Pergi ke Penang

penang 1
Berjalan lebih jauh

Bernard ini lelaki setengah baya asal Prancis. Perjumpaan saya dengannya bermula saat kami sedang mengantri memesan nasi kandar di Restoran Kassim Mustafa di perempatan Lebuh Chulia dan Lebuh Penang. Saya sedang mengintip ke pembakaran besar di samping etalase kala ia menengok ke arah saya dan mengajak makan bersama. Saya iyakan, tentu saja. Tidak ada alasan untuk menolaknya, bukan?

Sesampainya di meja, kami ngobrol ngalor-ngidul. Dimulai dari negara asal, bagaimana akhirnya bisa menuju Pulau Penang, arah angin, Ferdinand Magellan, huruf “h” pada bahasa Prancis, hingga Bell’s Palsy.

Ia bercerita sudah pernah ke Indonesia. Empat bulan! “Harusnya tiga bulan, tapi molor karena perizinan,” ia mengeluh, “negara kamu payah untuk urusan surat-surat.” Saya membalasnya dengan tawa yang keras. Pulau Komodo, Lombok, Bali, dan Borneo sudah disambanginya. “Kamu mengunjungi lebih banyak pulang dari pada saya. Saya bahkan belum pernah ke Komodo dan Kalimantan,” ujar saya setelah sebelumnya menjelaskan di pulau mana Jakarta dan Bandung berada.

Setelah dari Indonesia, ia menuju Thailand. Berbulan-bulan di situ, ia memutuskan berlayar ke Pulau Penang dengan perahunya. Boat, dia bilang. “Lalu, dari Marseilles, kamu naik apa?” tanya saya masih belum paham. Dia jawab, “Ya itu tadi, perahu.” Sampai sekarang, saya masih belum tahu sebesar apa perahu yang digunakannya, hahaha. Dari situlah kami mengobrol tentang para penjelajah dan angin—yang meski terdengar menyeramkan, tapi ternyata membantunya melewati Pasifik yang terkenal gahar.

Bapak tua itu juga berkisah bahwa ia telah traveling sejak 2005. “Hampir sebelas tahun? Gila!” saya tak habis pikir, lantas bertanya tentang pekerjaannya.

Rupanya, ia dulu berurusan dengan pembangunan jembatan.

“Sudah cukup dan saya memutuskan untuk keluar dari jebakan itu,” jelasnya.

“Dan menikmati hidup?” saya memastikan.

Yes, yes, enjoying life!” ia mengiyakan.

Setelah menghabiskan beberapa menit untuk saling menebak umur, akhirnya saya tahu usianya 60 tahun. Saya bilang, ia terlihat sangat sehat untuk pria seusia itu. Ia menyanggah dan bercerita kalau syaraf-syarafnya terganggu. Beberapa bulan lalu, ia didiagnosis menderita Bell’s Palsy. Suatu hari, saat bangun tidur, bibirnya tidak mengatup seperti biasa, melainkan serong ke kiri dan ke kanan. Ia lantas melakukan terapi dan minum vitamin B sejak itu. Ia kaget saya tahu tentang penyakit yang satu itu. Saya lalu bercerita jika seorang teman pernah mengalaminya saat usia 20-an. “Muda sekali. Aneh!” serunya.

Menjelang akhir perjumpaan, ia bertanya tentang apa yang saya cari di pulau kecil ini. Saya berpikir sebentar sebelum menjawab. “Mungkin gedung tua dan unik,” ucap saya sekenanya sambil menjelaskan kalau saya baru mengunjungi kawasan tua Singapura. “Ah, saya tidak bakal mendatangi negara itu. Otoriter,” ujarnya menyamakan negeri jiran itu dengan Kuba.

Sayangnya, pembicaraan kami berhenti tak lama setelah itu dan berakhir saat dia membayari saya makan sore.

“Harga di Thailand dan Indonesia tidak jauh berbeda. Agak lebih mahal di sini,” katanya, “tapi ya sesama Asia.”

“Dasar orang Eropa,” saya berkelakar.

Kami saling berpamitan dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Selepas itu, saya baru ngeh. Sepertinya, ia menanti saya mengungkapkan alasan yang lebih “serius” dari sekadar “melihat gedung tua dan unik”. Memang ada? Tanya saya lebih jauh dalam hati. “Tentu ada,” saya yakin benar, meski mungkin belum bisa mengekspresikannya lewat kata.

Tapi.. sudahlah.

Jakarta, 4 Maret 2016

Advertisements

Author: dnuraini

A part time writer. A full time friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s