Ada Apa dengan Apa?

cinta-ucapkan-selamat-tinggal-pada-rangga-di-trailer-aadc-2-fkk
Ciyeeeee.. 😀

Tulisan ini dibuat sepulang menonton Ada Apa dengan Cinta? 2 Senin lalu. Sengaja baru diunggah sekarang karena Mbak Produser berharap yang sudah nonton duluan tidak terlalu membocorkan jalan cerita film tersebut. Hahaha.

Kisah Rangga dan Cinta yang dimulai empat belas tahun lalu kembali hadir di layar lebar. Rupanya mereka sempat bertemu sembilan tahun lalu di New York. Saat Cinta sedang liburan keluarga. Singkat cerita, mereka bertemu lagi tahun ini. Keadaan sudah berbeda, mereka menua. Lihat saja Rangga yang lelah, kantung matanya sepertinya tak bakal tersamarkan walaupun (semisal) ditutupi concealer berlapis-lapis pun. Cinta sudah siap menikah. Milly sedang hamil. Maura sudah beranak-pinak. Karmen baru saja selamat dari konflik asmara dan rehabilitasi. Plus, Alya sudah menjadi abu. Sekarang, ceritanya tidak berkutat pada lomba puisi dan majalah dinding yang akan terbit dan perkawanan yang dianggap tidak prinsipil. Masalah hati lebih punya urgensi, cuy!

Rangga tetap tinggal di New York, Cinta mengelola galeri di Jakarta. Tapi bukan di kedua kota itu kisah mereka kembali bermula, justru di Yogyakarta yang tidak terlalu Ibukota-sentris. Senang sekali melihat Kill The DJ, Papermoon, Candi Ratu Boko, Pasar Beringharjo, dan hotel-hotel cantik masa kini itu muncul di layar besar.

Bagaimana kisahnya? Lebih seru tonton sendiri. Banyak orang menganggap jika film kedua ini terlalu cheesy, tidak mendalam, Rangga terlalu sensitif, sikap geng Cinta tidak berubah, dan penyelesaiannya terlalu mudah. Kalau menurut saya, sih, tidak mengecewakan. Sebab, jujur saja, saya tidak berharap film ini akan bagus setelah melihat cuplikannya sejak bulan lalu. Bahkan akting yang kurang pas dan dialog yang terkesan dipaksakan cukup termaafkan. Generasi saya mungkin menantinya benar-benar karena kami “tumbuh” dengan itu. Rasanya seperti menonton Harry Potter yang dimulai saat kami beranjak remaja. Apple to apple enggak, sih? Enggak? Oke, abaikan.

Buat sebagian orang mungkin kisah Rangga dan Cinta ini ribet. Duile, perihal asmara doang bisa bikin merana (dalam hati) sembilan tahun. Mana mungkin beda pendapat dengan teman membuat nangis? Terus ciuman sama yang bukan pacar dan enggak berarti apa-apa? Perkawinan di depan mata pun bisa batal. Mengada-ada sekali, deh, film ini!

IH!

Kalau sekuel ini dibuat enam tahun lalu, pasti saya juga berpendapat begitu. Asli, sepertinya heboh banget kisah Cinta, Rangga, dan teman-temannya ini. Tapi film ini muncul tahun ini. Layaknya Cinta dan Rangga dan Milly dan Maura dan Karmen, kami juga berubah. Kami di sini merujuk pada saya, teman-teman, dan situasi di sekitar saya. *maksa*

Setelah makan sejumput asam garam kehidupan dan berproses dengannya, saya menyadari benar bahwa relasi memang bisa sedemikian rumit. Bahkan relasi pertemanan, yang bagi beberapa orang merupakan bentuk paling sederhana atas rasa sayang. Justru mungkin rasa itu sebenarnya yang jadi sumber kepelikan. Berlebihan? Enggak sama sekali, kalau menurut saya. Atau saya yang saja berlebihan? Bisa jadi, mengingat resolusi tahun ini adalah jadi drama queen. Haaks.

Tapi benar, deh, apa yang dialami orang-orang di layar perak itu memang pernah (atau sedang) terjadi pada saya dan orang-orang sekitar saya. Mungkin bentuknya tidak sama persis, tapi permasalahan-permasalahan selalu ada. Dalam bentuk XS, S, M, L, XL, bahkan XXXXXXL. Mau bukti? Beberapa dari kami sempat tergabung dalam geng patah hati dan pergi liburan bareng. Seorang teman bahkan berbesar hati mengejar cinta hingga ke Benua Eropa dan mengorbankan vakansi yang telah dirancang sejak berbulan-bulan sebelumnya. Lingkaran pertama pertemanan saya pun goyah karena ini itu. Cukup bikin nelangsa pokoknya. Pekerjaan bikin pening. Dan seterusnya. Kalau kata Yoo Si Jin di Descendants of the Sun, “Niatnya cuma jadi melodrama, tapi malah jadi blockbuster.” Nyambung, ih.

Tidak ada yang mengira bahwa di sela-sela rasa sayang dan cinta yang mengalir itu terselip bom-bom beraneka ukuran yang bisa meledak kapan saja karena pemicu yang bervariasi. Beberapa bisa dijinakkan, beberapa meledak. Yang tak berhasil dijinakkan, kadar eksplosinya juga beda-beda. Ada yang cuma bikin luka ringan yang sembuh dalam waktu seminggu atau dua minggu. Ada juga yang baru sembuh berbulan-bulan kemudian, bahkan bekasnya tidak hilang bertahun-tahun. Keberanian, logika, dan rasa pun kadang malah baru hadir belakangan, pada waktu yang tidak sepantasnya. Tidak diduga.

Ah, sudahlah. Mari bersulang saja untuk kehadiran film ini! Apalagi Mira Lesmana, Prima Rusdi, Riri Riza, dan staf AADC?2 lainnya sudah berusaha membuat karya ini sangat personal. Jauh dari politik yang tertera di halaman depan media massa nasional serta jadi penyebab Rangga bermigrasi menjauhi Si Cinta. Perkara ekonomi justru jadi alasan yang lebih masuk akal untuk menakar cinta dan hidup, hahaha. Rangga juga masih bikin GMZ. Dengan itu pula, mereka-saya-kamu-kami-kita mungkin jadi tersadar bahwa dewasa, bagi beberapa orang, adalah saatnya menjadi egois. Perasaan (atau perkara) sendiri lebih penting daripada apapun.

Meskipun untuk menafsirkan klausa “perasaan sendiri” itu butuh penjelasan yang lebih panjang lagi.

Endapkan dulu, cukup sekian ngalor-ngidul-nya.#sarekeun

Jakarta, 25 & 30 April 2016

 

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s