Vakansi Sendiri: Vietnam (4) – Huế

Huế berada di Vietnam bagian tengah dan hampir pasti dilalui jika berkendara dari Ho Chi Minh ke Hanoi lewat jalan darat. Pamornya memang belum sekencang kedua kota besar tersebut atau, bahkan, Hội An yang jadi favorit para pelancong Eropa. Tapi bagi para penyuka wisata sejarah, kawasan ini sangat layak dikunjungi. Sebab Huế pernah menjadi ibukota Vietnam puluhan hingga ratusan tahun lalu ketika masih berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh Dinasti Nguyễn.

Turun dari bus, saya disambut oleh sekawanan pengendara motor. Mereka menawarkan jasanya untuk mengantar para pelancong ke tempat-tempat bersejarah, mulai dari makam raja, kuil, serta istana. Sembari tersenyum, saya menolak tawaran mereka. Jual mahal, hahaha. Eh, bukan, sih, lebih tepatnya karena saya enggak tahu harga yang pas untuk menggunakan jasa mereka dan belum tahu mau ke mana.

Setelah Googling apa yang bisa saya lakukan di situ di kantor Sinh Tourist—perusahaan otobus yang membawa saya dari Hội An, saya memutuskan untuk mulai perjalanan. Berdasarkan yang saya baca, jarak dari kantor tersebut ke Imperial City “hanya” 5 kilometer. Inginnya, sih, saya jalan kaki saja . Sebab saya cuma akan berkunjung ke satu tempat dan melanjutkan perjalanan ke Hanoi pada sore hari demi mengejar tur ke Halong Bay keesokan paginya. Sounds perfect!

Tapi rencana berubah seketika saat ada seorang bapak ojek yang menghampiri. Dia membawa peta dan menunjukkan tempat-tempat yang bisa didatangi. Saya—yang enggak punya peta fisik dan daring—kalah poin. Ya, sudah. Kami bernegosiasi dengan bahasa kalbu kalkulator dan saya setuju membayar 150.000VND (kalau tidak salah) untuk jasanya mengantar ke tiga tempat. Sedetik kemudian, saya sudah duduk manis di motor bebek lawas Si Bapak untuk menuju tempat pertama: Tomb of Khải Định. Lokasinya ternyata di pinggiran kota, sekira sepuluh kilometer dari pusat kota. Karena tidak sampai di lokasi setelah sepuluh menit berkendara, saya sampai mengira akan diculik oleh Si Bapak.

Raja Khải Định memerintah dari 1916 sampai 1925 sebagai raja ke-12 dari Dinasti Nguyễn. Gosipnya, raja ini dianggap sebagai boneka penjajah karena terlalu dekat dengan Pemerintah Prancis. Seperti raja-raja lainnya, dia juga membangun rumah untuk jasadnya. Meski dibilang bukan yang terbesar, buat saya kompleks yang dipengaruhi gaya Eropa dan Asia ini sudah sangat luas. Untuk masuk ke dalamnya, pengunjung harus bayar 100.000VND dan menapaki tangga yang cukup curam.

1025
Para Penjaga

Sebelum mencapai bangunan utama, pengunjung akan disambut oleh patung-patung yang menyerupai penasihat dan pengawal raja. Dibandingkan suasana di mana raja bersemayam, saya merasa lokasi tersebut lebih angker, hahaha. Beranjak ke dalam, suasana angker menjelma jadi indah. Hampir seluruh dinding dalam bangunan dilapisi oleh keramik dan kaca patri yang cantik. Enggak mengherankan kalau pembangunannya mencapai sebelas tahun. Sebagai pencinta motif tradisional, saya malah sibuk mengagumi dinding daripada nonton film sejarah yang diputar di ruang depan. Drop.

1066
Kaisar Ke-12
1087
Di Depan Bangunan Utama

Setelah selesai, Si Bapak mengantar saya ke kuil. Sebenarnya saya ingin ke makam lain, tetapi lokasinya terpencar jauh dan bapak itu tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Jadi, saya menurut saja. Lagipula, entah kenapa, kuil selalu bisa memberi kedamaian yang selalu saya butuhkan. Bohong. Kuil yang kami tuju bernama Thiên Mụ, juga didirikan oleh Dinasti Nguyễn. Yang seru dari kuil ini justru bagian belakangnya, sepi bukan main.

1200
Pagoda Tujuh Tingkat

Oke, waktu semakin dekat dengan jadwal keberangkatan kereta. Saya segera menuju ke tempat terakhir: Istana! Karena kurang riset (lagi-lagi), saya agak kaget ketika harus membayar 150.000VND untuk masuk ke situ. Setelah berada di dalam, saya merasa sangat tidak keberatan bayar segitu mahalnya (kalau dikonversi ke rupiah, sekira Rp100.000 waktu itu). Citadel ini amat besar dan banyak yang bisa dilihat, meskipun banyak juga bangunan yang masih direstorasi. Ada ruang raja, lapangan, kuil, ruang pertemuan, kuil lagi, taman, perpustakaan, taman lagi, koridor yang cukup panjang, ruang pertunjukan, koridor lagi, taman lagi, penjelasan tentang sejarah kerajaan, dan lain-lain. Lebih kurang, saya menghabiskan tiga jam di sini dan belum merasa puas, hahaha. Pintu masuknya memang satu, tapi pintu keluarnya banyak banget. Si Bapak sampai menandai peta yang (akhirnya) saya dapat sebagai tempat penjemputan.

1238
Pintu Masuk Citadel

1267 Secuplik Taman Istana

1256
Menelusuri Jejak Nguyen

Sembari duduk dan mengurut kaki yang kelelahan, saya berkhayal babu bagaimana rasanya hidup sebagai anggota kerajaan. Jalan di koridor panjang bergerombol dengan dayang-dayang padahal cuma mau antar raja ke ruang rapat atau kamar tidur. Dan istirahat membaca dengan melihat pemandangan di sekitar perpustakaan. Bagus, deh, dekat selokan danau kecil. Bikin iri! Oh ya, ada satu bangunab di mana pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, semacam di Keraton. Lalu jadi bertanya-tanya, siapa raja Indonesia yang punya hubungan baik dengan kerajaan ini?

Oh, sungguhlah, kalau tidak mengejar kereta ke Hanoi, saya mau menghabiskan waktu di situ hingga diusir oleh penjaganya.

1244
Suka Sekali Lantainya!

Kala itu—dan masih sampai sekarang, saya berpikir keras mengapa Dinas Pariwisata Vietnam berani memberlakukan tiket masuk yang cukup tinggi untuk objek-objek wisata di Huế. Memang, sih, kota ini sudah dinyatakan sebagai situs bersejarah oleh UNESCO, tapi tetap saja itu termasuk mahal untuk ukuran pelancong dalam dan luar negeri. Apalagi Vietnam terkenal dengan biaya hidupnya yang supermurah. Saya membandingkan dengan Indonesia. Beberapa tahun silam, saya pernah melihat ada orang yang tidak mau bayar untuk masuk ke Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Padahal tiket masuknya tidak sampai Rp5.000. Hahaha, miris.

Tentang itu mungkin akan dibahas pada lain kesempatan.

Sebab pikiran itu terhenti oleh rasa deg-degan karena belum dapat tiket ke Hanoi (lagi-lagi). Dengan menunjukkan emotikon kereta di ponsel, saya minta diantar ke stasiun. Oke, kata Si Bapak. Eh, tahunya, dia malah mengantar saya ke tempat turun bis tadi. -____-“ Singkat cerita, dia menelepon temannya yang bisa berbahasa Inggris untuk bicara dengan saya dan kemudian mentranslasikan kepadanya dalam bahasa Vietnam. Berhasil. Kali ini, dia membawa saya ke stasiun kereta, yang ternyata tidak terlalu jauh dari Citadel di pinggir Sungai Hương (Perfume River). Sesampainya di sana, seorang pemandu wisata yang bisa berbahasa Inggris bilang kalau tiket kereta ke Hanoi sudah tidak dijual. Kalaupun penjualan masih dibuka, tiketnya sudah habis.

Sedih. Cảm ơn.1

Jakarta, Desember 2016

 

1 →Terima kasih dalam bahasa Vietnam

 

Vakansi Sendiri: Vietnam (3) – Da Lat

stat.jpg
Sambutan Hangat

Setiap orang punya cara melancong yang berbeda. Di perjalanan menuju Bromo, saya bertemu sepasang sahabat yang merencanakan perjalanan mereka secara detail di barisan Excel dan mencetaknya sebagai panduan. Sebagian lainnya merasa cukup dengan rencana perjalanan kasar.  Lain lagi dengan yang tipe lain yang bahkan tiket pulang saja belum dibeli hingga hari kepulangan ke negara atau kota asal. Ya, itu saya, hahaha. Sulit sekali rasanya mau membuat hidup sedikit lebih terencana.

Kebiasaan (buruk) itu pula yang bikin saya terdampar di Da Lat saat bertandang ke Vietnam lebih dari setahun silam.

*

Dari Mũi Né, saya menumpang bis tanggung untuk ke Da Lat. Rencananya, saya hanya akan menghabiskan sesiangan di kota tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Huế sore hari dengan bis atau kereta. Tapi plan itu gagal karena pemilik kafe tempat saya makan siang memberi tahu jika bis ke Huế sudah berangkat dan tidak ada rute kereta antarkota yang melintasi Da Lat. Setelah merutuki diri karena kurang jeli melakukan riset, saya memutuskan untuk meminta peta darinya dan menunjukkan tempat-tempat yang layak dikunjungi sore itu.

Setelah mendapat hostel untuk bermalam, saya dijemput Stephen dengan motornya untuk berkeliling Da Lat. Dengan motor kawak, Stephen membawa saya ke beberapa tempat wisata yang kerap dikunjungi turis. Seperti Kuil Trúc Lâm dan Air Terjun Datanla. Sepanjang perjalanan, bapak tua itu menjelaskan tentang perubahan kota ini dari waktu ke waktu, termasuk posisinya saat perang pecah di Negeri Paman Ho. “Setelah ini, saya antar ke Crazy House, tapi kamu tidak usah masuk dan bayar tiket. Tidak terlalu bagus,” ujarnya meyakinkan. Saya mengangguk sembari sibuk memotret kota tersebut dari ketinggian.

688
Perkebunan sayur, buah, dan bunga
842
Hunian

Da Lat ternama karena udaranya yang dingin dan suasananya yang tenang. Jauh berbeda dari Ho Chi Minh yang ramai kendaraan dan bising. Mungkin itu pula yang bikin para Prancis betah dan menjadikannya sebagai kota tetirah. “Vous parlez Francais?” tanya saya iseng. “Oui, bien sure,” itu saja yang saya tangkap dari kalimat berbahasa Prancis-nya yang panjang dan cergas. Memori saya akan bahasa Prancis memang nol besar, meski pernah mengenyam kursus selama tiga tahun. Payah.

742
Kuil Truc Lam

Dan sejak itu, saya jatuh cinta pada Da Lat. Bangunannya indah, temperaturnya bersahabat, dan lanskapnya mengingatkan saya pada Bandung, kota kelahiran tercinta.

Hujan semakin deras ketika saya selesai menukar uang di sebuah toko emas tak jauh dari penginapan. “Saya turunkan kamu di sini tidak apa-apa?” tanyanya sopan. Saya iyakan karena lebih dekat dan cepat menyeberang jalan daripada harus berputar dengan berkendara. Setelah pembayaran selesai, saya minta izin untuk memotretnya. “Makan yang banyak! Kamu terlalu kurus,” nasihat pak tua itu. Saya tertawa mengiyakan dan menyeberang jalan dengan hati ringan.

799.jpg
Pak Stephen

Keinginan untuk memperpanjang kunjungan di Da Lat menguat. Sebab masih ada canyoning yang belum dijajal. Tapi waktu saya pendek sekali. Alhasil, hari kedua saya hanya jalan-jalan tak tentu arah. Mendatangi bekas istana yang sudah beralih fungsi, menyusuri gang kecil, dan mengagumi interior Stasiun Da Lat yang kini hanya melayani kereta wisata.

Suka sekali.

Jakarta, November 2016

Bahas Bapak

Keduanya bicara tentang ayah dan anak.

Yang pertama disajikan lewat medium film. Judulnya Sabtu Bersama Bapak karya sutradara Monty Tiwa. Sebenarnya tayangan ini lebih dulu hadir lewat buku, tapi saya belum baca. Jadi, interaksi saya dengan karya ini, ya, melalui film. Kami—saya dan dua orang saudara—menontonnya saat orang-orang sibuk bertakbir menjelang Idul Fitri. Luar biasa banget, CGV Blitz masih buka sampai malam, meski besoknya hari raya agama mayoritas di Indonesia. Keprok.

sabtu-1
Sabtu Bersama Bapak (2016)

Film tersebut berkisah tentang dua orang anak yang ditinggal ayahnya sejak kecil. Sebelum meninggal, sang ayah (Abimana Aryasatya) membuat video tentang petuah hidup untuk ditonton sang anak setiap Sabtu. Saat dewasa, Si anak pertama, Satya (Arifin Putra), tumbuh menjadi laki-laki yang penuh perhitungan, hidup sesuai rencana, dan superganteng. Diceritakan juga kalau ia bekerja jauh demi rumah demi lancarnya arus kas keluarga sesuai plan yang telah dibuat. Si bungsu, Cakra (Deva Mahenra), adalah persona yang penuh kehati-hatian, sederhana, dan sulit berinteraksi dengan perempuan yang disukai. Kariernya moncer, tetapi belum juga punya pasangan. Terus kenapa?

31142634-_uy971_ss971_
           Genduk (2016)

Kisah ayah yang kedua disampaikan lewat buku Genduk yang ditulis Sundari Mardjuki. Si Genduk atau Annisa Nooraini bisa dibilang belum pernah jumpa ayahnya. Sang ayah memang ada ketika dia lahir, tetapi tidak lama. Jadilah hingga duduk di bangku sekolah dasar, Genduk cuma bisa membayangkan sosok ayahnya dari cerita seorang kyai sepuh yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Bocah itu juga tidak pernah alpa menanyakan atau menyinggung tentang Pak’e kepada ibunya, seorang petani tembakau kecil yang diasingkan dari rumah dan dililit utang rentenir. Pertanyaan itu selalu hanya dijawab dengan diam atau bentakan.

Keduanya bicara tentang ayah dan anak. Tentang ayah yang absen dari kehidupan anak-anaknya sejak mereka kecil.

Saya bisa terhubung dengan perasaan Satya, Cakra, dan Genduk. Meskipun dibesarkan oleh superwoman yang penuh kasih dan perjuangan, kehilangan satu induk bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja. Semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan.

Wajar rasanya kalau Satya frustrasi dan marah-marah karena menganggap apa yang diajarkan sang ayah lewat video itu salah. Dan Cakra maju mundur mendekati perempuan yang bikin ia jatuh cinta. Atau Genduk nanya-nanya melulu kayak pembantu baru tentang ayahnya, padahal ia tahu ibunya sebal benar tentang bahasan tersebut. Bahkan ia nekat turun gunung untuk mencari kejelasan dan membuktikan instingnya, tanpa didahului riset dan pernah ke kota yang dituju.

Saya ingat benar, saya adalah anak ayah. Selain karena banyak yang bilang saya mirip dengan beliau (BLAH!), keadaannya bikin dia lebih banyak di rumah dan, mau tidak mau, mengurusi saya. Mulai dari membuat sarapan, mengepang rambut, mengantar dan menjemput sekolah atau les, serta menunggui bikin PR. Sarana belajar saya waktu kecil adalah ayah, bukan ibu. Justru Ibu hadir belakangan (dan sampai sekarang, sampai masa depan) setelah Bapak meninggal. Saking dekatnya saya dan Bapak, Ibu pernah marah karena kami pulang terlalu larut setelah saya latihan balet dan makan enak di restoran enak. Dia terabaikan. Dan beberapa tahun setelah kepergian Bapak, Ibu jujur bilang kalau saya jadi anak nakal begitu beliau meninggal. Hahaha.

Ada masanya saya terlupa atau melupakan keberadaan beliau. Tentu saja, sebab beliau hanya mampir sebentar. Selebihnya, lebih dari 20 tahun, dia absen.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa kehilangan beliau adalah salah satu persoalan penting dalam hidup. Lebih dari perkara biologis dan administratif. Karena semuanya memang bisa dan akan berjalan baik-baik saja, sesempurna mereka yang dibesarkan dengan orangtua lengkap. Tapi pada suatu titik, ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan itu akan terasa jelas. Bukan samar atau diada-adakan. Apalagi jika itu terjadi sejak si anak masih kecil dan si ibu memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya sendiri saja.

Ini tentu bukan sexist, tetapi nyatanya peran ayah dan ibu yang lengkap dalam keluarga punya peran masing-masing yang tidak tergantikan oleh satu sama lain. Hal itu tentu bersangkut-paut dengan persepsi ideal tentang ayah dan laki-laki serta ibu dan perempuan yang sudah mengakar di masyarakat dan tidak (belum) bisa diabaikan. Common sense.

Seperti juga hubungan anak dengan ibu, hubungan ayah dengan anak adalah hal yang distingtif. Terlebih buat mereka yang pernah cukup dekat atau punya jarak dengan mendiang. Terlebih buat yang mereka yang tunggal. Terlebih buat mereka yang memilih diam. Terlebih buat mereka yang kerap (tidak sengaja) terjebak dalam deep thoughts-nya. Terlebih buat mereka merasa.

Tapi tentu saja, situasi yang berbeda pada setiap orang dan keluarga bakal menjadikan hal yang berbeda juga, toh?

Dan dua tahun lalu, saya mengunjunginya untuk pertama kali dalam 19 tahun.

Jakarta, 23 September 2016

Main Hati

DSC02308
Bromo, September 2014

Mari bicara tentang hati dengan (tidak) hati-hati.

Sejak lama, saya menyadari bahwa saya tidak ahli perihal hati, cinta, dan turunan-turunannya. Jangankan dengan “siapa”, dengan “apa” saja selalu kandas. Contoh, dengan gawai. Ponsel yang lancar-lancar saja dipakai orang, belum tentu di tangan saya. Komputer jinjing, yang kata orang bandel dan bakal awet, kalau saya yang pakai, ya, setahun dua tahun juga sudah bakal bermasalah. Miris? Agak, sih, tapi jadi ada alasan untuk beli yang baru kalau uangnya ada. Tanaman dan hewan peliharaan pun tidak bertahan lama.

Baiklah.

Itu jadi salah satu alasan mengapa urusan hubungan tidak pernah masuk dalam hitungan saya, beda dengan uang, hahaha. Sayangnya, semakin bertambahnya umur, menjalani hari, dan ruwetnya otak, hal yang satu itu justru ambil porsi yang lumayan dan tidak pernah absen jadi bahasan di tiap perjumpaan. Kadang sekadar lalu, tapi tidak jarang memang diniatkan bertemu untuk bahas hal itu. Kadang bikin berbunga-bunga setengah mati, senyum-senyum tanpa sebab, atau malah lelah hati serta fisik.

Perlahan harus disadari dan dimafhumi—mau tidak mau dan suka tidak suka, memanglah hal yang satu itu jadi pokok dalam hidup saya, kamu, kami, dan orang-orang di sekitaran. Telan sajalah. Belum lagi, tidak pernah ada cara yang seratus atau 99 persen berhasil menangani perkara hati ini, harus trial and error selalu. Ribet, ah!

Senang, sedih,optimis, ragu, bingung, marah, kecewa, pasrah, sakit, sehat, patah, tumbuh, dan lain-lainnya sudah jelas jadi asupan yang tak terhindarkan. Bahkan ada kalanya, perkara yang satu itu bikin saya dan orang di sekitar saya jungkir balik, menolak bertemu dengan orang lain, lakukan apa saja yang dimampu, pergi jauh demi lebih kenal pasangan atau diri sendiri, hingga mengubah peta persahabatan. Apalah.

Dari semua pengalaman orang atau pribadi, satu pertanyaan yang sering muncul adalah harus ikuti kata hati atau lakukan yang benar?

Bandung, 9 Juli 2016

Kilas Konser

tame impala 1
Buram!

Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang musik banget. Kalah jauh kalau dibandingkan orang-orang yang bersedia mengeluarkan uang banyak untuk hobi bermusiknya atau nonton konser-konser impian, mencurahkan hidup untuk musik, atau “sekadar” ngulik musisi idola, dan mencari lagu-lagu baru untuk didengar. Tapi saya enggak bisa enggak mendengar lagu, musik, irama, atau apapun itu. Percaya atau tidak, daftar putar di iTunes saya pun hampir tidak pernah ganti selama beberapa tahun terakhir. Selera musik juga standar, hahaha. Dengar musik baru, sih, iya, tapi yang lama-lama selalu di hati. Ketahuan kalau anaknya susah move on.  Salah satu kebiasaan buruk saya juga berkaitan dengan musik: tidak matikan laptop semalaman demi ada backsound lagu-lagu favorit saat tidur. *Dihajar environmentalist*

Walaupun amatir dalam urusan musik, tapi datang ke konser—apalagi yang menampilkan musisi idola—adalah kesenangan tersendiri. Semacam pengalaman religius lah. Energi yang muncul di ajang seperti itu menggairahkan sekali, mungkin mirip sama orgasme. Perpaduan ingar-bingar musik, tayangan visual, bincang dan aksi panggung si musisi, plus reaksi penonton menghasilkan spirit yang enggak bakal didapat dari sekadar melihat dan mendengar mereka di pemutar musik, Youtube, atau siaran langsung di televisi. Berbeza sekali. Jadi, wajar kalau saya geregetan setengah mati saat mendengar ada band favorit yang akan datang ke Indonesia. Inginnya, sih, ditonton semua, tapi harus sadar dompet diri.

Dari beberapa konser yang pernah ditonton, termasuk festival, ada beberapa yang amat berkesan buat saya. Salah tiganya adalah penampilan Sigur Ros di Fort Canning, Singapura, November 2012; Bon Iver di Star Theatre, Singapura, Februari 2016; dan Tame Impala di Jakarta semalam. Yang pertama karena hujan dan pengalaman nonton konser di luar negeri pertama. Yang kedua karena tata suaranya bagus kebangetan.

Konser yang ketiga menyenangkan karena… baru ditonton tadi malam. Yaelah! Oke, serius. Walaupun saya cuma tahu (lebih kurang) sepuluh lagu dari dua album terdahulunya, tapi penampilan Tame Impala kemarin berkesan karena konsernya simpel dan tayangan visual yang menghipnotis. Warna dan pattern-nya juara! Intinya, karya visual yang ditembak ke layar putih itu berpadu apik dengan lagu-lagu mereka yang psychedelic. Mungkin kalau tipsy bakal berkali lipat bagusnya, hihihi. Plus, lagu-lagu di album Currents (2015) ini semacam soundtrack kehidupan beberapa waktu belakangan. Jarak, keputusan, perbedaan, perpisahan, pembaruan, dan sebagainya bercampur sempurna di karya itu plus di hidup saya. Beberapa lagu di album baru band Australia ini memang lebih terdengar ceria dari album-album mereka terdahulu, sih. Tapi itu hanya kedok, saudara-saudara! Isinya tetap bikin ingin iris nadi, hahaha. But I had fun last night! We’re drenched in sweat, Kevin, in a good way.

tame impala 2
Bahagia!

Oh, terima kasih kepada seorang teman yang menjual tiket murah dan bikin saya jadi nonton konser ini. 😀

Jakarta, 1 Mei 2016

 

Ada Apa dengan Apa?

cinta-ucapkan-selamat-tinggal-pada-rangga-di-trailer-aadc-2-fkk
Ciyeeeee.. 😀

Tulisan ini dibuat sepulang menonton Ada Apa dengan Cinta? 2 Senin lalu. Sengaja baru diunggah sekarang karena Mbak Produser berharap yang sudah nonton duluan tidak terlalu membocorkan jalan cerita film tersebut. Hahaha.

Kisah Rangga dan Cinta yang dimulai empat belas tahun lalu kembali hadir di layar lebar. Rupanya mereka sempat bertemu sembilan tahun lalu di New York. Saat Cinta sedang liburan keluarga. Singkat cerita, mereka bertemu lagi tahun ini. Keadaan sudah berbeda, mereka menua. Lihat saja Rangga yang lelah, kantung matanya sepertinya tak bakal tersamarkan walaupun (semisal) ditutupi concealer berlapis-lapis pun. Cinta sudah siap menikah. Milly sedang hamil. Maura sudah beranak-pinak. Karmen baru saja selamat dari konflik asmara dan rehabilitasi. Plus, Alya sudah menjadi abu. Sekarang, ceritanya tidak berkutat pada lomba puisi dan majalah dinding yang akan terbit dan perkawanan yang dianggap tidak prinsipil. Masalah hati lebih punya urgensi, cuy!

Rangga tetap tinggal di New York, Cinta mengelola galeri di Jakarta. Tapi bukan di kedua kota itu kisah mereka kembali bermula, justru di Yogyakarta yang tidak terlalu Ibukota-sentris. Senang sekali melihat Kill The DJ, Papermoon, Candi Ratu Boko, Pasar Beringharjo, dan hotel-hotel cantik masa kini itu muncul di layar besar.

Bagaimana kisahnya? Lebih seru tonton sendiri. Banyak orang menganggap jika film kedua ini terlalu cheesy, tidak mendalam, Rangga terlalu sensitif, sikap geng Cinta tidak berubah, dan penyelesaiannya terlalu mudah. Kalau menurut saya, sih, tidak mengecewakan. Sebab, jujur saja, saya tidak berharap film ini akan bagus setelah melihat cuplikannya sejak bulan lalu. Bahkan akting yang kurang pas dan dialog yang terkesan dipaksakan cukup termaafkan. Generasi saya mungkin menantinya benar-benar karena kami “tumbuh” dengan itu. Rasanya seperti menonton Harry Potter yang dimulai saat kami beranjak remaja. Apple to apple enggak, sih? Enggak? Oke, abaikan.

Buat sebagian orang mungkin kisah Rangga dan Cinta ini ribet. Duile, perihal asmara doang bisa bikin merana (dalam hati) sembilan tahun. Mana mungkin beda pendapat dengan teman membuat nangis? Terus ciuman sama yang bukan pacar dan enggak berarti apa-apa? Perkawinan di depan mata pun bisa batal. Mengada-ada sekali, deh, film ini!

IH!

Kalau sekuel ini dibuat enam tahun lalu, pasti saya juga berpendapat begitu. Asli, sepertinya heboh banget kisah Cinta, Rangga, dan teman-temannya ini. Tapi film ini muncul tahun ini. Layaknya Cinta dan Rangga dan Milly dan Maura dan Karmen, kami juga berubah. Kami di sini merujuk pada saya, teman-teman, dan situasi di sekitar saya. *maksa*

Setelah makan sejumput asam garam kehidupan dan berproses dengannya, saya menyadari benar bahwa relasi memang bisa sedemikian rumit. Bahkan relasi pertemanan, yang bagi beberapa orang merupakan bentuk paling sederhana atas rasa sayang. Justru mungkin rasa itu sebenarnya yang jadi sumber kepelikan. Berlebihan? Enggak sama sekali, kalau menurut saya. Atau saya yang saja berlebihan? Bisa jadi, mengingat resolusi tahun ini adalah jadi drama queen. Haaks.

Tapi benar, deh, apa yang dialami orang-orang di layar perak itu memang pernah (atau sedang) terjadi pada saya dan orang-orang sekitar saya. Mungkin bentuknya tidak sama persis, tapi permasalahan-permasalahan selalu ada. Dalam bentuk XS, S, M, L, XL, bahkan XXXXXXL. Mau bukti? Beberapa dari kami sempat tergabung dalam geng patah hati dan pergi liburan bareng. Seorang teman bahkan berbesar hati mengejar cinta hingga ke Benua Eropa dan mengorbankan vakansi yang telah dirancang sejak berbulan-bulan sebelumnya. Lingkaran pertama pertemanan saya pun goyah karena ini itu. Cukup bikin nelangsa pokoknya. Pekerjaan bikin pening. Dan seterusnya. Kalau kata Yoo Si Jin di Descendants of the Sun, “Niatnya cuma jadi melodrama, tapi malah jadi blockbuster.” Nyambung, ih.

Tidak ada yang mengira bahwa di sela-sela rasa sayang dan cinta yang mengalir itu terselip bom-bom beraneka ukuran yang bisa meledak kapan saja karena pemicu yang bervariasi. Beberapa bisa dijinakkan, beberapa meledak. Yang tak berhasil dijinakkan, kadar eksplosinya juga beda-beda. Ada yang cuma bikin luka ringan yang sembuh dalam waktu seminggu atau dua minggu. Ada juga yang baru sembuh berbulan-bulan kemudian, bahkan bekasnya tidak hilang bertahun-tahun. Keberanian, logika, dan rasa pun kadang malah baru hadir belakangan, pada waktu yang tidak sepantasnya. Tidak diduga.

Ah, sudahlah. Mari bersulang saja untuk kehadiran film ini! Apalagi Mira Lesmana, Prima Rusdi, Riri Riza, dan staf AADC?2 lainnya sudah berusaha membuat karya ini sangat personal. Jauh dari politik yang tertera di halaman depan media massa nasional serta jadi penyebab Rangga bermigrasi menjauhi Si Cinta. Perkara ekonomi justru jadi alasan yang lebih masuk akal untuk menakar cinta dan hidup, hahaha. Rangga juga masih bikin GMZ. Dengan itu pula, mereka-saya-kamu-kami-kita mungkin jadi tersadar bahwa dewasa, bagi beberapa orang, adalah saatnya menjadi egois. Perasaan (atau perkara) sendiri lebih penting daripada apapun.

Meskipun untuk menafsirkan klausa “perasaan sendiri” itu butuh penjelasan yang lebih panjang lagi.

Endapkan dulu, cukup sekian ngalor-ngidul-nya.#sarekeun

Jakarta, 25 & 30 April 2016

 

Kalimat Bijak

DCIM101GOPROG1316849.
Gunung Pancar, Bogor, 2015

Waktu itu, ada blogger favorit yang menulis tentang nasihat terbaik yang pernah diterimanya. Kalimat bijak itu datang dari seorang sopir taksi. Di akhir tulisan, ia juga memuat beberapa nasihat terbaik yang pernah didapat teman-temannya. Bacanya bikin terharu. Hehe. Soalnya, sudah lama juga saya ingin mengumpulkan nasihat terbaik yang pernah didapat orang-orang di sekitar saya. Bahkan dalam beberapa wawancara dengan publik figur, saya selalu menyelipkan pertanyaan tentang itu. “Apa nasihat terbaik yang pernah kamu dapat dan dari siapa?” Tapi jangan tanya siapa dapat apa dari siapa sebab saya terlalu malas mentranskripsi obrolan-obrolan tersebut, hahaha.

Saya tak ingat pernah dapat nasihat yang sebegitu mengubah prinsip dan perilaku diri. Beberapa mungkin mengena dan bikin berpikir, tapi masuk kuping kanan, mengendap sebentar, lalu keluar lagi lewat kuping kanan. Dasar! Meski begitu, ada satu kutipan—yang entah sumbernya—yang terngiang-ngiang sampai sekarang. Baca di Tumblr, kalau tidak salah. Bunyinya, “Life is tough, but so are you.”

Entah sebaris kalimat itu bisa dibilang nasihat atau bukan, tapi efeknya lumayan. Saat ada hal-hal di luar kuasa saya yang bikin pening kepala atau mengunci diri dari dunia luar, saya sering tetiba teringat tulisan itu. Meski sebenarnya ‘kan masalah saya tidak pernah terlalu besar, masih banyak orang yang problemnya macam film The Avengersora uwis-uwis.

Sebagai seorang pleasure seeker, problem sekecil apapun bisa bikin saya stres. Nah, sebaris kalimat itu bisa bikin saya mikir, “Yaelah, baru diberi sejumput asam garam kehidupan masak sudah mau nyerah? Orang lain mungkin dikasihnya sesendok, beberapa bahkan sepanci. Sudahlah, enggak usah ambil pusing! Pasti bisa dihadapi, dilompati, atau dilupakan.” Alhasil, saya bisa semangat lagi. Semangat buka Youtube dan nonton video-video klip Bigbang. Haks.

Jadi, apa kalimat bijak favoritmu? Dapat dari siapa? Atau dari mana?

Jakarta, 25 April 2016