Vakansi Sendiri: Vietnam (3) – Da Lat

stat.jpg
Sambutan Hangat

Setiap orang punya cara melancong yang berbeda. Di perjalanan menuju Bromo, saya bertemu sepasang sahabat yang merencanakan perjalanan mereka secara detail di barisan Excel dan mencetaknya sebagai panduan. Sebagian lainnya merasa cukup dengan rencana perjalanan kasar.  Lain lagi dengan yang tipe lain yang bahkan tiket pulang saja belum dibeli hingga hari kepulangan ke negara atau kota asal. Ya, itu saya, hahaha. Sulit sekali rasanya mau membuat hidup sedikit lebih terencana.

Kebiasaan (buruk) itu pula yang bikin saya terdampar di Da Lat saat bertandang ke Vietnam lebih dari setahun silam.

*

Dari Mũi Né, saya menumpang bis tanggung untuk ke Da Lat. Rencananya, saya hanya akan menghabiskan sesiangan di kota tersebut dan melanjutkan perjalanan ke Huế sore hari dengan bis atau kereta. Tapi plan itu gagal karena pemilik kafe tempat saya makan siang memberi tahu jika bis ke Huế sudah berangkat dan tidak ada rute kereta antarkota yang melintasi Da Lat. Setelah merutuki diri karena kurang jeli melakukan riset, saya memutuskan untuk meminta peta darinya dan menunjukkan tempat-tempat yang layak dikunjungi sore itu.

Setelah mendapat hostel untuk bermalam, saya dijemput Stephen dengan motornya untuk berkeliling Da Lat. Dengan motor kawak, Stephen membawa saya ke beberapa tempat wisata yang kerap dikunjungi turis. Seperti Kuil Trúc Lâm dan Air Terjun Datanla. Sepanjang perjalanan, bapak tua itu menjelaskan tentang perubahan kota ini dari waktu ke waktu, termasuk posisinya saat perang pecah di Negeri Paman Ho. “Setelah ini, saya antar ke Crazy House, tapi kamu tidak usah masuk dan bayar tiket. Tidak terlalu bagus,” ujarnya meyakinkan. Saya mengangguk sembari sibuk memotret kota tersebut dari ketinggian.

688
Perkebunan sayur, buah, dan bunga
842
Hunian

Da Lat ternama karena udaranya yang dingin dan suasananya yang tenang. Jauh berbeda dari Ho Chi Minh yang ramai kendaraan dan bising. Mungkin itu pula yang bikin para Prancis betah dan menjadikannya sebagai kota tetirah. “Vous parlez Francais?” tanya saya iseng. “Oui, bien sure,” itu saja yang saya tangkap dari kalimat berbahasa Prancis-nya yang panjang dan cergas. Memori saya akan bahasa Prancis memang nol besar, meski pernah mengenyam kursus selama tiga tahun. Payah.

742
Kuil Truc Lam

Dan sejak itu, saya jatuh cinta pada Da Lat. Bangunannya indah, temperaturnya bersahabat, dan lanskapnya mengingatkan saya pada Bandung, kota kelahiran tercinta.

Hujan semakin deras ketika saya selesai menukar uang di sebuah toko emas tak jauh dari penginapan. “Saya turunkan kamu di sini tidak apa-apa?” tanyanya sopan. Saya iyakan karena lebih dekat dan cepat menyeberang jalan daripada harus berputar dengan berkendara. Setelah pembayaran selesai, saya minta izin untuk memotretnya. “Makan yang banyak! Kamu terlalu kurus,” nasihat pak tua itu. Saya tertawa mengiyakan dan menyeberang jalan dengan hati ringan.

799.jpg
Pak Stephen

Keinginan untuk memperpanjang kunjungan di Da Lat menguat. Sebab masih ada canyoning yang belum dijajal. Tapi waktu saya pendek sekali. Alhasil, hari kedua saya hanya jalan-jalan tak tentu arah. Mendatangi bekas istana yang sudah beralih fungsi, menyusuri gang kecil, dan mengagumi interior Stasiun Da Lat yang kini hanya melayani kereta wisata.

Suka sekali.

Jakarta, November 2016

Advertisements