Boleh Tenang Sedikit?

blog
Peace of Mind (White Sand Dune, Mui Ne, Vietnam, 2015)

Belakangan, saya terlalu banyak berpikir. Ah, tapi siapa yang tidak? Justru, pikiran mereka mungkin jernih, sejernih air mineral dalam kemasan yang saya tenggak tadi siang. Yang terjadi pada saya kebalikannya. Pikiran runut dan bening itu tak pernah hadir, malah runyam, keruh, dan tidak konstruktif. Maka saya senang jika waktu tidur datang, meski baru bisa terlelap dua jam setelah punggung menyentuh kasur.

Siapa sumber untuk artikel besok? Maukah mereka bekerja sama untuk artikel itu? Bagaimana caranya untuk ke Korea menonton konser ulang tahun Big Bang? Kenapa, sih, T.O.P cakep banget dan otaknya ruwet sekali? Kira-kira sedekat apa personel grup itu satu sama lain? Oh ya, belum beli tiket konser Tame Impala! Kayaknya ke Bangkok seru juga, ya! Eh, tapi kan harus mulai nabung buat IELTS. Drop. Tunggu, tunggu, baju yang hitam ada di mana, ya? Jangan lupa nanti pagi beli tiket buat pulang. Terus tanya detail lamaran si teman! Eh, tapi memangnya diundang? Harus datang nggak, sih? Sudah punya eFin, jangan lupa besok lapor pajak. Kalau sudah punya sertifikat IELTS, jadi mau sekolah? Di mana? Atau mending short course dulu? Kira-kira lebih menarik belajar pariwisata atau digital media, ya? Sebenarnya, apa lagi dicari di tempat yang sekarang? Harus pindah kerja nggak, sih? Oh ya, belum beri kabar Ibu tentang ini dan itu! Cheers to the unsuccessful relationship! Tunggu-tunggu, perasaan tadi ingin nonton film. Apa, ya? Lupa judulnya. Lah, bukannya hari ini janji mau ketemu teman? Ya, besok lagi deh. Jam berapa ini? (Cek jam) Kok belum bisa tidur, sih? Jangan lupa besok nonton Youth over Flowers episode 3. Masih ada makanan apa, ya, di laci paling bawah? Ingat-ingat minum madu nanti pagi. Ih, nggak sabar, ya, ingin cepat pagi supaya bisa sarapan. Terus bagaimana caranya memulai kembali pembicaraan dengan si teman? Beli ponsel apa, ya? Mereka apa kabarnya, ya? Jadi, apa tiga kata di kartu pos yang dikirim Eleanor buat Park? I love you? Atau yang enough itu? Kenapa, sih, happy ending itu utopia? Karma itu benar ada nggak? Kenapa pria-pria di lingkaran gue brengsek semua? Ya, nggak semua, sih, tapi … Asyik, besok mau ketemu dia dan makan enak! Eh, senang banget, ya, hari ini deadline sudah selesai. Ingin makan junk food weekend ini. Kenapa jadi mikir terus? Konsentrasi, edit artikel. Eh, iya! Kenapa, sih, mereka berantem terus? Stop! Jangan lupa bayar kartu kredit. Kenapa pula itu Belgia dibom? Mudik nggak, ya, tahun ini? Woi! Kesetaraan di dunia itu nihil. Perbedaan itu mutlak, toh. Oh, how I miss Hong Kong and Vietnam. Makan Indomie goreng atau kuah? Kalau kuah, rasa kari ayam atau soto? Duh.

Dan terus berulang dengan tambahan di sana-sini, tanpa bisa dicegah. Tapi saya yakin, banyak juga yang seperti ini, ‘kan? Pasti.

Capek? Kadang-kadang. Pasti banyak yang lebih lelah dan melelahkan. Misalnya, mencegah pikiran-pikiran semacam itu muncul.

 Jakarta, 23 Maret 2016

 

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s