Kenapa Myanmar?

236.jpg
Myanmar, Oktober 2016

 

Sebulan sebelum keberangkatan.

Sebenarnya, yang ingin ke Myanmar itu sahabat saya. Kayaknya, dia sudah menyebut-nyebut ingin berkunjung ke negara itu sejak 2015, deh. Tapi belum kesampaian karena tidak menemukan waktu yang pas. Dari seringnya saya mendengar nama negara itu dia sebut, saya iseng cek tiket ke Myanmar dan beberapa negara Asia Tenggara untuk vakansi pas ulang  tahun. Ternyata yang termurah adalah harga tiket ke Yangon (note: dari KLIA 2—anak LCC banget. :D); hanya sekira Rp500 ribu. Ya, beli saja dulu, berangkatnya urusan belakangan. Macam banyak uang.

Inginnya, sih, ke Thailand untuk merayakan pergantian usia tahun lalu. Karena itu semacam negara tujuan sejuta umat, tapi saya belum pernah sama sekali ke sana. Padahal, katanya, harga-harga di sana murah dan enggak bakal bikin rekening jebol. Tapi, ya, kenapa tiket ke sana sekarang mahal? Sedih. Lalu, ide jenius muncul. Mari ke Thailand sepulang dari Myanmar. Harga tiket Yangon ke Bangkok pun lebih bersahabat daripada Kuala Lumpur ke Bangkok ataupun Jakarta ke Bangkok. Yeay!

Sejak sebulan sebelum berangkat, saya riset tentang Myanmar; Yangon dan teman-temannya. Tertarik? Tidak! Hahaha. Intinya, saya masih setengah hati mau ke Myanmar karena memang dari dulunya enggak terlalu ingin ke sana. But, anyway, I have a wish to visit all the ASEAN countries. So… Myanmar is definitely on the list. Belum lagi, sepanjang yang saya dengar dan baca, biaya hidup di sana cukup tinggi jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam juga isu Rohingya sedang kembali mencuat. Makinlah negara itu tidak menarik. Tapi, sudahlah, yang terpenting ‘kan tidak di Indonesia ketika ulang tahun.

Selanjutnya, saya bikin daftar kota yang akan dikunjungi selama seminggu di sana. Makin banyak riset, makin banyak tempat yang masuk daftar. Hiks. Belum lagi mau ke Thailand dan Laos, ‘kan. Akhirnya, diputuskan kalau durasi vakansi kali ini diperpanjang menjadi dua minggu. Hore! Dapat cuti? Ternyata dapat!

Hari H. Kamis, 20 Oktober 2016

Hari itu, konsentrasi saya sudah terbelah. Semua bawaan sudah dipak rapi di backpack 40 liter yang dibawa sejak pagi ke kantor. Tapi saya belum tukar uang rupiah ke dolar (mata uang Myanmar enggak tersedia di Indonesia) dan masih harus menyelesaikan plus mengedit artikel sebelum berangkat nanti sore. Yang lebih parah, saya mesti memutuskan keberlanjutan saya di kantor media tempat bekerja waktu itu.

Stres.

Long story short, semuanya berhasil teratasi dengan baik, meskipun saya harus mengambil keputusan berat untuk meninggalkan tawaran menarik untuk jadi travel editor di salah satu majalah terbaik yang pernah saya baca. Lima menit setelah mengambil keputusan itu dan mengobrol sebentar dengan rekan kerja, saya berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan saya harus ada di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.30. Saya pergi dengan gundah. Risau. Galau.

Tapi mungkin itulah saat yang tepat. Sebulan setelah keberangkatan ini, saya bakal jobless dan belum tentu akan melakukan apa yang saya suka lagi. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat yang tepat untuk tetirah buat saya pada masa itu. Mungkin Myanmar, seperti kata sebagaian besar orang yang sudah berkunjung ke sana, adalah tempat tanpa yang hening buat saya yang sedang kacau.

Di tengah banyaknya ketidakjelasan—termasuk itinerary, yang jelas adalah saya akan terbang ke Kuala Lumpur, menunggu beberapa jam, sampai di Yangon keesokan paginya, berpindah ke Bagan untuk lihat beribu kuil dan puluhan balon udara melayang di sekitarnya, trekking di Inle Lake, dan ikut berkabung karena mangkatnya Raja Bhumibol Adulyadej. Sudah.

Tapi—ternyata—berkonsentrasi untuk liburan saja bisa sebegitu sulitnya waktu itu.

Jakarta, Maret 2017