Mau ke Myanmar? Baca Dulu! (2)

bapak
Hello again!

Ternyata tulisan tentang hal-hal yang harus diketahui sebelum ke Myanmar ini beranak pinak. Jadi dibagi dua saja, deh–yang sebelumnya ada di sini. Marilah segera lanjutkan agar segera selesai dan kamu bisa segera tutup tab-nya. 😀

beetle nut
Itu masnya lagi bikin sirih buat dikunyah

1. Noda Merah di Pinggir Jalan
Bukan, bukan darah karena konflik! Tapi karena noda ludah dari orang yang mengunyah beetle nut. Hihihi. Seperti sebagian kecil warga Indonesia, penduduk Myanmar juga punya kebiasaan menyirih. Saya enggak tahu, sih, jenis sirih yang dimamah sama dengan di sini atau tidak. Yang pasti, penjual sirih ada di mana-mana. Pengunyah sirih tidak melulu laki-laki, perempuan juga ada. Untuk mengidentifikasinya, lihat saja geligi mereka yang menguning dan menghitam.

Untuk perkara ini, Pemerintah Myanmar telah mengeluarkan himbauan agar masyarakatnya tidak meneruskan kebiasaan menyirih. Pasalnya, aktivitas ini memang bikin gigi kuat, tapi punya dampak negatif lain pada kesehatan. Misalnya, menyebabkan kanker atau rentan penularan penyakit. Sebab pengunyah sirih lebih sering meludah dan seringkali, tidak mengenal tempat. Termasuk di pinggir jalan.

Aturan tinggal aturan. Masyarakat Burma tetap mengonsumsi beetle nut yang telah dipotong-potong, diberi “saus”, dan dibungkus oleh daun. Tertarik mencoba? Teman saya yang menjajalnya ini bilang kalau rasa “kudapan” tersebut seperti pasta gigi.

2. Bisa Minum Gratis
Keberadaan para biksu yang hilir mudik di setiap penjuru Burma mungkin jadi awal mula ketersediaan air minum gratis di negeri ini. Banyak tempat, seperti kuil dan restoran, menyediakan air putih gratis di tempat-tempat yang mudah dijangkau. Jadi, kamu tidak perlu khawatir bakal kehausan saat sedang jalan-jalan, tapi tidak berbekal minuman.

Biasanya, air bening ditempatkan di tempayan yang terbuat dari tanah liat. Di sampingnya, sudah pasti ada gelas. Jamaknya, sih, semua orang minum dari gelas yang sama. Tidak usah pertanyakan tentang kebersihannya, silakan tenggak saja kalau haus. Hehehe. Untuk itu, sebaiknya kita bawa botol minum sendiri dan baru diisi ulang jika habis.

Biasanya, air bening ditempatkan di tempayan yang terbuat dari tanah liat. Di sampingnya, sudah pasti ada gelas. Jamaknya, sih, semua orang minum dari gelas yang sama. Tidak usah pertanyakan tentang kebersihannya, silakan tenggak saja kalau haus. Hehehe. Untuk itu, sebaiknya kita bawa botol minum sendiri dan baru diisi ulang jika habis.

side dish
Ini dia side dish khas Burma

3. Juga Banyak Side Dish Gratis! 
Hampir di setiap restoran, nasi dan lauk (biasanya ayam atau telur bumbu kari) dihargai 2000 kyat. Tapi yang disajikan di meja kita tidak hanya dua jenis makanan itu saja. Biasanya ada semangkuk sayur yang mirip sayur asem, tumisan, dan lalap mentah ataupun matang. Semacam kimchi kalau di Korea. Kalau lapar dan suka, silakan habiskan saja. Gratis! Minta nambah juga boleh, kecuali kalau belinya di warung semacam warteg kalau di Indonesia. Beda aturannya lagi itu.

4. Cek Peraturan dan Forum Traveler
Sebelum berangkat ke Myanmar, ada baiknya untuk mengecek situs pariwisata mereka untuk tahu aturan-aturan terkini atau perizinan yang kamu butuhkan untuk bertandang ke wilayah tertentu. Seperti juga ibukota dan bendera yang mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir, peraturan untuk warga asing yang masuk ke sana juga mungkin mengalami penyesuaian. Fluid banget!

Selain itu, cek forum traveler. Memang, sih, kita tidak bisa seratus persen percaya kata orang lain. Tapi forum yang aktif bisa memberi insight tentang kawasan tertentu. Misalnya, salah satu tempat yang saya kunjungi berada di state yang mengalami konflik Rohingya tahun lalu. Sebelum berangkat, ada berita jika konflik kembali mencuat di kawasan itu dan kerusuhan menyebar hingga ke sejumlah daerah di sekitarnya. Tapi para pelancong bilang kalau daerah tersebut aman untuk dikunjungi. Cuss, deh, berangkat! Dan, terbukti memang aman.

Kuncinya, cari informasi terbaru. Untuk urusan Myanmar, kita enggak bisa mengandalkan informasi tahun 2015 untuk dijadikan acuan tahun ini atau tahun depan. Perubahan mereka bisa cukup ekstrem dari waktu ke waktu.

5. Bayar Tiket Masuk
Menjelajahi Mrauk U, Bagan, Mandalay, dan Inle Lake itu layaknya menjelajahi Dufan. Untuk bisa berkeliling dengan nyaman di empat tempat itu, sebaiknya pelancong membeli tiket masuk ke kawasan tertentu yang berlaku untuk sejumlah hari. Misalnya, tiket untuk masuk Bagan Archaelogical Zone adalah 25.000 kyat (hampir Rp250.000) dan berlaku selama lima hari. Harga tiket untuk Mandalay beda lagi. Kalau tidak salah 10.000 kyat untuk seminggu.

Harus banget beli? Sebenarnya, sih, enggak. Karena pengecekannya juga dilakukan secara acak. Di Bagan, misalnya. Selama tiga hari di Bagan, saya cuma sekali mengalami pengecekan. Beberapa wisatawan juga menolak membeli tiket masuk karena, menurut mereka, uang tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan junta militer. Entahlah.

Waktu di Mandalay, saya tidak bayar tiket. Karena tidak mengunjungi tempat yang ada penjualan tiketnya, cuma sehari di kota itu, dan sudah bayar tiket masuk kuil di Mandalay Hill. Hehehe.

jalan
Jalanan dari Ngapali ke Mrauk U

6. Siapkan Fisik!
Karena infrastruktur yang belum maksimal, perjalanan dari kota yang satu ke kota lainnya di Myanmar, terutama di luar poros Yangon-Bagan-Mandalay), cukup melelahkan. Pelancong harus siap berkendara berbelas-belas jam untuk mencapai tempat yang ditujunya, kecuali kamu punya uang berlebih untuk naik pesawat dari satu titik ke titik lainnya. Mahal banget lah!

Karena infrastruktur yang belum maksimal, perjalanan dari kota yang satu ke kota lainnya di Myanmar, terutama di luar poros Yangon-Bagan-Mandalay), cukup melelahkan. Pelancong harus siap berkendara berbelas-belas jam untuk mencapai tempat yang ditujunya, kecuali kamu punya uang berlebih untuk naik pesawat dari satu titik ke titik lainnya. Mahal banget lah!

Misalnya, perjalanan dari Yangon ke Mrauk U yang hanya 700 km ditempuh dalam waktu sehari semalam jika menggunakan bus. Pasalnya, selain jalannya belum sepenuhnya mulus, ada kalanya penumpang diminta turun sejenak untuk menyeberangi jembatan dan cek identitas. Ehehe. Untuk mengatasinya, saya pilih untuk menuju Ngapali—yang berada di antara Yangon dan Mrauk U—dan menikmati pantai sejenak sebelum kembali meneruskan perjalanan. Bisa juga naik pesawat dari Yangon ke Sittwe—kota pelabuhan dekat Mrauk U. Tapi dari situ masih harus naik bus atau perahu selama beberapa jam. Ya, sama saja lama.

Jadi, jangan percaya kalau Google Maps bilang jarak Yangon dan Bagan yang 600 km itu bisa ditempuh dalam waktu enam jam. Nyatanya, butuh waktu embilan hingga sepuluh jam paling cepat kalau naik bus! Jadi, enggak heran kalau banyak perusahaan bus yang menyediakan kelas VIP untuk perjalanan dengan durasi lama. Eh, mending naik kereta, dong? Enggak, sih. Kereta di sana superlambat dan—percayalah—masih lebih nyaman gerbong ekonomi di Indonesia.

Ah, di Indonesia juga infrastrukturnya belum bagus, kok! Ya iya, sih. Karena sama-sama negara berkembang; kondisinya hampir mirip. Tapi ‘kan posting-an ini lagi bahas tentang Myanmar. Ahak! Udah, ah!

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s