Main Hati

DSC02308
Bromo, September 2014

Mari bicara tentang hati dengan (tidak) hati-hati.

Sejak lama, saya menyadari bahwa saya tidak ahli perihal hati, cinta, dan turunan-turunannya. Jangankan dengan “siapa”, dengan “apa” saja selalu kandas. Contoh, dengan gawai. Ponsel yang lancar-lancar saja dipakai orang, belum tentu di tangan saya. Komputer jinjing, yang kata orang bandel dan bakal awet, kalau saya yang pakai, ya, setahun dua tahun juga sudah bakal bermasalah. Miris? Agak, sih, tapi jadi ada alasan untuk beli yang baru kalau uangnya ada. Tanaman dan hewan peliharaan pun tidak bertahan lama.

Baiklah.

Itu jadi salah satu alasan mengapa urusan hubungan tidak pernah masuk dalam hitungan saya, beda dengan uang, hahaha. Sayangnya, semakin bertambahnya umur, menjalani hari, dan ruwetnya otak, hal yang satu itu justru ambil porsi yang lumayan dan tidak pernah absen jadi bahasan di tiap perjumpaan. Kadang sekadar lalu, tapi tidak jarang memang diniatkan bertemu untuk bahas hal itu. Kadang bikin berbunga-bunga setengah mati, senyum-senyum tanpa sebab, atau malah lelah hati serta fisik.

Perlahan harus disadari dan dimafhumi—mau tidak mau dan suka tidak suka, memanglah hal yang satu itu jadi pokok dalam hidup saya, kamu, kami, dan orang-orang di sekitaran. Telan sajalah. Belum lagi, tidak pernah ada cara yang seratus atau 99 persen berhasil menangani perkara hati ini, harus trial and error selalu. Ribet, ah!

Senang, sedih,optimis, ragu, bingung, marah, kecewa, pasrah, sakit, sehat, patah, tumbuh, dan lain-lainnya sudah jelas jadi asupan yang tak terhindarkan. Bahkan ada kalanya, perkara yang satu itu bikin saya dan orang di sekitar saya jungkir balik, menolak bertemu dengan orang lain, lakukan apa saja yang dimampu, pergi jauh demi lebih kenal pasangan atau diri sendiri, hingga mengubah peta persahabatan. Apalah.

Dari semua pengalaman orang atau pribadi, satu pertanyaan yang sering muncul adalah harus ikuti kata hati atau lakukan yang benar?

Bandung, 9 Juli 2016