Vakansi Sendiri: Vietnam (2)

Kalau ditanya, kawasan mana yang paling saya sukai waktu vakansi ke Vietnam? Saya bakal jawab Mũi Né dan Da Lat. Bukan nggak punya hati buat yang lain, tapi mungkin karena saya menghabiskan waktu lebih banyak di dua kota itu.

4381

Selamat datang di Mui Ne

Saya ingat benar, waktu itu sudah lewat dari jam 12 dan masuk tanggal 29 Agustus 2015. Sopir bis open tour yang saya tumpangi terus-terusan tanya nama penginapan yang saya singgahi. Berbekal jaringan internet nirkabel yang ada di bis, saya cari nama hotel sekenanya. Memang belum pesan? Belum, dong, hahaha!

Jadi, perjalanan ke Mũi Né ini adalah plan kedua. Rencana awalnya, saya akan menghabiskan tiga hari di Kota Ho Chi Minh supaya punya cukup waktu untuk mengunjungi Terowongan Cu Chi dan Kuil Cao Dai. Tapi saya ragu, sepertinya tidak rela kalau mesti menginap semalam lagi di Saigon, apalagi dengan waktu liburan yang terbatas. Plus, hari pertama di situ, saya mengantar Asuka—perempuan Jepang yang juga jalan-jalan sendiri—untuk beli tiket bis open tour. Dia mantap benar cuma mau berkunjung ke lima kota, termasuk Saigon dan Hanoi. Saya jadi berpikir ulang tentang opsi pertama.

Setelah sesiangan berkeliling di kota paling besar di Tanah Viet itu, saya beli bir dulu, ngaso sambil nanya satu dua penginapan yang mungkin kosong. Sayangnya, semua yang saya incar sudah penuh. Ya sudah, pertanda harus pindah kota. Anaknya semiotik banget memang, percaya pertanda! Jadilah langsung saja pesan bis ke kota pantai yang jaraknya lima jam perjalanan dari situ. Sudah nggak mempertimbangkan bis mana yang bagus dan yang terpercaya, yang penting bisa pindah kota.

Di perjalanan, saya mencoba menghubungi beberapa hostel (miskin!) lewat email dengan pertimbangan tidak semua tempat punya fasilitas check-in 24 jam. Tapi nihil. Saya, sih, tenang-tenang saja. Kalau nggak dapat hostel, tinggal nongkrong di gerai yang buka sehari semalam. Rupanya, malah bapak sopir yang tanya-tanya melulu yang bikin saya jadi panik. Saat dia menurunkan barang di tempat transit bisnya di Mũi Né, saya ambil tas, bilang terima kasih, lalu kabur, hahaha.

“Sorry, have you reserved a room around here?” begitu kalimat pembuka saya pada seorang wanita berkacamata yang juga turun dari bis. Dia menggendong ransel yang tidak terlalu besar, tapi siapa tahu dia juga pejalan yang kemalaman—seperti saya. Niatnya, kalau dia sudah pesan, saya mau menginap di tempat yang sama.

“No, I will stay in my friend’s house.”

“Do you mind if I walk with you? Or do you know a hostel which still opens at this time?”

“Sure. I know one, not far from here. You can check it later.”

Kami mengobrol sambil jalan ke arah hostel dan dia bilang pernah tinggal dua bulan di Jakarta saat tahu saya berasal dari Indonesia. Penasaran, dong!

“Which part of Jakarta?”

“Ciputat.”

Dia bilang, dia sudah punya firasat bakal mengobrol dengan saya sejak di bis. Mungkin karena lihat muka saya yang kebingungan dan sibuk dengan ponsel cari penginapan, hahaha. Baru lima menit jalan, dia menunjukkan hostel yang dia maksud dan mempersilakan saya tanya-tanya sementara dia mau ke minimarket dulu. Di depan penginapan, dua perempuan backpackers terlihat mengantuk sambil menunggu dijemput bis.

Dan semesta berkati perjalanan ini, saya dapat satu tempat tidur di Mũi Né Backpackers Village. Saat sedang memberikan paspor kepada penjaga hostel, perempuan Ciputat itu lewat. Segeralah saya lari dan mengucapkan terima kasih berkali-kali sambil melambaikan tangan. Dia bilang, semoga saya bisa menikmati perjalanan ini. Manis sekali. Di perjalanan kembali ke meja penerimaan, saya ingat belum tahu namanya. Sedih sekali.

Sebelum tidur, saya dengarkan “Sementara” milik Float dan “Three Little Birds”-nya Bob Marley sembari ditemani sayup-sayup suara ombak. Lega dan bahagia luar biasa karena ternyata masalah teratasi dengan baik. Padahal sebelumnya, saya mengutuki diri sendiri karena kurang perencanaan dan tiba-tiba kangen rumah (sepuluh detik).

4001
Selamat datang di Mui Ne

Kenapa, sih, keukeuh ingin ke Mũi Né? Nggak tahu. Saya ‘kan pergi tanpa perencanaan matang, hahaha. Waktu di Jakarta, cuma tahu kalau itu adalah kota pantai dan punya banyak gumuk pasir.

Pagi hari, saya langsung ke bo ke buat sarapan, nggak peduli muka bantal dan mata bengap kurang tidur. Setelah itu, jalan-jalan tak tentu arah di sepanjang pinggir jalan arteri daerah itu dan cipak-cipuk di pantai belakang hostel sambil menunggu jip yang bakal mengantar ke gumuk itu. Hampir sore, jip datang. Saya pergi bareng tujuh turis lain.

Berdasarkan informasi, perjalanan ke gumuk pertama memakan waktu 45 menit. Tapi belum selama waktu yang ditentukan, kami sudah disuruh turun. Rupanya, ada perhentian pertama, yaitu Fairy Stream. Tiket masuknya 5000 VND. Lanskap itu terdiri dari aliran air (karena menurut saya kurang cocok kalau disebut sungai) dengan bukit bebatuan di kanan kirinya. Pengunjung disarankan untuk lepas sepatu ketika menyusuri sungai. Jadi, anggap saja refleksi dan lulur kaki karena di dasar aliran itu ada tanah dari bukit pasir.

500
Ini yang disebut Fairy Stream

Selanjutnya, sand dunes. Ada dua yang saya kunjungi, yaitu gumuk putih dan merah. Paling suka yang putih, pasirnya halus sekali dan utopis, hahaha. Namanya bukit pasir, pasti panas. Banget! Persinggahan itu masih meninggalkan kegosongan di dahi dan pundak saya sampai sekarang, tiga bulan setelahnya. Yang kedua adalah yang warna merah (oranye!). Yang bikin takjub, sih, karena tidak jauh dari situ ada pantai. Agak mengherankan memang lanskap kota ini.

554.JPG

564
Ini dia White Sand Dune
646
Tutup sesi jalan-jalan di Red Sand Dune

Malam kedua, saya pindah menginap karena hostel tadi malam penuh. Kali ini, saya justru menginap di bukit. Setelah berenang di bawah sinar purnama, saya makan malam di restoran yang berada penginapan versi lebih mahal dari Mũi Né Hills Budget Hotel yang saya tinggali. Tapi harga makanannya tetap murah! Pho dihargai 30.000 VND dan Bia Saigon dijual mulai harga 10.000 VND. Di situ, ngobrol sampai larut dengan sang manajer restoran yang orang Belanda dan Keith, traveler dari Afrika Selatan, yang baru mengunjungi Bali. Sebenarnya masih ingin tambah satu gelas gin & tonic (50000 VND segelas besar), tapi harus bangun setengah 6 pagi  untuk naik bis ke kota selanjutnya.

Jakarta, November 2015

 

Advertisements

Narasi Negatif

Kau tahu, kebencian itu bisa membunuh. Bahkan ketika kau tak menginginkannya: menginginkan kebencian itu ataupun menginginkannya membunuh. Senyatanya, dia kerap tumbuh malu-malu, datang tanpa tak diundang, dan menyulut ke sana kemari dengan semena-mena.

Atau memang itu yang sesungguhnya diharapkan?

Ah, tapi siapa yang ingin diliputi benci? Toh, itu tak benar, ujar norma. Tidak boleh membenci, itu yang kau dengar sejak masih kecil, bukan? Tidak ada yang benar dan sehat dari kebencian, begitu kata si bijak.

Lalu ketika kau membenci, apa yang akan kau lakukan? Membiarkannya bersarang dan berkelindan hingga mengakar? Atau berbalik membunuhnya perlahan? Tapi bukankah membunuh juga adalah hal yang jahat?

Sebenarnya, hidup akan terlalu menyedihkan jika hanya dipakai untuk membenci. Tapi terkadang mungkin harus dilakukan, demi satu alasan logis: kewarasan diri.

Jakarta, Oktober 2014 – November 2015