Mau ke Myanmar? Baca dulu!

Kapan, ya, kisah perjalanan ke Myanmar ini kelar ditulis? Hahaha. Abaikan saja jika bosan, wahai pembaca yang budiman!

Myanmar is not everyone’s cup of tea, for sure. Waktu saya ke Vietnam sendirian tahun lalu, teman-teman banyak yang bilang “Ih, seru, ya!” atau “Di Vietnam ke mana aja?”. Sedangkan waktu ke Myanmar, respons yang sering saya dapat adalah “Ngapain, sih, ke Myanmar?” atau “Emang ada apa aja di Myanmar?” Hmm..

Kali ini, saya mau nulis tentang beberapa hal yang wajib kamu tahu sebelum berkunjung ke Negeri Aung San Suu Kyi. Siapa tahuuuu memang atau jadi ingin ke sana, ‘kan?

bagan
Sunset di Bagan

1. Tujuan Wisata Utama: Pagoda + Kuil
Enggak heranlah kalau pagoda dan kuil berada di peringkat teratas tujuan wisata di Myanmar. Pasalnya, mayoritas penduduk negara itu menganut agama Buddha yang menggunakan kedua bangunan tersebut sebagai tempat beribadah.

Sepertinya, jumlah masjid, musala, dan surau di Indonesia—yang berpenduduk mayoritas Muslim—pun masih kalah jauh dengan jumlah pagoda dan candi di Burma. Bayangkan, kawasan Old Bagan yang luasnya 104 kilometer persegi saja punya lebih 10.000 bangunan keagamaan. Mulai dari yang terdiri dari stupa, biara, kuil berukuran kecil, hingga kuil yang berukuran sangat besar sekali. Harus diakui kalau Bagan itu menyenangkan dan cantik.

 

trekking
Menuju Danau Inle

 

2. Wajib Coba Trekking
Sepanjang yang saya tahu, ada tiga tempat yang dikenal sebagai tempat trekking di Myanmar. Hsipaw di bagian utara, Kalaw di bagian tengah, serta Hpa-An yang terletak agak ke selatan. Oh oke, selain itu, saya ingat masih ada Keng Tung dan Putao di kawasan utara. Tapi, berdasarkan riset tahun lalu, keduanya membutuhkan izin khusus, biayanya lebih mahal, dan waktu lama. Hiks.

Dari sekian banyak jalur trekking, saya memilih yang paling mainstream, yaitu rute Kalaw-Inle Lake. Ada dua durasi yang bisa dipilih, yaitu tiga hari dua malam atau dua hari satu malam. Karena waktu yang mepet, saya memutuskan untuk pilih yang kedua. Seru enggak? Biasa aja, sih. HAHAHA, Tapi, ya, penting banget buat tahu sisi lain masyarakat Burma dan mengenal traveler dari negara lain. Cliché, but true. Aktivitas ini semacam pelajaran budaya yang enggak bakal didapat dari hanya membaca atau mendengar.

Kalau bisa diulang, saya mungkin akan pilih durasi yang lebih panjang dan trek yang lain. Berdasarkan cerita dari traveler lain, rute Hsipaw dan Hpa-An lebih menarik karena less touristy.

 

 

 

thant
Abang ojek

3. Warganya superbaik
Poin ketiga ini juga cliché, but true. Sebagai orang Indonesia, kita pasti sudah sering mendengar tentang keramahtamahan masyarakat Nusantara yang ternama. Di Myanmar, saya merasakan keramahtamahan yang lebih-lebih. Pelancong-pelancong lain yang saya temui pun sependapat kalau tingkat kebaikan orang Myanmar ini luar biasa—bahkan keterlaluan dan hampir absurd. Hahaha.

Waktu di Yangon, saya ribet pegang payung dan kamera karena ingin foto bangunan, tapi sedang gerimis. Lalu, ada perempuan yang sedang lewat mencolek pundak saya dan menawarkan untuk memegangi payung agar saya lebih leluasa memotret. Wow!

Kali lain, saya ketemu abang taksi (baca: ojek) di Mrauk U, yang tidak mau dibayar ketika dia mengantar saya ke penginapan dan menuju bukit untuk melihat sunrise. Dini hari sebelumnya, dia mencarikan saya kamar kosong di penginapan milik temannya karena belum buat reservasi di mana pun.

Oh, tapi saya percaya, sih, sebenarnya kebaikan bisa ditemukan di mana saja. Bukan cuma di Myanmar, yang masyarakatnya disebut-sebut masih autentik karena negaranya baru “terbuka” dan belum terlalu terpapar oleh budaya lain.

Satu hal yang bikin saya takjub tentang kebaikan mereka mungkin ada hubungannya dengan represi terhadap Rohingya dan suku-suku lain di sana. Saya masih enggak habis pikir kenapa masyarakat yang begitu baik punya perkara kesukuan yang tak kunjung selesai. 😦

bagan 2
Paling nyaman, sih, pakai kaus dan celana longgar

4. Patuhi Aturan Berpakaian
Kita memang tidak akan disuruh ganti baju kalau mengenakan pakaian yang seksi di Myanmar. Tapi justru karena itu, sebaiknya gunakan baju yang sedikit “tertutup” ketika berada di negara ini. Mau pakai longyi seperti warga lokal juga boleh.

 

Hampir semua pagoda dan kuil—yang jadi objek wisata utama—masih digunakan sebagai tempat beribadah. Di depan pintu masuk bangunan semacam itu, biasanya ada plang yang berisi aturan berbusana; enggak boleh pakai celana pendek, baju bertali tipis, dan alas kaki untuk menghargai tempat suci dan warga yang sedang sembahyang.

Waktu saya trekking, pengelola tur juga meminta agar peserta tidak memakai celana pendek. Hal itu dilakukan untuk menghargai warga di desa-desa yang kita lalui. Sesuai pepatah lah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sebagai pendatang, sudah sewajarnya kita menghormati tempat yang didatangi, toh.

Plus, karena bakal sering lepas alas kaki saat mengunjungi candi, sebaiknya pakai sandal ketika melancong di sini. Kecuali saat trekking, pastinya.

Udah, cuma empat saja, nih? No, enggak dong. Masih berlanjut ke sini!

 

Bandung, 1 Juli 2017

 

 

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s