Label Rasa

dscf4883
The one I’ll never forget (Mrauk U, Myanmar, Oktober 2016)

Suatu waktu, saya sedang mengerjakan artikel tentang patah hati, move on, dan sejenisnya. Lalu, saya membaca sebuah tulisan dari situs luar negeri. Isinya tentang fase-fase yang dilalui seseorang sebelum ia “sembuh” dari patah hati. Ada tujuh, kalau tidak salah ingat, termasuk penolakan, marah, sedih, dan lainnya. Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melaluinya juga beragam, meski si psikolog menyebut sepuluh pekan sebagai durasi rata-rata.

Saya kemudian mengingat-ingat tentang masa lalu. Pernahkah saya patah hati?

Pernah.

Lalu, saya mengingat-ingat pula tentang apa yang saya lakukan untuk menghadapi hal itu hingga kemudian bisa kembali “berfungsi dengan normal”. Sepertinya, tidak ada yang spesifik. Biasanya, saya menutupi perasaan dan terus-menerus meyakinkan diri jika semua hal berjalan baik-baik saja. Tidak ada mengunci diri di kamar atau menangis berhari-hari atau menenggelamkan diri dalam kesibukan atau liburan atau membuang barang-barang kenangan atau menulis. Oke, saya pernah melakukan hal-hal tersebut, tapi justru bukan karena patah hati. Karena hal lain.

Pikiran itu kemudian tidak pernah hilang, apalagi saya pernah dikelilingi kisah-kisah patah hati yang cukup tragis beberapa masa lalu. Dalam hati, saya bertanya-tanya apakah normal jika saya tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan orang lain saat mengalaminya. Hingga kemudian pertanyaan itu diulas saat kami, saya dan teman-teman, sedang memainkan conversation card beberapa malam lalu.

Saya lupa pertanyaan spesifik yang tertera di kartu tersebut. Tapi saya jadi bertanya kepada ketiga orang lainnya tentang upaya sembuh dari patah hati ini. Mereka menjawab dengan beraneka respons, tidak ada yang sama antara satu dan lainnya. Lebih lanjut lagi, mereka menanggulangi setiap kasus berbeda dengan cara berlainan. Sebab… luka yang terasa dan tertinggal pun tidak identik.

Satu hal yang pasti, setiap episode patah hati justru membuat mereka (kami, ehm) lebih mengenal diri sendiri.

Dasar memang, ya, anak-anak ini suka berdiskusi, bahkan tentang hal yang cheesy dan terlihat tidak penting. Satu pak kartu dihabiskan dalam waktu hingga enam jam, pura-pura lupa jika ada yang harus pergi ke bandara pagi sekali. Untung hanya berempat.

Dari perbincangan tentang rasa dan relasi malam itu, kami sepertinya sepakat jika untuk lepas dari patah hati, sedih, marah, bahagia, dan lain-lainnya adalah dengan melabelinya. Jika sedih, akuilah sedih. Jika marah, bilanglah marah. Dan jika bahagia, jangan sungkan membaginya dengan orang lain. Dengan begitu, kita bisa menanganinya dengan tepat dan lebih baik. Sayangnya, tidak (atau belum) semua orang punya kematangan untuk melakukannya. Termasuk saya, hahaha.

Sekira setahun hingga dua tahun belakangan, saya mencoba menerapkan pelabelan tersebut. Pasalnya, saya bukan orang yang mudah mengekspresikan rasa, apalagi kemarahan dan kesedihan. Ternyata sulit! Karena sudah terbiasa menjadi orang yang abai, hal itu terbawa terus-terusan. Padahal marah dan sedih itu ‘kan rasa yang normal, bukan suatu kesalahan atau negatif. Kecuali jika diekspresikan tanpa alasan yang jelas atau tidak pada tempatnya.

Dari pelabelan yang saya coba lakukan, sudah hampir pasti bahwa tahun ini adalah patah hati terbesar saya. Karena berbagai hal.

Lalu, bagaimana mengatasinya atau berdamai dengannya kali ini? Ada saran?

Ah, yes, time will heal.

Jakarta, Desember 2016

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s