Vakansi Sendiri: Vietnam (5) – Ninh Bình

Sehari sebelumnya, saya kehabisan tiket kereta dari Hue ke Hanoi. Alhasil, satu-satunya cara untuk secepatnya mencapai Ibu Kota adalah dengan menaiki sleeper bus yang dijadwalkan tiba di tujuan jam 6 pagi. Sejam kemudian—seharusnya—saya sudah duduk santai di bus menuju Ha Long Bay. Sayangnya, rencana itu terlalu ideal. Enggak mungkin perjalanan hubungan saya sesempurna itu, hahaha.

Setelah menghabiskan malam di perjalanan, saya sampai di (pinggiran) Hanoi jam 6.30. Masih sempatlah harusnya buru-buru ke penginapan dan memaksakan diri ikut tur ke daerah wajib kunjung di Vietnam itu. Tapi entah di manalah pengemudi bus itu menurunkan penumpang, yang pasti bukan di pusat Kota Hanoi. Akhirnya, saya dan seorang pelancong dari Portugal memutuskan untuk berbagi taksi menuju penginapan kami masing-masing. Baru 500 meter, si sopir berbuat ulah. Kami harus berdebat tentang argo kuda yang terpasang di dashboard taksinya dan tawar-menawar ongkos ke tengah kota. Bubar sudah impian leha-leha di Ha Long Bay sebagai penutup liburan kali itu.

Baiklah, ganti ke plan B. Keliling Hanoi saja atau santai di penginapan dan packing tas. Tetot. Jalanan Hanoi sedang ditutup di sana-sini. Rupanya 2 September adalah peringatan kemerdekaan Negeri Paman Ho dari Prancis dan dirayakan dengan pawai selama beberapa jam. Saya dan Helena, mbak Portugis, cuma bisa ketawa menyadari keadaan tersebut dan memilih mengobrol di gerai kopi sembari menunggu jalan dibuka tiga jam kemudian. Ha. Ha. Ha.

Hampir jam 11, kami melintasi Danau Hoan Kiem yang superpenuh dengan pengunjung untuk mencapai penginapan. Tapi ‘kan belum bisa check in. Hmmm. Ide brilian—yang nantinya berubah nestapa—muncul. Mari mengunjungi Trang An di Ninh Binh. Seorang teman pernah bercerita tentang tempat itu, yang juga pernah dijadikan lokasi shooting reality show Running Man dari Korea.

Lanskap Trang An hampir mirip dengan Ha Long Bay. Bedanya, grotto dan limestone di situ berada di “darat”, di tengah persawahan dan tak jauh dari jalan raya, sedangkan di Ha Long ada di teluk yang menghadap laut.

Berbekal informasi dari mbak resepsionis hotel, saya menuju Terminal Giap Bat di Hanoi bagian selatan untuk naik bus ke Ninh Binh. Abang kondektur menurunkan saya di signage Trang An Landscape Complex (TALC) dan menunjukkan taksi-taksi yang bisa mengantarkan saya ke lokasi persisnya. Setelah tawar menawar dengan sopir taksi, saya diantar ke kawasan yang ternyata sudah terdaftar sebagai UNESCO World Heritage Site dan akan dijemput jam 4.30 sore.

1
Ibu-ibu yang siap mengantar keliling Trang An

Ada beberapa rute yang ditawarkan untuk mengunjungi grotto dan limestone di situ  Pengunjung tinggal ke loket, pilih rute yang diinginkan, bayar tiket seharga 150.000 VND, lalu antre untuk naik ke perahu. Tiap tur akan berhenti di kuil-kuil dan berlangsung selama sekira dua jam.

Banyak hal yang bikin saya tercengang di Trang An. Jajaran limestone yang cuma berjarak—lebih kurang—lima kilometer dari jalanan utama, perempuan-perempuan pendayung perahu (berat, cuy!), dan kuil-kuil yang dibangun di puncak bukit batu. Niat gila! Kami saja yang sudah diberi kemudahan dengan tangga masih kepayahan untuk mencapai kuil-kuil tersebut, apalagi zaman dulu, deh. Terus ada beberapa grotto yang bakal dilewati untuk mencapai satu kuil ke kuil lainnya. Oh ya, kuil yang dipakai shooting Running Man itu tingginya bukan main. *pengsan*

2Serenity!

4b
Kuil-kuilnya masih digunakan untuk beribadah
3
Lewat gua di grotto
4c
Sayangnya enggak bisa berenang di situ

Teman seperahu saya dua dari Vietnam dan dua dari Laos. Iya, dua-duanya pasangan. Zzz. Untungnya, mereka santai-santai banget. Tiap berhenti bisa ngaso sampai 15 menit atau bahkan lebih. Jadi, saya bisa tetap lihat kuil-kuil yang ada di atas bukit, meski waktu tempuhnya cukup lama karena lumayan menanjak.

Waktu saya ke sana, tidak banyak pengunjung dari luar negeri. Mungkin karena banyak orang lebih memilih untuk mengunjungi Ha Long Bay daripada ke sini.

Yang kocak, banyak orang yang heboh ketika tahu saya dari Indonesia. Mereka manggut-manggut dan mengerti kenapa gaya busana saya berbeda, padahal muka Asia dan bukan bule. Karena mereka yang di utara, termasuk Ninh Binh, memang lebih “tertutup” daripada warga selatan. Sedangkan saya pakai tanktop yang ditutupi oleh syal besar, hahaha. *ngumpet di perahu*

Sepertinya, durasi tur perahu yang diberikan itu tidak cukup, padahal saya di sana sampai tempat wisata itu ditutup. Masih ingin bengong-bengong cantik sambil lihat grotto. Ah, ya sudahlah, yang penting berhasil mengobati kekecewaan karena tidak jadi ke Ha Long Bay dan nanti akan lihat kembang api di tengah kota Hanoi.

Tapi, rupanya, perjalanan saya di Ninh Binh belum selesai sampai di situ.

Jakarta, Desember 2016-Januari 2017

Advertisements

Label Rasa

dscf4883
The one I’ll never forget (Mrauk U, Myanmar, Oktober 2016)

Suatu waktu, saya sedang mengerjakan artikel tentang patah hati, move on, dan sejenisnya. Lalu, saya membaca sebuah tulisan dari situs luar negeri. Isinya tentang fase-fase yang dilalui seseorang sebelum ia “sembuh” dari patah hati. Ada tujuh, kalau tidak salah ingat, termasuk penolakan, marah, sedih, dan lainnya. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melaluinya juga beragam, meski si psikolog menyebut sepuluh pekan sebagai durasi rata-rata.

Saya kemudian mengingat-ingat tentang masa lalu. Pernahkah saya patah hati?

Pernah.

Lalu, saya mengingat-ingat pula tentang apa yang saya lakukan untuk menghadapi hal itu hingga kemudian bisa kembali “berfungsi dengan normal”. Sepertinya, tidak ada yang spesifik. Biasanya, saya menutupi perasaan dan terus-menerus meyakinkan diri jika semua hal berjalan baik-baik saja. Tidak ada mengunci diri di kamar atau menangis berhari-hari atau menenggelamkan diri dalam kesibukan atau liburan atau membuang barang-barang kenangan atau menulis. Oke, saya pernah melakukan hal-hal tersebut, tapi justru bukan karena patah hati. Karena hal lain.

Pikiran itu kemudian tidak pernah hilang, apalagi saya pernah dikelilingi kisah-kisah patah hati yang cukup tragis beberapa masa lalu. Dalam hati, saya bertanya-tanya apakah normal jika saya tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan orang lain saat mengalaminya. Hingga kemudian pertanyaan itu diulas saat kami, saya dan teman-teman, sedang memainkan conversation card beberapa malam lalu.

Saya lupa pertanyaan spesifik yang tertera di kartu tersebut. Tapi saya jadi bertanya kepada ketiga orang lainnya tentang upaya sembuh dari patah hati ini. Mereka menjawab dengan beraneka respons, tidak ada yang sama antara satu dan lainnya. Lebih lanjut lagi, mereka menanggulangi setiap kasus berbeda dengan cara berlainan. Sebab… luka yang terasa dan tertinggal pun tidak identik.

Satu hal yang pasti, setiap episode patah hati justru membuat mereka (kami, ehm) lebih mengenal diri sendiri.

Dasar memang, ya, anak-anak ini suka berdiskusi, bahkan tentang hal yang cheesy dan terlihat tidak penting. Satu pak kartu dihabiskan dalam waktu hingga enam jam, pura-pura lupa jika ada yang harus pergi ke bandara pagi sekali. Untung hanya berempat.

Dari perbincangan tentang rasa dan relasi malam itu, kami sepertinya sepakat jika untuk lepas dari patah hati, sedih, marah, bahagia, dan lain-lainnya adalah dengan melabelinya. Jika sedih, akuilah sedih. Jika marah, bilanglah marah. Dan jika bahagia, jangan sungkan membaginya dengan orang lain. Dengan begitu, kita bisa menanganinya dengan tepat dan lebih baik. Sayangnya, tidak (atau belum) semua orang punya kematangan untuk melakukannya. Termasuk saya, hahaha.

Sekira setahun hingga dua tahun belakangan, saya mencoba menerapkan pelabelan tersebut. Pasalnya, saya bukan orang yang mudah mengekspresikan rasa, apalagi kemarahan dan kesedihan. Ternyata sulit! Karena sudah terbiasa menjadi orang yang abai, hal itu terbawa terus-terusan. Padahal marah dan sedih itu ‘kan rasa yang normal, bukan suatu kesalahan atau negatif. Kecuali jika diekspresikan tanpa alasan yang jelas atau tidak pada tempatnya.

Dari pelabelan yang saya coba lakukan, sudah hampir pasti bahwa tahun ini adalah patah hati terbesar saya. Karena berbagai hal.

Lalu, bagaimana mengatasinya atau berdamai dengannya kali ini? Ada saran?

Ah, yes, time will heal.

Jakarta, Desember 2016

Vakansi Sendiri: Vietnam (4) – Huế

Huế berada di Vietnam bagian tengah dan hampir pasti dilalui jika berkendara dari Ho Chi Minh ke Hanoi lewat jalan darat. Pamornya memang belum sekencang kedua kota besar tersebut atau, bahkan, Hội An yang jadi favorit para pelancong Eropa. Tapi bagi para penyuka wisata sejarah, kawasan ini sangat layak dikunjungi. Sebab Huế pernah menjadi ibukota Vietnam puluhan hingga ratusan tahun lalu ketika masih berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh Dinasti Nguyễn.

Turun dari bus, saya disambut oleh sekawanan pengendara motor. Mereka menawarkan jasanya untuk mengantar para pelancong ke tempat-tempat bersejarah, mulai dari makam raja, kuil, serta istana. Sembari tersenyum, saya menolak tawaran mereka. Jual mahal, hahaha. Eh, bukan, sih, lebih tepatnya karena saya enggak tahu harga yang pas untuk menggunakan jasa mereka dan belum tahu mau ke mana.

Setelah Googling apa yang bisa saya lakukan di situ di kantor Sinh Tourist—perusahaan otobus yang membawa saya dari Hội An, saya memutuskan untuk mulai perjalanan. Berdasarkan yang saya baca, jarak dari kantor tersebut ke Imperial City “hanya” 5 kilometer. Inginnya, sih, saya jalan kaki saja . Sebab saya cuma akan berkunjung ke satu tempat dan melanjutkan perjalanan ke Hanoi pada sore hari demi mengejar tur ke Halong Bay keesokan paginya. Sounds perfect!

Tapi rencana berubah seketika saat ada seorang bapak ojek yang menghampiri. Dia membawa peta dan menunjukkan tempat-tempat yang bisa didatangi. Saya—yang enggak punya peta fisik dan daring—kalah poin. Ya, sudah. Kami bernegosiasi dengan bahasa kalbu kalkulator dan saya setuju membayar 150.000VND (kalau tidak salah) untuk jasanya mengantar ke tiga tempat. Sedetik kemudian, saya sudah duduk manis di motor bebek lawas Si Bapak untuk menuju tempat pertama: Tomb of Khải Định. Lokasinya ternyata di pinggiran kota, sekira sepuluh kilometer dari pusat kota. Karena tidak sampai di lokasi setelah sepuluh menit berkendara, saya sampai mengira akan diculik oleh Si Bapak.

Raja Khải Định memerintah dari 1916 sampai 1925 sebagai raja ke-12 dari Dinasti Nguyễn. Gosipnya, raja ini dianggap sebagai boneka penjajah karena terlalu dekat dengan Pemerintah Prancis. Seperti raja-raja lainnya, dia juga membangun rumah untuk jasadnya. Meski dibilang bukan yang terbesar, buat saya kompleks yang dipengaruhi gaya Eropa dan Asia ini sudah sangat luas. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus bayar 100.000VND dan menapaki tangga yang cukup curam.

1025
Para Penjaga

Sebelum mencapai bangunan utama, pengunjung akan disambut oleh patung-patung yang menyerupai penasihat dan pengawal raja. Dibandingkan suasana di mana raja bersemayam, saya merasa lokasi tersebut lebih angker, hahaha. Beranjak ke dalam, suasana angker menjelma jadi indah. Hampir seluruh dinding dalam bangunan dilapisi oleh keramik dan kaca patri yang cantik. Enggak mengherankan kalau pembangunannya mencapai sebelas tahun. Sebagai pencinta motif tradisional, saya malah sibuk mengagumi dinding daripada nonton film sejarah yang diputar di ruang depan. Drop.

1066
Kaisar Ke-12
1087
Di Depan Bangunan Utama

Setelah selesai, Si Bapak mengantar saya ke kuil. Sebenarnya saya ingin ke makam lain, tetapi lokasinya terpencar jauh dan bapak itu tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Jadi, saya menurut saja. Lagipula, entah kenapa, kuil selalu bisa memberi kedamaian yang selalu saya butuhkan. Bohong. Kuil yang kami tuju bernama Thiên Mụ, juga didirikan oleh Dinasti Nguyễn. Yang seru dari kuil ini justru bagian belakangnya, sepi bukan main.

1200
Pagoda Tujuh Tingkat

Oke, waktu semakin dekat dengan jadwal keberangkatan kereta. Saya segera menuju ke tempat terakhir: Istana! Karena kurang riset (lagi-lagi), saya agak kaget ketika harus membayar 150.000VND untuk masuk ke situ. Setelah berada di dalam, saya merasa sangat tidak keberatan bayar segitu mahalnya (kalau dikonversi ke rupiah, sekira Rp100.000 waktu itu). Citadel ini amat besar dan banyak yang bisa dilihat, meskipun banyak juga bangunan yang masih direstorasi. Ada ruang raja, lapangan, kuil, ruang pertemuan, kuil lagi, taman, perpustakaan, taman lagi, koridor yang cukup panjang, ruang pertunjukan, koridor lagi, taman lagi, penjelasan tentang sejarah kerajaan, dan lain-lain. Lebih kurang, saya menghabiskan tiga jam di sini dan belum merasa puas, hahaha. Pintu masuknya memang satu, tapi pintu keluarnya banyak banget. Si Bapak sampai menandai peta yang (akhirnya) saya dapat sebagai tempat penjemputan.

1238
Pintu Masuk Citadel

1267 Secuplik Taman Istana

1256
Menelusuri Jejak Nguyen

Sembari duduk dan mengurut kaki yang kelelahan, saya berkhayal babu bagaimana rasanya hidup sebagai anggota kerajaan. Jalan di koridor panjang bergerombol dengan dayang-dayang padahal cuma mau antar raja ke ruang rapat atau kamar tidur. Dan istirahat membaca dengan melihat pemandangan di sekitar perpustakaan. Bagus, deh, dekat selokan danau kecil. Bikin iri! Oh ya, ada satu bangunab di mana pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, semacam di Keraton. Lalu jadi bertanya-tanya, siapa raja Indonesia yang punya hubungan baik dengan kerajaan ini?

Oh, sungguhlah, kalau tidak mengejar kereta ke Hanoi, saya mau menghabiskan waktu di situ hingga diusir oleh penjaganya.

1244
Suka Sekali Lantainya!

Kala itu—dan masih sampai sekarang, saya berpikir keras mengapa Dinas Pariwisata Vietnam berani memberlakukan tiket masuk yang cukup tinggi untuk objek-objek wisata di Huế. Memang, sih, kota ini sudah dinyatakan sebagai situs bersejarah oleh UNESCO, tapi tetap saja itu termasuk mahal untuk ukuran pelancong dalam dan luar negeri. Apalagi Vietnam terkenal dengan biaya hidupnya yang supermurah. Saya membandingkan dengan Indonesia. Beberapa tahun silam, saya pernah melihat ada orang yang tidak mau bayar untuk masuk ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Padahal tiket masuknya tidak sampai Rp5.000. Hahaha, miris.

Tentang itu mungkin akan dibahas pada lain kesempatan.

Sebab pikiran itu terhenti oleh rasa deg-degan karena belum dapat tiket ke Hanoi (lagi-lagi). Dengan menunjukkan emotikon kereta di ponsel, saya minta diantar ke stasiun. Oke, kata Si Bapak. Eh, tahunya, dia malah mengantar saya ke tempat turun bis tadi. -____-“ Singkat cerita, dia menelepon temannya yang bisa berbahasa Inggris untuk bicara dengan saya dan kemudian mentranslasikan kepadanya dalam bahasa Vietnam. Berhasil. Kali ini, dia membawa saya ke stasiun kereta, yang ternyata tidak terlalu jauh dari Citadel di pinggir Sungai Hương (Perfume River). Sesampainya di sana, seorang pemandu wisata yang bisa berbahasa Inggris bilang kalau tiket kereta ke Hanoi sudah tidak dijual. Kalaupun penjualan masih dibuka, tiketnya sudah habis.

Sedih. Cảm ơn.1

Jakarta, Desember 2016

 

1 →Terima kasih dalam bahasa Vietnam

 

Vakansi Sendiri: Vietnam (3) – Da Lat

stat.jpg
Sambutan Hangat

Setiap orang punya cara melancong yang berbeda. Di perjalanan menuju Bromo, saya bertemu sepasang sahabat yang merencanakan perjalanan mereka secara detail di barisan Excel dan mencetaknya sebagai panduan. Sebagian lainnya merasa cukup dengan rencana perjalanan kasar.  Lain lagi dengan yang tipe lain yang bahkan tiket pulang saja belum dibeli hingga hari kepulangan ke negara atau kota asal. Ya, itu saya, hahaha. Sulit sekali rasanya mau membuat hidup sedikit lebih terencana.

Kebiasaan (buruk) itu pula yang bikin saya terdampar di Da Lat saat bertandang ke Vietnam lebih dari setahun silam.

*

Dari Mũi Né, saya menumpang bis tanggung untuk ke Da Lat. Rencananya, saya hanya akan menghabiskan sesiangan di kota tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Huế sore hari dengan bis atau kereta. Tapi plan itu gagal karena pemilik kafe tempat saya makan siang memberi tahu jika bis ke Huế sudah berangkat dan tidak ada rute kereta antarkota yang melintasi Da Lat. Setelah merutuki diri karena kurang jeli melakukan riset, saya memutuskan untuk meminta peta darinya dan menunjukkan tempat-tempat yang layak dikunjungi sore itu.

Setelah mendapat hostel untuk bermalam, saya dijemput Stephen dengan motornya untuk berkeliling Da Lat. Dengan motor kawak, Stephen membawa saya ke beberapa tempat wisata yang kerap dikunjungi turis. Seperti Kuil Trúc Lâm dan Air Terjun Datanla. Sepanjang perjalanan, bapak tua itu menjelaskan tentang perubahan kota ini dari waktu ke waktu, termasuk posisinya saat perang pecah di Negeri Paman Ho. “Setelah ini, saya antar ke Crazy House, tapi kamu tidak usah masuk dan bayar tiket. Tidak terlalu bagus,” ujarnya meyakinkan. Saya mengangguk sembari sibuk memotret kota tersebut dari ketinggian.

688
Perkebunan sayur, buah, dan bunga
842
Hunian

Da Lat ternama karena udaranya yang dingin dan suasananya yang tenang. Jauh berbeda dari Ho Chi Minh yang ramai kendaraan dan bising. Mungkin itu pula yang bikin para Prancis betah dan menjadikannya sebagai kota tetirah. “Vous parlez Francais?” tanya saya iseng. “Oui, bien sure,” itu saja yang saya tangkap dari kalimat berbahasa Prancis-nya yang panjang dan cergas. Memori saya akan bahasa Prancis memang nol besar, meski pernah mengenyam kursus selama tiga tahun. Payah.

742
Kuil Truc Lam

Dan sejak itu, saya jatuh cinta pada Da Lat. Bangunannya indah, temperaturnya bersahabat, dan lanskapnya mengingatkan saya pada Bandung, kota kelahiran tercinta.

Hujan semakin deras ketika saya selesai menukar uang di sebuah toko emas tak jauh dari penginapan. “Saya turunkan kamu di sini tidak apa-apa?” tanyanya sopan. Saya iyakan karena lebih dekat dan cepat menyeberang jalan daripada harus berputar dengan berkendara. Setelah pembayaran selesai, saya minta izin untuk memotretnya. “Makan yang banyak! Kamu terlalu kurus,” nasihat pak tua itu. Saya tertawa mengiyakan dan menyeberang jalan dengan hati ringan.

799.jpg
Pak Stephen

Keinginan untuk memperpanjang kunjungan di Da Lat menguat. Sebab masih ada canyoning yang belum dijajal. Tapi waktu saya pendek sekali. Alhasil, hari kedua saya hanya jalan-jalan tak tentu arah. Mendatangi bekas istana yang sudah beralih fungsi, menyusuri gang kecil, dan mengagumi interior Stasiun Da Lat yang kini hanya melayani kereta wisata.

Suka sekali.

Jakarta, November 2016

Bahas Bapak

Keduanya bicara tentang ayah dan anak.

Yang pertama disajikan lewat medium film. Judulnya Sabtu Bersama Bapak karya sutradara Monty Tiwa. Sebenarnya tayangan ini lebih dulu hadir lewat buku, tapi saya belum baca. Jadi, interaksi saya dengan karya ini, ya, melalui film. Kami—saya dan dua orang saudara—menontonnya saat orang-orang sibuk bertakbir menjelang Idul Fitri. Luar biasa banget, CGV Blitz masih buka sampai malam, meski besoknya hari raya agama mayoritas di Indonesia. Keprok.

sabtu-1
Sabtu Bersama Bapak (2016)

Film tersebut berkisah tentang dua orang anak yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Sebelum meninggal, sang ayah (Abimana Aryasatya) membuat video tentang petuah hidup untuk ditonton sang anak setiap Sabtu. Saat dewasa, Si anak pertama, Satya (Arifin Putra), tumbuh menjadi laki-laki yang penuh perhitungan, hidup sesuai rencana, dan superganteng. Diceritakan juga kalau ia bekerja jauh demi rumah demi lancarnya arus kas keluarga sesuai plan yang telah dibuat. Si bungsu, Cakra (Deva Mahenra), adalah persona yang penuh kehati-hatian, sederhana, dan sulit berinteraksi dengan perempuan yang disukai. Kariernya moncer, tetapi belum juga punya pasangan. Terus kenapa?

31142634-_uy971_ss971_
           Genduk (2016)

Kisah ayah yang kedua disampaikan lewat buku Genduk yang ditulis Sundari Mardjuki. Si Genduk atau Annisa Nooraini bisa dibilang belum pernah jumpa ayahnya. Sang ayah memang ada ketika dia lahir, tetapi tidak lama. Jadilah hingga duduk di bangku sekolah dasar, Genduk cuma bisa membayangkan sosok ayahnya dari cerita seorang kyai sepuh yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Bocah itu juga tidak pernah alpa menanyakan atau menyinggung tentang Pak’e kepada ibunya, seorang petani tembakau kecil yang diasingkan dari rumah dan dililit utang rentenir. Pertanyaan itu selalu hanya dijawab dengan diam atau bentakan.

Keduanya bicara tentang ayah dan anak. Tentang ayah yang absen dari kehidupan anak-anaknya sejak mereka kecil.

Saya bisa terhubung dengan perasaan Satya, Cakra, dan Genduk. Meskipun dibesarkan oleh superwoman yang penuh kasih dan perjuangan, kehilangan satu induk bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja. Semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan.

Wajar rasanya kalau Satya frustrasi dan marah-marah karena menganggap apa yang diajarkan sang ayah lewat video itu salah. Dan Cakra maju mundur mendekati perempuan yang bikin ia jatuh cinta. Atau Genduk nanya-nanya melulu kayak pembantu baru tentang ayahnya, padahal ia tahu ibunya sebal benar tentang bahasan tersebut. Bahkan ia nekat turun gunung untuk mencari kejelasan dan membuktikan instingnya, tanpa didahului riset dan pernah ke kota yang dituju.

Saya ingat benar, saya adalah anak ayah. Selain karena banyak yang bilang saya mirip dengan beliau (BLAH!), keadaannya bikin dia lebih banyak di rumah dan, mau tidak mau, mengurusi saya. Mulai dari membuat sarapan, mengepang rambut, mengantar dan menjemput sekolah atau les, serta menunggui bikin PR. Sarana belajar saya waktu kecil adalah ayah, bukan ibu. Justru Ibu hadir belakangan (dan sampai sekarang, sampai masa depan) setelah Bapak meninggal. Saking dekatnya saya dan Bapak, Ibu pernah marah karena kami pulang terlalu larut setelah saya latihan balet dan makan enak di restoran enak. Dia terabaikan. Dan beberapa tahun setelah kepergian Bapak, Ibu jujur bilang kalau saya jadi anak nakal begitu beliau meninggal. Hahaha.

Ada masanya saya terlupa atau melupakan keberadaan beliau. Tentu saja, sebab beliau hanya mampir sebentar. Selebihnya, lebih dari 20 tahun, dia absen.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa kehilangan beliau adalah salah satu persoalan penting dalam hidup. Lebih dari perkara biologis dan administratif. Karena semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja.

Ini tentu bukan sexist, tetapi nyatanya peran ayah dan ibu yang lengkap dalam keluarga punya peran masing-masing yang tidak tergantikan oleh satu sama lain. Hal itu tentu bersangkut-paut dengan persepsi ideal tentang ayah dan laki-laki serta ibu dan perempuan yang sudah mengakar di masyarakat dan tidak (belum) bisa diabaikan. Common sense.

Seperti juga hubungan anak dengan ibu, hubungan ayah dengan anak adalah hal yang distingtif. Terlebih buat mereka yang pernah cukup dekat atau punya jarak dengan mendiang. Terlebih buat yang mereka yang tunggal. Terlebih buat mereka yang memilih diam. Terlebih buat mereka yang kerap (tidak sengaja) terjebak dalam deep thoughts-nya. Terlebih buat mereka merasa.

Tapi tentu saja, situasi yang berbeda pada setiap orang dan keluarga bakal menjadikan hal yang berbeda juga, toh?

Dan dua tahun lalu, saya mengunjunginya untuk pertama kali dalam 19 tahun.

Jakarta, 23 September 2016

Main Hati

DSC02308
Bromo, September 2014

Mari bicara tentang hati dengan (tidak) hati-hati.

Sejak lama, saya menyadari bahwa saya tidak ahli perihal hati, cinta, dan turunan-turunannya. Jangankan dengan “siapa”, dengan “apa” saja selalu kandas. Contoh, dengan gawai. Ponsel yang lancar-lancar saja dipakai orang, belum tentu di tangan saya. Komputer jinjing, yang kata orang bandel dan bakal awet, kalau saya yang pakai, ya, setahun dua tahun juga sudah bakal bermasalah. Miris? Agak, sih, tapi jadi ada alasan untuk beli yang baru kalau uangnya ada. Tanaman dan hewan peliharaan pun tidak bertahan lama.

Baiklah.

Itu jadi salah satu alasan mengapa urusan hubungan tidak pernah masuk dalam hitungan saya, beda dengan uang, hahaha. Sayangnya, semakin bertambahnya umur, menjalani hari, dan ruwetnya otak, hal yang satu itu justru ambil porsi yang lumayan dan tidak pernah absen jadi bahasan di tiap perjumpaan. Kadang sekadar lalu, tapi tidak jarang memang diniatkan bertemu untuk bahas hal itu. Kadang bikin berbunga-bunga setengah mati, senyum-senyum tanpa sebab, atau malah lelah hati serta fisik.

Perlahan harus disadari dan dimafhumi—mau tidak mau dan suka tidak suka, memanglah hal yang satu itu jadi pokok dalam hidup saya, kamu, kami, dan orang-orang di sekitaran. Telan sajalah. Belum lagi, tidak pernah ada cara yang seratus atau 99 persen berhasil menangani perkara hati ini, harus trial and error selalu. Ribet, ah!

Senang, sedih,optimis, ragu, bingung, marah, kecewa, pasrah, sakit, sehat, patah, tumbuh, dan lain-lainnya sudah jelas jadi asupan yang tak terhindarkan. Bahkan ada kalanya, perkara yang satu itu bikin saya dan orang di sekitar saya jungkir balik, menolak bertemu dengan orang lain, lakukan apa saja yang dimampu, pergi jauh demi lebih kenal pasangan atau diri sendiri, hingga mengubah peta persahabatan. Apalah.

Dari semua pengalaman orang atau pribadi, satu pertanyaan yang sering muncul adalah harus ikuti kata hati atau lakukan yang benar?

Bandung, 9 Juli 2016

Kilas Konser

tame impala 1
Buram!

Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang musik banget. Kalah jauh kalau dibandingkan orang-orang yang bersedia mengeluarkan uang banyak untuk hobi bermusiknya atau nonton konser-konser impian, mencurahkan hidup untuk musik, atau “sekadar” ngulik musisi idola, dan mencari lagu-lagu baru untuk didengar. Tapi saya enggak bisa enggak mendengar lagu, musik, irama, atau apapun itu. Percaya atau tidak, daftar putar di iTunes saya pun hampir tidak pernah ganti selama beberapa tahun terakhir. Selera musik juga standar, hahaha. Dengar musik baru, sih, iya, tapi yang lama-lama selalu di hati. Ketahuan kalau anaknya susah move on.  Salah satu kebiasaan buruk saya juga berkaitan dengan musik: tidak matikan laptop semalaman demi ada backsound lagu-lagu favorit saat tidur. *Dihajar environmentalist*

Walaupun amatir dalam urusan musik, tapi datang ke konser—apalagi yang menampilkan musisi idola—adalah kesenangan tersendiri. Semacam pengalaman religius lah. Energi yang muncul di ajang seperti itu menggairahkan sekali, mungkin mirip sama orgasme. Perpaduan ingar-bingar musik, tayangan visual, bincang dan aksi panggung si musisi, plus reaksi penonton menghasilkan spirit yang enggak bakal didapat dari sekadar melihat dan mendengar mereka di pemutar musik, Youtube, atau siaran langsung di televisi. Berbeza sekali. Jadi, wajar kalau saya geregetan setengah mati saat mendengar ada band favorit yang akan datang ke Indonesia. Inginnya, sih, ditonton semua, tapi harus sadar dompet diri.

Dari beberapa konser yang pernah ditonton, termasuk festival, ada beberapa yang amat berkesan buat saya. Salah tiganya adalah penampilan Sigur Ros di Fort Canning, Singapura, November 2012; Bon Iver di Star Theatre, Singapura, Februari 2016; dan Tame Impala di Jakarta semalam. Yang pertama karena hujan dan pengalaman nonton konser di luar negeri pertama. Yang kedua karena tata suaranya bagus kebangetan.

Konser yang ketiga menyenangkan karena… baru ditonton tadi malam. Yaelah! Oke, serius. Walaupun saya cuma tahu (lebih kurang) sepuluh lagu dari dua album terdahulunya, tapi penampilan Tame Impala kemarin berkesan karena konsernya simpel dan tayangan visual yang menghipnotis. Warna dan pattern-nya juara! Intinya, karya visual yang ditembak ke layar putih itu berpadu apik dengan lagu-lagu mereka yang psychedelic. Mungkin kalau tipsy bakal berkali lipat bagusnya, hihihi. Plus, lagu-lagu di album Currents (2015) ini semacam soundtrack kehidupan beberapa waktu belakangan. Jarak, keputusan, perbedaan, perpisahan, pembaruan, dan sebagainya bercampur sempurna di karya itu plus di hidup saya. Beberapa lagu di album baru band Australia ini memang lebih terdengar ceria dari album-album mereka terdahulu, sih. Tapi itu hanya kedok, saudara-saudara! Isinya tetap bikin ingin iris nadi, hahaha. But I had fun last night! We’re drenched in sweat, Kevin, in a good way.

tame impala 2
Bahagia!

Oh, terima kasih kepada seorang teman yang menjual tiket murah dan bikin saya jadi nonton konser ini. 😀

Jakarta, 1 Mei 2016