Narasi Negatif

Kau tahu, kebencian itu bisa membunuh. Bahkan ketika kau tak menginginkannya: menginginkan kebencian itu ataupun menginginkannya membunuh. Senyatanya, dia kerap tumbuh malu-malu, datang tanpa tak diundang, dan menyulut ke sana kemari dengan semena-mena.

Atau memang itu yang sesungguhnya diharapkan?

Ah, tapi siapa yang ingin diliputi benci? Toh, itu tak benar, ujar norma. Tidak boleh membenci, itu yang kau dengar sejak masih kecil, bukan? Tidak ada yang benar dan sehat dari kebencian, begitu kata si bijak.

Lalu ketika kau membenci, apa yang akan kau lakukan? Membiarkannya bersarang dan berkelindan hingga mengakar? Atau berbalik membunuhnya perlahan? Tapi bukankah membunuh juga adalah hal yang jahat?

Sebenarnya, hidup akan terlalu menyedihkan jika hanya dipakai untuk membenci. Tapi terkadang mungkin harus dilakukan, demi satu alasan logis: kewarasan diri.

Jakarta, Oktober 2014 – November 2015

Lebih Baik Mana?

Pagoda Thien Vien Truc Lam [Da Lat, 2015]
Pagoda Thien Vien Truc Lam [Da Lat, 2015]
Yang mana yang paling bikin sedih: dinominasikan, tapi tidak menang atau tidak dinominasikan sama sekali? Ada model sepatu yang disuka, tapi tidak ada nomornya atau tidak melihatnya sama sekali? Punya teman, tapi tak ketahuan rimbanya atau tidak punya sama sekali? Pergi ke suatu tempat yang indah, tapi tidak punya waktu untuk menjelajahi atau tidak menginjakkan kaki sama sekali? Ditemani tanpa mengobrol atau tidak usah sama sekali? Menonton film, tapi ternyata jalan ceritanya jelek atau tidak memilih untuk menontonnya sama sekali? Berada di hubungan yang tidak membahagiakan atau tidak memilikinya sama sekali?

Jadi, lebih baik merasakan kesedihan atau tidak sama sekali?

Jakarta, Juli-Oktober 2015

Vakansi Sendiri: Vietnam (1)

“Apa serunya jalan-jalan sendiri?” Pertanyaan itu banyak diungkapkan saat saya mengutarakan niat untuk berpelesir ke Vietnam. Tidak cuma dari orang-orang di sekitar, tapi juga dari saya sendiri. Wajar saja, ini kali pertama saya pergi sendiri. Biasanya pasti ada tandem, satu, dua, bahkan hingga belasan orang.

Negeri Paman Ho masuk ke dalam daftar kunjung saya sejak dua tahun lalu. Pertama, karena ia berada di Asia Tenggara. Kedua, karena (kata orang) di sana serba murah. Jadi, saat dapat tiket dengan harga yang cukup terjangkau, ya, langsung beli saja! Tidak sempat mengajak siapapun pergi saat beli tiket karena sudah tak sanggup untuk dengar alasan “sibuk banget!” atau “nggak ada bujet”, hahaha. Tapi di balik rasa percaya diri bakal melakukan vakansi ini sendirian, saya masih berusaha mengajak beberapa orang. Kalau mereka tidak memberi kejelasan sampai tanggal keberangkatan yang sudah ditentukan, ya sudah. Bye!

Tanggal 26 Agustus 2015, saya akhirnya benar-benar berangkat. Sendirian. Di bis ke bandara, saya sibuk foto-foto matahari tenggelam. Padahal, selain merasakan kemewahan pulang cepat dari kantor, saya mengalihkan kekhawatiran tentang perjalanan solo ini. Buat beberapa orang, varian vakansi ini bukan hal yang aneh. Tapi buat saya, ini adalah sesuatu yang baru. Sedikit anxious itu wajar lah.

Keesokan harinya, saya menjejakkan kaki di Bandara Internasional Tan So Nhat di Kota Ho Chi Minh. Lalu, setelah segelas es teh lemon dari Burger King, saya merasa siap banget buat menikmati negara itu selama tujuh hari selanjutnya!

Ada lima kota yang saya kunjungi, yaitu Saigon, Mũi Né, Da Lat, Hội An, Huế, Ninh Binh, dan Hanoi. Ternyata tujuh hari itu kurang! Saya terpaksa mencoret beberapa tempat yang ingin dikunjungi karena keterbatasan waktu. Sayang banget! Jadi, mungkin akan ada jalan-jalan ke Vietnam 2.0.

Vietnam versi saya terlalu seru! Mungkin buat saya sendiri, sih. Tapi percayalah, vakansi sendiri itu memang (terlalu) seru. Setidaknya, saya butuh pergi sejauh itu dan setua ini buat tahu kalau hidup itu butuh perencanaan. Ih, kok baru tahu? Tapi harus fleksibel juga! Nah, menjaga keseimbangan keduanya yang sulit. Dalam kasus saya selama ini, yang ada selalu fleksibel, hahaha.

Dapat apa lagi dari perjalanan dua bulan lalu? Banyak!

Jakarta, 21 Oktober 2015

Semi Baru

Reunification Palace, Saigon, 2015
Reunification Palace, Saigon, 2015

Jengah, butuh sesuatu yang baru. Terus saja aku mengulangi kalimat itu dalam hati dan pikiran. Menimbang baik dan buruknya secara logis. Tapi di mana hati jika logika yang selalu menjadi pemenang? Ia juga butuh dimintai pendapat. Meski kadang bikin tersasar.

Mungkin aku hanya butuh penyegaran. Semicolon. Bukan titik, meski koma sudah tak berarti lagi.

Maka berjalanlah. Sejauh-sejauhnya agar tetap dekat. Agar tak lagi ingin yang baru, yang lebih berisiko. Mungkinkah demikian?

Jakarta, 11 September 2015