat, tapi saya belum pernah sama sekali ke sana. Padahal, katanya, harga-harga di sana murah dan enggak bakal bikin rekening jebol. Tapi, ya, kenapa tiket ke sana sekarang mahal? Sedih. Lalu, ide jenius muncul. Mari ke Thailand sepulang dari Myanmar. Harga tiket Yangon ke Bangkok pun lebih bersahabat daripada Kuala Lumpur ke Bangkok ataupun Jakarta ke Bangkok. Yeay!

Sejak sebulan sebelum berangkat, saya riset tentang Myanmar; Yangon dan teman-temannya. Tertarik? Tidak! Hahaha. Intinya, saya masih setengah hati mau ke Myanmar karena memang dari dulunya enggak terlalu ingin ke sana. But, anyway, I have a wish to visit all the ASEAN countries. So
 Myanmar is definitely on the list. Belum lagi, sepanjang yang saya dengar dan baca, biaya hidup di sana cukup tinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam juga isu Rohingya sedang kembali mencuat. Makinlah negara itu tidak menarik. Tapi, sudahlah, yang terpenting ‘kan tidak di Indonesia ketika ulang tahun.

Selanjutnya, saya bikin daftar kota yang akan dikunjungi selama seminggu di sana. Makin banyak riset, makin banyak tempat yang masuk daftar. Hiks. Belum lagi mau ke Thailand dan Laos, ‘kan. Akhirnya, diputuskan kalau durasi vakansi kali ini diperpanjang menjadi dua minggu. Hore! Dapat cuti? Ternyata dapat!

Hari H. Kamis, 20 Oktober 2016

Hari itu, konsentrasi saya sudah terbelah. Semua bawaan sudah dipak rapi di backpack 40 liter yang dibawa sejak pagi ke kantor. Tapi saya belum tukar uang rupiah ke dolar (mata uang Myanmar enggak tersedia di Indonesia) dan masih harus menyelesaikan plus mengedit artikel sebelum berangkat nanti sore. Yang lebih parah, saya mesti memutuskan keberlanjutan saya di kantor media tempat bekerja waktu itu.

Stres.

Long story short, semuanya berhasil teratasi dengan baik, meskipun saya harus mengambil keputusan berat untuk meninggalkan tawaran menarik untuk jadi travel editor di salah satu majalah terbaik yang pernah saya baca. Lima menit setelah mengambil keputusan itu dan mengobrol sebentar dengan rekan kerja, saya berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan saya harus ada di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.30. Saya pergi dengan gundah. Risau. Galau.

Tapi mungkin itulah saat yang tepat. Sebulan setelah keberangkatan ini, saya bakal jobless dan belum tentu akan melakukan apa yang saya suka lagi. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat yang tepat untuk tetirah buat saya pada masa itu. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagaian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat tanpa yang hening buat saya yang sedang kacau.

Di tengah banyaknya ketidakjelasan—termasuk itinerary, yang jelas adalah saya akan terbang ke Kuala Lumpur, menunggu beberapa jam, sampai di Yangon keesokan paginya, berpindah ke Bagan untuk lihat beribu kuil dan puluhan balon udara melayang di sekitarnya, trekking di Inle Lake, dan ikut berkabung karena mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej. Sudah.

Tapi—ternyata—berkonsentrasi untuk liburan saja bisa sebegitu sulitnya waktu itu.

Jakarta, Maret 2017

Yang Pertama Selalu Berkesan

Waktu di Ga Ninh Bình sudah menunjukkan jam 8 malam ketika saya sampai di sana. Sial, kereta menuju Hanoi baru berangkat setengah jam yang lalu. Daaan.. kereta selanjutnya baru akan berangkat ketika hari berganti, menjelang jam 2 dini hari. Tapi, ya, apa boleh buat? Rasanya tidak mungkin mencari penginapan untuk bermalam waktu itu. Sebab penerbangan saya pulang ke Jakarta—lewat Kuala Lumpur—dijadwalkan pada pagi berikutnya, jam 9. Tidak mungkin terkejar kalau harus ke Ibu Kota dengan bis pertama pun.

Keinginan memang tidak selalu harus dipenuhi, apalagi yang muncul sekelebat. Sembari menunggu kereta dini hari, saya hanya bisa menertawai diri mengingat alasan berkunjung ke Ninh Binh. Lebih dari itu, pengalaman tersebut membuat saya memutar memori kunjungan ke Vietnam yang bermula tujuh hari sebelumnya. Yang pertama memang selalu berkesan.

***

5b
Pulang!

Dua setengah jam sebelumnya, Pak Taksi yang menjemput saya dari Trang An Landscape Complex (TALC) menurunkan saya di pinggir jalan utama. Dari situ, saya bisa mencegat bus untuk kembali ke Hanoi. Bus antarkota memang selalu lewat situ, tetapi hanya sampai jam 6 sore. Zzz. Saya pun keukeuh mencoba peruntungan karena waktu sudah mepet.

Hingga 6.30, tidak ada bus yang lewat. Kalaupun ada, tujuannya bukan ke Hanoi. Saya sebenarnya bakal santai-santai saja kalau besoknya tidak harus pulang ke Jakarta. Malah senang kalau bisa memperpanjang liburan.

Berbekal Maps yang offline, saya cari terminal bus sembari bertanya pada orang-orang yang ditemui. Masalahnya, kota ini adalah kota kecil yang belum terlalu terpapar pariwisata. Susah banget cari orang yang bisa berbahasa Inggris. Saya ke minimarket dan mencoba berkomunikasi dengan mbak penjaganya. Nihil. Dia tidak mengerti apa yang saya katakan, meski sudah berbekal Google Translate di komputer dia dan emotikon di ponsel saya. Beruntung seorang bocah yang sama-sama sedang jajan mengerti bahasa Inggris dan menyampaikan pertanyaan saya. Nihil. Sudah tidak ada bus katanya.

Saya ingat tadi siang melalui persimpangan besar dan di sana ada beberapa gerai penjual tiket bus. Sampai, tapi enggak ada kehidupan dan toko-tokonya sudah tutup semua. Alhasil, saya balik lagi ke arah TALC dengan gundah gulana. Mana gerimis pula! Lalu, mampir ke warung kaki lima dan mencoba tanya-tanya lagi. Mas penjaganya lihat jam dan menyilangkan tangan di depan dada. Sudah enggak bakal ada bus, maksudnya.

Ah, pasti ada, saya masih optimis. Saya tanya lokasi terminal dan jalan lagi ke arah yang ditunjukkannya. Jauh, cuy! Sudah jalan beberapa lama, enggak ketemu juga itu terminal. Akhirnya, saya cegat taksi dan menunjukkan gambar bus. Eh, masnya paham. *terharu* Tapi terminal bus memang sudah gelap, tidak ada kehidupan.

Balik lagi, deh. Rencana kali ini adalah ke arah pintu masuk TALC atau cari hotel dan tanya di situ. Sembari terus-terusan lihat Maps, saya lihat ada tanda stasiun. Berarti mungkin ada kereta yang menuju Ibu Kota. Hore! Dengan berbunga-bunga, saya mencoba mencari lokasi stasiun dan sampai di titik yang ditunjukkan. Tapi, kok, enggak ada, sih? Tanya bapak ojek, dia juga tidak tahu. Ya, sudah, saya jalan lagi. Sampai akhirnya bertemu orang yang baru turun bus dan bisa berbahasa Inggris sedikit-sedikit. Eh tapi dia juga enggak tahu di mana posisi stasiun.

NAH, saat itulah kesedihan bertambah parah.

Ketika sedang berjalan, ada mas-mas akamsi yang mengikuti dan tanya-tanya. Makin lama, saya merasa terganggu. Akhirnya saya menyeberang untuk menghindarinya karena mau jawab dan tanya juga dia enggak ngerti.

Beberapa setelah menyeberang, dia datang lagi. Tanya-tanya lagi. Kali ini, pakai mencolek di bagian pinggang yang tertutup selendang. Saya makin kesal dan teriak “No!”. Saya lalu mempercepat langkah menuju sebuah toko sampai yakin benar dia hilang dari pandangan. Sebagai tamu di negara orang, saya masih mikir untuk tidak membalas perlakuannya dengan tindakan fisik.

Rasanya campur aduk, deh. Saya, yang awalnya cuma khawatir tidak bisa sampai Hanoi besok pagi, jadi panik dan takut kalau si mas-mas tadi datang lagi. Hujan pula. Sedihnya berlipat-lipat dan merasa tolol karena mengambil langkah impulsif hanya karena tidak jadi ke Halong Bay. Tapi, toh, penyesalan juga tidak berguna. Mau marah juga sama siapa? Si Mas Akamsi sudah hilang entah ke mana.

Setelah berjalan berkilo-kilo lagi, saya menyerah dan mencegat taksi. Saya mengucap Ga Ninh BĂŹnh sembari menunjukkan emotikon kereta dengan harapan dia tahu di mana stasiun berada (Ga dalam bahasa Vietnam berarti stasiun). PUJI TUHAN! Dia mengantarkan saya ke tempat yang tepat, bahagianya bukan main. Tapi ternyata
  kereta baru berangkat setengah jam sebelumnya.

6.jpg
Ga Ninh Binh

Jadilah saya menunggu berjam-jam di situ ditemani suara hujan yang makin menderas dan gemuruh bersahut-sahutan. Lampu stasiun pun sempat mati dan bapak penjaganya kehabisan solar untuk generator. Untungnya tidak lama dan beberapa traveler lain mulai datang untuk menunggu kereta ke selatan. Ketika kereta mereka sudah datang, kereta saya ke utara masih sejam kemudian. Nikmati saja, sembari berusaha ngobrol dengan bapak penjaga yang pulang hujan-hujanan beli solar. Ha. Ha. Ha.

Lalu baru check in ke kamar hotel jam 4 pagi dan jam 7 harus berangkat ke bandara. Yha.

Bandung, Desember 2016-Januari 2017

Vakansi Sendiri: Vietnam (5) – Ninh BĂŹnh

Sehari sebelumnya, saya kehabisan tiket kereta dari Hue ke Hanoi. Alhasil, satu-satunya cara untuk secepatnya mencapai Ibu Kota adalah dengan menaiki sleeper bus yang dijadwalkan tiba di tujuan jam 6 pagi. Sejam kemudian—seharusnya—saya sudah duduk santai di bus menuju Ha Long Bay. Sayangnya, rencana itu terlalu ideal. Enggak mungkin perjalanan hubungan saya sesempurna itu, hahaha.

Setelah menghabiskan malam di perjalanan, saya sampai di (pinggiran) Hanoi jam 6.30. Masih sempatlah harusnya buru-buru ke penginapan dan memaksakan diri ikut tur ke daerah wajib kunjung di Vietnam itu. Tapi entah di manalah pengemudi bus itu menurunkan penumpang, yang pasti bukan di pusat Kota Hanoi. Akhirnya, saya dan seorang pelancong dari Portugal memutuskan untuk berbagi taksi menuju penginapan kami masing-masing. Baru 500 meter, si sopir berbuat ulah. Kami harus berdebat tentang argo kuda yang terpasang di dashboard taksinya dan tawar-menawar ongkos ke tengah kota. Bubar sudah impian leha-leha di Ha Long Bay sebagai penutup liburan kali itu.

Baiklah, ganti ke plan B. Keliling Hanoi saja atau santai di penginapan dan packing tas. Tetot. Jalanan Hanoi sedang ditutup di sana-sini. Rupanya 2 September adalah peringatan kemerdekaan Negeri Paman Ho dari Prancis dan dirayakan dengan pawai selama beberapa jam. Saya dan Helena, mbak Portugis, cuma bisa ketawa menyadari keadaan tersebut dan memilih mengobrol di gerai kopi sembari menunggu jalan dibuka tiga jam kemudian. Ha. Ha. Ha.

Hampir jam 11, kami melintasi Danau Hoan Kiem yang superpenuh dengan pengunjung untuk mencapai penginapan. Tapi ‘kan belum bisa check in. Hmmm. Ide brilian—yang nantinya berubah nestapa—muncul. Mari mengunjungi Trang An di Ninh Binh. Seorang teman pernah bercerita tentang tempat itu, yang juga pernah dijadikan lokasi shooting reality show Running Man dari Korea.

Lanskap Trang An hampir mirip dengan Ha Long Bay. Bedanya, grotto dan limestone di situ berada di “darat”, di tengah persawahan dan tak jauh dari jalan raya, sedangkan di Ha Long ada di teluk yang menghadap laut.

Berbekal informasi dari mbak resepsionis hotel, saya menuju Terminal Giap Bat di Hanoi bagian selatan untuk naik bus ke Ninh Binh. Abang kondektur menurunkan saya di signage Trang An Landscape Complex (TALC) dan menunjukkan taksi-taksi yang bisa mengantarkan saya ke lokasi persisnya. Setelah tawar menawar dengan sopir taksi, saya diantar ke kawasan yang ternyata sudah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site dan akan dijemput jam 4.30 sore.

1
Ibu-ibu yang siap mengantar keliling Trang An

Ada beberapa rute yang ditawarkan untuk mengunjungi grotto dan limestone di situ  Pengunjung tinggal ke loket, pilih rute yang diinginkan, bayar tiket seharga 150.000 VND, lalu antre untuk naik ke perahu. Tiap tur akan berhenti di kuil-kuil dan berlangsung selama sekira dua jam.

Banyak hal yang bikin saya tercengang di Trang An. Jajaran limestone yang cuma berjarak—lebih kurang—lima kilometer dari jalanan utama, perempuan-perempuan pendayung perahu (berat, cuy!), dan kuil-kuil yang dibangun di puncak bukit batu. Niat gila! Kami saja yang sudah diberi kemudahan dengan tangga masih kepayahan untuk mencapai kuil-kuil tersebut, apalagi zaman dulu, deh. Terus ada beberapa grotto yang bakal dilewati untuk mencapai satu kuil ke kuil lainnya. Oh ya, kuil yang dipakai shooting Running Man itu tingginya bukan main. *pengsan*

2Serenity!

4b
Kuil-kuilnya masih digunakan untuk beribadah
3
Lewat gua di grotto
4c
Sayangnya enggak bisa berenang di situ

Teman seperahu saya dua dari Vietnam dan dua dari Laos. Iya, dua-duanya pasangan. Zzz. Untungnya, mereka santai-santai banget. Tiap berhenti bisa ngaso sampai 15 menit atau bahkan lebih. Jadi, saya bisa tetap lihat kuil-kuil yang ada di atas bukit, meski waktu tempuhnya cukup lama karena lumayan menanjak.

Waktu saya ke sana, tidak banyak pengunjung dari luar negeri. Mungkin karena banyak orang lebih memilih untuk mengunjungi Ha Long Bay daripada ke sini.

Yang kocak, banyak orang yang heboh ketika tahu saya dari Indonesia. Mereka manggut-manggut dan mengerti kenapa gaya busana saya berbeda, padahal muka Asia dan bukan bule. Karena mereka yang di utara, termasuk Ninh Binh, memang lebih “tertutup” daripada warga selatan. Sedangkan saya pakai tanktop yang ditutupi oleh syal besar, hahaha. *ngumpet di perahu*

Sepertinya, durasi tur perahu yang diberikan itu tidak cukup, padahal saya di sana sampai tempat wisata itu ditutup. Masih ingin bengong-bengong cantik sambil lihat grotto. Ah, ya sudahlah, yang penting berhasil mengobati kekecewaan karena tidak jadi ke Ha Long Bay dan nanti akan lihat kembang api di tengah kota Hanoi.

Tapi, rupanya, perjalanan saya di Ninh Binh belum selesai sampai di situ.

Jakarta, Desember 2016-Januari 2017