Dia Hakiki dan Kita Tidak

532
Tanjung Lesung, 2015

 

Pada akhirnya, kita akan menyerah pada perubahan. Sebab dia yang hakiki dan kita tidak. Betapapun tak disuka, perubahan—sekecil apapun—akan datang dan memaksa untuk mengikutinya. Agar tak layu, agar terus berjalan, agar sesuai.

Tak elok rasanya mengutuki hal yang satu itu, meski tak suka. Apalagi jika ia memang sudah diprediksi sebelumnya. Yang bisa dilakukan cuma satu: adaptasi. Prosesnya bisa jadi tak mudah, malah mungkin memakan waktu yang tidak sedikit dan energi yang besar. Tapi memang bisa apa? Wajib hukumnya.

Siapa yang bilang persahabatan itu abadi? Tidak selalu. Tidak selamanya.

Ketika saatnya tiba, semua akan memilih jalannya masing-masing. Menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Menyisipkan batas yang harus dipahami, meski kadang buram bukan main. Giliran kesadaran yang bekerja keras agar menghindari friksi, meski harus berkorban dengan harga mahal dan menganulir semua yang lalu. Hingga akhirnya, sosoknya akan makin menjauh dan makin mengecil dan hilang sama sekali.

Pada akhirnya, kita akan menyerah pada perubahan. Sebab dia yang hakiki dan kita tidak.

Jakarta, November-Desember 2015