Merambah Mrauk-U

Perlu sehari semalam untuk mencapai Mrauk U dari Yangon. Tapi saya tidak menyesal memilih mantan ibukota kerajaan itu sebagai salah satu tujuan ketika traveling ke Myanmar tahun lalu. Malah–bisa jadi–ia adalah tempat yang paling berkesan dari enam area yang saya kunjungi di negeri itu. Jezuba!

mr2
Sunrise di Mrauk U

Berbulan-bulan lalu, pada suatu dini hari, saya sampai di Mrauk U, sebuah kota kecil di bagian barat Myanmar. Gelap dan sunyi; lampu jalan hanya ada satu atau dua. Persis di pedesaan Indonesia.

Sebelum memutuskan untuk ke Mrauk U, saya mencoba mencari penginapan yang ringan di kantong. Tapi, Mrauk U bukan Bagan atau Mandalay. Di sini, pariwisata belum menjadi tulang punggung perekonomian, meski sejarah yang diembannya tak kalah menarik dari dua kota tersebut. Hotel-hotel yang muncul di situs pemesanan tak banyak dan harganya tak sesuai bujet saya yang masih punya 10 hari lagi di Myanmar.

Alhasil, pada dini hari itu, saya cuma bisa bengong di muka restoran yang tutup sambil cari ide untuk bisa cepat istirahat. Aha! Yang pertama, diam di situ–duduk di tas yang dibawa–sampai matahari muncul sekira tiga jam lagi. Atau menyusuri jalan gelap dan menuju hotel terdekat yang ditunjukkan oleh peta di ponsel tanpa sinyal internet.

Kedua opsi tersebut gugur ketika ada tiga pengendara motor mendekat. Salah satunya bicara bahasa Inggris dan saya bilang tidak butuh ojek (di Myanmar, mereka menyebutnya mototaxi atau taxi) karena belum tahu mau menginap di mana. Tanpa diduga, dia bilang kalau ada tempat yang kosong di penginapan temannya. Setelah dia menyebut tarif “taksi”, saya setuju untuk menuju tempat yang direkomendasikan. Semesta berkati, saya bisa segera istirahat.

Kelelahan tidak membuat saya bisa langsung tidur. Kamar yang lembap jadi satu alasan, tapi ada alasan lain kenapa saya tidak segera terlelap: otak saya mendeteksi bunyi tembakan. Benar atau tidak? Sepertinya tidak benar, karena tidak ada kehebohan warga; area itu tetap sunyi dan gelap. Sepertinya, alam bawah sadar yang membuat saya dirundung panik.

mr5.jpg
Hitung ada berapa pagoda!

Mrauk U berada tidak jauh dari Maungdaw, di mana bentrok antara polisi dan Rohingya terjadi beberapa minggu sebelum saya tiba di sana. Tidak jauh dalam ukuran Myanmar bisa jadi sangat jauh karena infrastruktur jalanan antara kedua daerah tidak selalu beraspal dan segaris lurus. Kabar menyebutkan, kekacauan itu merambat ke mana-mana. Banyak warga yang dipindahkan ke Mrauk U dan menempati barak-barak pengungsian.

Tidak adil rasanya kalau menganggap Myanmar hanya punya pagoda. Dari perjalanan bus dan hiking yang saya lakukan, saya yakin kalau negeri ini juga punya alam yang indah. Hanya saja pagoda memang bisa ditemui di mana saja—termasuk di tempat-tempat yang tidak diperkirakan—dan akses masih terbatas serta dibatasi.

Tapi perjalanan saya ke Mrauk U memang diniatkan untuk melihat pagoda. Informasi yang saya dapat dari beragam artikel dan forum menyebutkan bahwa kawasan ini punya ribuan pagoda. Mirip dengan Bagan yang berada lebih di utara, tapi degan jenis pagoda yang berbeda. Di sini, kebanyakan pagoda berwarna abu-abu atau hitam karena terbuat dari batu. Bentuknya pun lebih banyak yang menyerupai lonceng. Dan…. semuanya tidak terkunci!

Dulunya, kawasan yang kini ditetapkan sebagai situs arkeologi ini adalah ibukota Kerajaan Mrauk U. Kerajaan tersebut menjadi yang terkuat dan penting di wilayah Rakhine. Lokasinya strategis menghubungkan kota pelabuhan Sittwe dan kota-kota lain di daratan Myanmar. Kesejahteraan membuat mereka ingat pada Yang Kuasa, ribuan kuil dan pagoda dibangun untuk menyampaikan rasa syukur.

Sejarah berubah ketika kerajaan ini ditaklukkan oleh satu kerajaan dari Burma. Pamornya semakin susut hingga kini. Mrauk U dilewati begitu saja oleh warga yang bepergian ke SIttwe yang lebih ramai dan ternama. Ia juga tidak ada di dalam daftar perjalanan para pelancong karena lokasinya melenceng dari Yangon-Bagan-Mandalay dan jaraknya jauh dari mana-mana.

mr3
Bocah-bocah yang antar saya ke bukit, Jezuba!

Tapi justru itu serunya!

Di sini, saya menghabiskan waktu berjam-jam melihat pagoda serta matahari terbit dan tenggelam dari atas bukit. Dijejeri pemuda lokal yang tanya segala macam, mulai dari nama sampai jodoh. Minum whisky murah khas Burma, yang rasanya lebih tidak enak daripada anggur Cap Orang Tua, bersama sesama pelancong dan agen tur. Naik bukit jam 5 pagi saat mata masih sepet. Mendengar pemandu tur yang menjelekkan keburukan Rohingya dan Islam. Menikmati segala kesunyian dan kesederhanaan. Dan, ya itu, mengatasi kepanikan yang tidak beralasan. Diantar ke sana kemari oleh abang ojek (abang yang sama dengan yang pertama kali saya tiba di Mrauk U) secara gratis! Dikelilingi oleh satu keluarga—nenek, ibu, anak, menantu, kakek—saat bertanya alamat.

Tapi setiap perjalanan pasti ada akhir (duile!). Saya harus melanjutkan perjalanan ke kota lain setelah tiga hari berada di Mrauk U. Malam hari sebelum pulang, saya membayar tiket bus yang telah dipesan sebelumnya.

mr1.jpg
Panas banget!

Setelah membayar, seorang tua memanggil. “Kamu betul orang Indonesia?” tanyanya yang saya jawab dengan anggukan kepala. Rupanya, temannya—si penjual tiket—yang bilang bercerita kalau ada anak Indonesia keluyuran sendirian di Mrauk U.

“You’re so brave,” dia melanjutkan. Saya bukan satu-satunya solo traveler di Mrauk U, tapi saya mengerti kenapa ia bilang begitu. Kami alu berbincang sedikit dan dia minta saya menceritakan tentang Mrauk U kepada orang lain. “Di sini aman, same as Bagan,” katanya. Ia mengatakannya setelah bertanya apa agama saya dan saya bilang kepadanya tentang kabar yang saya baca di internet.

Ya, semoga saja ada usia dan kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana dan berbincang lebih lama dengan si bapak.

Jakarta, Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

2 thoughts on “Merambah Mrauk-U”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s